IMPIANKU

67 4 8
                                        

Impianku bukan hanya sebatas biji jagung, tapi impianku seluas samudra.

Kalian pernah bilang padaku, kalau impianku terlalu besar. Menurutku kalian saja yang berpikirnya terlalu kecil...(author)

~****~

Panasnya sinar matahari bagaikan satu senti dari bumi, dengan bercucuran keringat yang mengalir deras pada diri seorang remaja. Dengan semangat juang dia selalu mangayuh sepeda demi mencapai impiannya yang murni. Ya, Bayu lah namanya. Yang terlahir dari keluarga miskin yang kini tinggal bersama kedua adiknya.

Bayu mengarungi jarak 15 km itu dengan naik sepeda ontel setiap hari, dengan jalan yang penuh liku-liku dan bebatuan. Bayu seorang remaja dari 3 bersaudara. Tentu saja, Bayu harus bangun pagi-pagi sebelum ayam berkokok, mandi, shalat, mengaji dan mempersiapkan makan. Walau 1 piring, 3 bersaudara ini memakannya dengan lahap. Mereka bersyukur masih bisa merasakan nikmat Allah SWT.

"Gadis..Iwan..! ayu kita berangkat." ajak Bayu pada kedua adiknya.

"Iya ka..." teriak bersamaan.

Dengan lingkungan yang di kelilinggi oleh warga yang tidak mempedulikan pendidikan, dirasakan oleh Bayu, Iwan dan Gadis, pada saat mereka keluar dari rumah dengan berpakaian sekolah.

Mereka mendapat cemohan dari warga setempat, "Percuma kalian sekolah tidak ada gunanya juga,"kata salah satu warga yang berpakaian seperti petani dengan muka menghina.

"Sebaiknya, kamu mencari uang untuk menafkahi ADIKMU!" potong tetangga sebelahnya dangan menekan kata 'adikmu'.

3 bersaudara ini menerima cemohan warga setempat itu dengan senyum, " Alhamdulillah, saya akan bekerja untuk menafkahi adik saya. Tapi, setelah pulang sekolah."tegas Bayu "karna pendidikan sangat penting buat kita. Pa Bu kami bertiga permisi, Assalamualaikum."3 bersaudara ini pergi meninggalkan warga yang berkumpul.

Beberapa hari telah berlalu. Kini Bayu mengikuti lomba CC(Cerdas Cermat) tingkat provinsi untuk SMA sebagai perwakilan sekolah. Dengan prestasi dan ketekunannya dalam pendidikan dia mendapatkan juara 1. Pada saat itulah Bayu bermimpi untuk menghidupkan kembali semangat para warga Desa Gerabah.

Bayu igin membuktikan kepada warga desanya kalau pendidilan sangat penting bagi kita, anak dan cucu.

"Kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa menghantarkan Indonesia menjadi Negara yang maju."ucapnya mantap dalam hati.

****

Lonceng yang di tunggu telah berbunyi. Kini saatnya Bayu dan Gadis pulang. Setelah mengantar Gadis pulang, Bayu dan Iwan langsung pergi mencari uang. Pekerjaan yang dilakukan kaka beradik ini bermacam-macam salah satunya menjual koran. Walau penghasilannya tidak seberapa, namun dengan semua ini mereka bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari. Dalam sikap ini bayu begaikan pemimpin bagi kedua adiknya.

Saat lampu merah berlangsung, di sinilah kesempatan Bayu dan Iwan menjajakan dagangannya. Di perempatan jalan Iwan melihat anak seumuran dengannya. Anak itu duduk di pinggir jalan dengan tangan yang menegadah. Dilihatnya anak itu dengan lekat-lekat, pakaiannya sobek dan kotor sekali. Wajahnya penuh dengan debu, namun tertutup dengan senyumnya yang manis.

"Kabayu, liat deh anak itu!" Bayu melirik kearah yang di tunjuk Iwan.

"Anak perempuan itu?" Iwan mengangguk."kenapa denganya?"tanya Bayu penasaran.

"Kita beruntung ya ka, karna kita masih bisa sekolah, sedangkan dia..."

"Sebab itu kita bersyukur, karna kita mendapatkan kesempatan duduk di bangku sekolah,"potong Bayu " dan kamu rajin-rajin belajar agar kamu jadi anak yang pinter."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 08, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

IMPIANKUWhere stories live. Discover now