Sebuah Panggilan

91 3 0
                                        

-Palangka Raya, 29 Juli 2017

Sebuah panggilan mengusik ku. Terpampang jelas namanya di layar handphone. Ragu tuk menjawab, maka kubiarkan berakhir dengan sendirinya. Tapi kembali lagi sebuah panggilan masuk. Ku beranikan diri tuk menjawab.
"Hallo" ah suara yang lama tak ku dengar.
"Ya?" Hanya itu yang dapat keluar dari mulutku.
"Lagi dirumah?"
"Ah iya, ini udah dirumah"
"Pulang kapan?"
"Udah hampir seminggu yang lalu"
"Oh gitu, lagi apa? Aku ganggu?"
"Eng... engga kok, lagi nyantai aja di depan rumah"
Dan berlanjutlah pembicaraan-pembicaraan yang menghangatkan hati. Entah menguap kemana segala keraguan ku tadi.
Ia adalah sosok pria yang selalu ku tunggu telponnya ketika aku pulang. Cukup sering kami berbagi cerita dibeberapa panggilan ketika aku di rumah. Ketika aku tak berada di kota ku kami tak pernah berkomunikasi, hanya sekedar saling meleparkan tanda 'love' di salah satu media sosial yang kami punya. Pun bila aku pulang, tak pernah ada janji untuk saling bertemu. Hanya terkadang dibeberapa tempat kami secara tak sengaja bertemu dan bertegur sapa. Tapi yang ku tahu, ia sosok pria yang dapat diandalkan. Ia cukup bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Tindakan dan ucapannya selaras. Sosok yang cukup membuat ku kagum beberapa tahun terakhir.
Aku tak cukup mengerti bagaimana cara menjelaskan tentang hubungan ini. Salah satu di antara kami pun belum pernah ada yang mencoba untuk meluruskannya.
Aku tak cukup tau bagaimana jelasnya perasaan ini. Salah satu di antara kami belum pernah ada yang mencoba untuk memberitahu bagaimana perasaan yang dirasakan.
Belum pernah ada pertanyaan yang terucapkan. Hanya mengikuti alur.
Ia ada tapi tak ada.
Ia tak ada tapi ada.
Entahlah, terkadang aku ingin tertawa sendiri hingga meneteskan beberapa tetes air mata tanpa ada alasan yang jelas.
Orang bisa saja menjadi bodoh ketika menyangkut hal perasaan. Karena dalamnya perasaan tak sedalam samudra yang dapat diukur. Karna perasaan tak seperti matematika dan fisika yang dapat dijabarkan melalui rumus. Tak seperti pelajaran bahasa Indonesia yang dapat dikarang.
Tapi yang ku tahu, aku cukup menikmatinya.
Masa-masa dimana aku merindukan telponnya di kota rantau.
Masa-masa ketika aku ragu menjawab panggilan mu.
Masa-masa ketika aku gugup karna tak sengaja bertemu.
Masa-masa dimana aku kebingungan dengan hubungan ini.
"Ah, udah sore ternyata" keluhnya diseberang sana.
"Haha iya ngga berasa, untung si ibu udah neriakin nyuruh mandi" ledek ku.
"Iya, ibu mah kaya gitu mulu. Anaknya udah segede ini juga masih diteriak-teriakin. Disuruh mandilah, makanlah, inilah, itulah" omelnya
"Hush, namanya aja ibu. Sebesar apapun kamu, dimatanya kamu tetap anak kecil. Udah cepetan mandi sana, nanti diteriakin lagi"
"Ini nih yang aku suka dari kamu. Yaudah aku mandi dulu. Nanti lagi ya telponannya. Selamat sore." Tanpa memberiku kesempatan untuk membalas diakhirinya pembicaraan kami sore itu.
Blush..... seketika pipi ku memanas, merah padam. Apa tadi? Suka? Ia suka? Hey, katakan padaku kamu pun mendengarnya. Kamu dengarkan apa yang ia ucapkan?

Kisah SingkatStories to obsess over. Discover now