Bukan Tupperware

43 3 1
                                        

Siang itu, aku ke kost Lylo, kawann kelasku. Kostnya ada di sekitar kampus, tepatnya di Samirono.

Aku kesana setiap jam kosong kuliah. Alasannya, karena kostku jauh dari kampus, kostku ada di Condongcatur. Dari kost ke kampus pakai Legenda.

Lylo cerita, kemarin katanya Fikra main, trus pinjam pisau cukurnya, katanya.

Pisau cukur yang Fikra pakai, biasa Lylo pakai buat mencukur itu, katanya.

Karena penasaran aku tanya, itu apa, buat apa, kataku.

Aku ngakak dengarin cerita Lylo

Saat tawaku reda, aku bilang ke Lylo, udah nggak apa-apa, udah kamu cuci ini.
---
Merasa punya cerita yang serupa, aku gantian cerita.

Dulu, waktu aku ke Merbabu, aku bawa gelas plastik. Saat itu belum ada Tupperware. Mungkin sudah ada, tapi belum terkenal atau akunya aja yang nggak tahu. Gelas itu selalu aku bawa, kemana pun aku pergi. Buatku, gelas itu simple, praktis dan serbaguna. Bisa dipakai buat bikin teh, bikin kopi, tempat jus atau yang lain, sesuai kebutuhanku saat itu.

Aku lebih sering pakai gelas itu buat bikin kopi. Kopi aku seduh pakai air panas, diaduk rata dan aku tambah es batu. Gelasnya ditutup, terus dikocok-kocok seperti blender.

Gelas itu bukan cuma buat tempat minum, tapi juga sebagai blender dan gayung.

Waktu mendaki di Merbabu gelas itu beralih fungsi jadi gayung. Misalnya, saat aku buang air kecil, aku pakai gelas itu sebagai gayung.

Aku kebelet, aku pergi ke semak, aku dikejar kera liar. Akhirnya, aku pun meminta kawanku untuk balik badan.

"Mas, tolong hadap sana bentar, aku kebelet nih. Jangan nengok lho ya, kalau aku bilang belum selesai." pintaku.
--
Malam datang, api unggun nyala. Aku lihat, gelas itu dipakai kawan-kawanku buat minum kopi. Aku nahan tawa melihatnya.

 

Bukan TupperwareWhere stories live. Discover now