prolog

64 5 4
                                        


Seorang gadis berlari tak tentu arah, menerobos hembusan angin malam yang menghantam tubuhnya. Menyingkap setiap helai rambut panjangnya. Kakinya seakan tak lelah berlari meski alas kaki tak utuh lagi.

Kecepatannya terus terpacu, sesekali ia menoleh ke belakang. Raut ketakutan tercetak jelas di wajahnya. Semakin jelas saat seorang pria dengan sebilah pisau terus berjalan mendekat.

Kakinya terasa mati rasa juga lagi tak mampu menompang berat tubuhnya. Pria asing yang mengejarnya semakin mendekat, menampakan smirk menyeramkan kala tertepa sinar rembulan.

Gadis itu berusaha mengindar meski tak mampu lagi berjalan, tak peduli jika harus merangkak. Air mata tak henti mengalir deras membasahi pipi meronanya. Pakaian tak lagi tampak warna melainkan noda sebagai hiasannya.

Dengan kasar pria tersebut menarik rambut gadis yang sudah terkulai lemas. Menghadirkan rintihan kesakitan mengisi malam mencekam. Perlahan tapi pasti, bilah pisau tajam bergeser. Tepat di jantung kehidupan seorang manusia. Menangis gadis itu sejadi jadinya. Mengingat kematiannya sangat tragis. Perlahan tangan pria itu mengayun ke atas, siap mengunus hingga dalam. Yang dilakukan sang gadis hanya memejamkan erat matanya, menanti malaikat mautnya.

Niat pria itu runtuh seketika. Saat sesuatu menghantam tangannya, melontarkan pisau pada genggamannya. Muncul dari sudut gelap seseorang dengan jaket hitam juga wajah yang tertutup tudung hingga hanya bibir yang tampak oleh mata. Menyunggingkan senyum miring terkesan mengerikan.

Tak lama ia menendang pria itu hingga cengkraman pada sang gadis terlepas. Dengan cepat sang gadis mencari posisi aman.

"Bermainlah denganku psikopat!" gumam orang itu, terdengar samar di telinga si gadis.

Tak tinggal diam pria itu melawan namun sedang mudah di tangkisnya. Kembali membalas, hasilnya nihil, ia memutar lengan pria itu hingga tercipta gemeretak tulang yang seakan remuk. Ia semakin menunjukan evil smilenya. Tangan si gadis tak henti menjadi pembatas antara mata dan pemandangan mengerikan di depannya.

Setelah pergulatan hebat, pria itu terkapar tak berdaya di tanah. Dengan santai pria itu melewati gadis yang baru saja ia tolong. Merasa canggung, sang gadis berteriak memanggil. Dengan malas pria itu menoleh.

Bukan senyum yang menyapa melainkan wajah terkejut yang menyambut. Sekencangnya orang itu berlari, memutar posisi menghalanfi gadis itu dengan tubuhnya.

Mata sang gadis membulat, terkejut menyadari ada cipratan darah menodai pakaiannya. Beralih menatap orang di hadapannya tengah menutup mata. Tangan sang gadis meraba asal cipratan itu. Semakin terkejut kala cairan kental darah menyelimuti telapak tangannya. Tangisnya kembali menanak sungai, menciptakan mata sembab yang kian menjadi.

Seakan tak merasa sakit, ia berbalik. Dengan lihai tangannya memutar penuh kepala si pria hingga tak di posisi semestinya. Dengan pisau yang menciptakan luka di tubuhnya, ia tusukkan hingga dalam ke rongga mulut pria yang sudah meregang nyawanya beberapa menit yang lalu. Membuat darah semakin banyak tergenang.

Tak berselang lama dari apa yang ia lakukan, tubuhnya ambruk membentur tanah. Membuat sang gadis kelimpangan. Bingung harus melakukan apa. Bibir indahnya mulai berteriak mencari pertolongan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Sedikit gemetar. Rasa takut kembali menyergap. Di bawah sinar rembulan, akan ada yang berubah.

TBC...

Alena kembali menumpahkan ide.
Semoga cerita yang kedua seru.
Padahal project yang pertama aja belum selesai...hehehe.

Happy reading..

pysho-pathWhere stories live. Discover now