Diam-diam Dion memandangi Nayla dari kejauhan seakan tersihir. Dia tidak sadar sudah berapa lama berdiri mematung disana. Tak kuasa dia mengalihkan pandangan dari sosok gadis pemalu itu. Dion sendiri merasa aneh karena dari sekian banyak siswi di sekolah ini, hanya gadis yang berpenampilan cupu itu yang mampu mencuri hatinya. Padahal di sekolah ini banyak sekali siswi cantik yang terpikat pada Dion.
Siapa yang tidak suka dengan Dion? Selain ketua OSIS yang berotak encer, postur badan Dion yang atletis dan wajah yang tampan tentu saja membuat banyak para siswi tergila-gila padanya. Apalagi Dion juga supel dan ramah. Tapi Dion sama sekali tidak peduli meski teman-temannya mengejek penampilan Nayla yang sama sekali tidak menarik. Dion merasa dirinya ingin selalu dekat dengan Nayla dan melindungi gadis yang sering dibully teman-temannya ini.
"Hai Dioon!"
Sebuah suara cempreng dan tepukan keras di bahu Dion membuat dia terperanjat hingga membuyarkan semua lamunannya. Tiba-tiba saja Cindy sudah berdiri tepat di samping Dion dengan senyum dikulum dan mata yang berkedip genit. Di belakangnya terlihat Siska dan Deby yang selalu setia mengikuti kemanapun Cindy pergi. Dion langsung menampakkan wajah sebal ketika melihat si anak Jenderal yang terkenal sombong di sekolah itu. Cindy yang memang sangat suka dengan Dion semakin mendekat dan merapatkan tubuh pada Dion. Serta merta Dion mengerenyitkan dahinya dan beringsut menjauh dari Cindy, seolah-olah takut gadis itu akan menularkan penyakit padanya.
"Iih, Dion. Kok kamu gitu sih?" Cindy langsung mengerucutkan bibir mungilnya. Muka cantiknya terlihat merajuk ketika Dion terang-terangan menjauhi dirinya.
"Ada perlu apa Cin?" nada suara Dion terdengar datar. Dia ingin Cindy dan kedua temannya segera beranjak menjauhinya.
"Kamu barusan lagi ngelihatin siapa sih? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Cindy dengan tatapan penuh selidik. Sepertinya gadis itu curiga melihat mata Dion yang berbinar-binar dan tersenyum, pandangnya tertuju ke seberang lapangan basket. Di seberang lapangan itu sejumlah anak perempuan terlihat sedang berdiri berderet sambil memberi semangat tim basket favoritnya.
Dion langsung terlihat gugup. Keningnya terlihat berkeringat. Tidak menyangka Cindy tadi memperhatikan tingkahnya. Dion berharap Cindy tidak tahu bahwa dia sedang memperhatikan Nayla di seberang sana. Oh tidak! Nayla masih tetap ada disana, sedang berdiri memperhatikan teman-teman sekelasnya yang sedang bermain basket. Saat ini dia berada tepat di seberang Dion berdiri sekarang.
"Jangan-jangan kamu lagi ngelihatin Si Cupu murid baru itu ya?" tanya Cindy langsung mengagetkan Dion. Celaka! Cindy bisa menebak apa yang ada di pikirannya!
"Apaan sih? Udah ah, aku mau ke kelas." elak Dion seraya bergegas pergi meninggalkan Cindy.
"Dion... Diooon!" panggil Cindy. Dia merasa kesal karena Dion tidak mengacuhkannya dan tiba-tiba saja meninggalkannya. Cindy merasa yakin dengan tebakannya bahwa Dion sedang memperhatikan Nayla si gadis cupu itu.
Cindy mengepalkan tangannya karena merasa kesal kepada Nayla.
"Awas kamu Nay!" ujar Cindy geram.
***
"Hei Cupu, sini kamu!" Cindy membentak sambil berkacak pinggang. Seorang gadis tampak ragu-ragu berjalan mendekati Cindy. Matanya terlihat seperti sedang mencari sesuatu di bawah. Wajahnya tertunduk, sama sekali tidak berani menatap Cindy karena takut.
Melihat gadis itu ketakutan, Cindy bukannya merasa kasihan. Dia malah merasa di atas angin dan semakin berani memarahi gadis yang dianggapnya sudah merebut perhatian Dion, cowok incarannya.
"Heh, ngapain kamu deketin Dion? Sok kecakepan aja, ngaca dong kamu!" ujar Cindy sambil mengangkat telunjuknya tepat di depan muka Nayla.
"Kacamata aja udah setebal toples, mana mau Dion sama kamu?" cecar Cindy. Dia merasa sangat puas karena sudah berhasil memojokkan Nayla, murid baru di sekolah ini. Nayla semakin menundukkan kepalanya, bulir air mata mengambang di sudut-sudut matanya. Perasaannya sungguh hancur. Baru saja dia merasa bahagia karena diantara sekian banyak murid di sekolah ini, hanya Dion serta sahabat barunya, Ina yang terlihat mau bersahabat dengannya. Temannya yang lain sepertinya enggan mendekati, sebagian yang lain malah membully dirinya.
