Chapter 1: Kembali ke Masa Lalu

102 2 0
                                        

Masih ingatkah kamu, bagaimana cara kita dipertemukan oleh sang waktu...
Mungkin menurut mu kita dipertemukan hanya karena sebuah kebetulan semata
Mungkin juga menurut mu kita dipertemukan hanya untuk bertemu lalu pergi...
Namun, kurasa kita dipertemukan bukan karena sebuah kebetulan
Dan kita dipertemukan bukan hanya untuk bertemu dan berlalu
Namun kita dipertemukan untuk kita bisa belajar apa arti dari sebuah rasa..
Mungkin itu hanya aku, bukan dirimu
Entah 'iya' ataupun 'tidak'.
                             ***

Aku masih duduk termenung disebuah kursi panjang yang terletak disamping kolam ikan, disebuah taman kompleks yang letaknya hampir berdekatan dengan rumah ku. Ditaman itulah aku menghabiskan beberapa waktu untuk berjalan-jalan dan menikmati udara segar ataupun hanya sekedar mencuci mata. Maklumlah, setiap hari aku berangkat kesekolah pukul 06.00 WIB dan pulang pada pukul 14.00 WIB. Itupun jika nantinya tidak ada kegiatan-kegiatan lain seperti ektrakulikuler ataupun kelompok. Lebih sering tepatnya aku pulang pada sekitar pukul 16.30 WIB. Aku pun juga jarang menikmati libur hari minggu. Setiap hari aku disibukkan dengan pekerjaan sekolah yang selalu menumpuk di meja kamarku. Jadi tak ada salahnya jika aku menikmati hari-hari longgar ku disore hari untuk sejenak menghilangkan penat yang menjadi beban di pikiran ku.

Namaku Sasa Tatavensia Ervira. Ini tentang kisah ku dalam hal cinta masa remaja. Masa saat aku baru berusia belasan tahun. Masa dimana aku baru mengenal kata cinta namun tak tau apa arti sebenarnya dari kata cinta tersebut. Aku bukan yang lain, aku juga bukan seperti yang lain. Kisah ini dimulai saat aku masih berada dibangku Sekolah Dasar.

Ini adalah tentang hari pertamaku memasuki sekolaha baru di kelas 2 SD. Kebetulan aku adalah murid pindahan dari daerah Bandung. Ya, aku adalah murid pindahan karena disekolah yang lama aku sempat tidak naik kelas saat berada dibangku kelas 2. Karena hal itu, jadi terpaksa aku harus mengulangnya kembali. Aku mengulang sekolah itu di daerah Bali.

Kriiing.. Kriiing.. Kriiing.. Kriiing

Bel tanda masuk pun berbunyi. Dan aku memasuki ruang kelas bersama seorang teman yang aku kenal. Ya, dialah Vani, satu-satunya teman yang aku punya dan aku kenali karena dia adalah teman sekaligus tetangga depan rumah ku sendiri. Aku pun juga duduk sebangku bersamnya, tepat di bangku pojok paling belakang nomor dua dari sebelah kanan. Waktu itu aku tak mengenal siapapun. Semua orang nampak sangat asing dimataku. Tatapan mereka, seakan menandakan bahwa mereka tak menyukai kehadiranku.

Namun tak lama setelah itu, bu Yeni pun datang. Dia adalah seorang wali kelas sekaligus yang menagajari kami semua pelajaran. Ya, semua pelajaran kecuali pelajaran olahraga dan, Pendidikan Agama. Waktu itu ia menyuruhku untuk memperkenalkan diri didepan kelas. Awalnya aku tak mau untuk memperkenalkan diriku didepan kelas. Malu, itulah hal pertama yang menjadi biang penyebabnya. Aku memilih bergeming untuk tetap berada diposisi tempatku duduk dan tak menghiraukan perkataannya. Setelah ibu Yeni beberapa kali memerintahku, akhirnya dengan rasa malu-malu aku maju kedepan menuju samping ibu Yeni. Sambil ditemani perasaan gugup yang luar biasa, aku pun memulai memperkenalkan diriku. Disaat itu, aku merasa sangat takut dan sangat takut. Aku melihat berpuluh pasang mata yang melihatku, dan memerhatikanku dengan sangat.

Tak lama setelah memperkenalkan diriku, akhirnya aku memilih untuk cepat-cepat mengakhiri perkenalan tersebut. Aku tak tahan dengan semua pandangan mereka.
Aku sama sekali tak tau apa arti dibalik tatapan itu. Namun yang pasti bagiku, aku merasa tatapan itu bagai hendak mencengkeramku, memangsaku, dan membunuhku.

Setelah lama aku menghadapi badai konflik dihari pertamaku, akhirnya bel tanda pulang pun berbunyi. Aku sangat senang mendengar hal itu, karena itu lah yang aku nantikan semenjak tadi.

Sebelum pulang, kami pun berdoa terlebih dahulu dilanjutkan dengan menyalami dan mencium tangan pahlawan tanpa tanda jasa. Itulah rutinitas kami saat hendak pulang. Dan hal itulah yang dapat menumbuhkan rasa hormat kami kepada orang tua di sekolah.

Ku Tunggu Hadirmu Dalam DiamDes histoires addictives. Découvrez maintenant