Surat Merah Muda
Cerpen Umi Farika
"Romeo dan Juliet tidak pernah merasakan seperti yang kita rasakan. Kamu harus tahu, Una sayang. Bahwa seperti Adam dan Hawa, sepertinya tragedi adalah takdir kita," itu adalah kata-kata terakhirnya yang bisa kuingat sebelum ia mati. Sebuah peluru berkaliber berat bersarang di kepalanya. Percikan darah muncrat di wajahku, dan semua orang menjerit histeris.
Sebentar, aku ingin meluruskan ceritaku. Sudah lama sekali aku ingin bercerita, dan baru kali ini berhasil merealisasikannya kepada kalian, teman-temanku sekalian. Aku tidak berniat macam-macam, tidak pula ingin membuat sensasi atau mencari perhatian. Hanya saja, sepertinya aku sudah terlalu lama sendirian. Aku iseng ingin bicara dengan kalian lewat cerita yang singkat ini. Kumohon teman-teman bersedia mendengarkan, karena saat ini aku benar-benar tidak punya teman dan kesepian.
Jadi begini ceritanya. Agar terdengar mirip dengan namaku, mari kita panggil pemuda malang itu dengan nama panggilan Uno. Oh ya, sebelumnya perkenalkan. Una, begitulah orang-orang memanggilku.
Nama asli kekasihku yang malang itu menurutku jelek dan kampungan, Gatot Arjuno. Bapaknya mengharapkan ia sekuat Gatotkaca dan setampan Arjuna. Untungnya, doa bapaknya diijabah Tuhan sehingga ia tidak keberatan nama. Aku tidak mengubah namanya, karena Uno merupakan bagian dari namanya, ya kan? Karena tidak mungkin kan, Una-Gatot disandingkan dengan nama-nama seperti Rama-Sinta atau Damar-Wulan atau Galih dan Ratna atau Adam dan Hawa. Intinya teman-teman, kita panggil saja kekasihku yang malang itu dengan nama Uno. Dia tidak memiliki hubungan kekerabatan apapun dengan Sandiaga Uno.
Uno adalah lelaki yang kusayangi dengan labil dan kekanak-kanakan. Teman-teman, aku merasa aneh menyebut Uno sebagai seorang lelaki. Usianya baru tujuh belas dan aku pun baru jalan enam belas. Tapi ya sudahlah, memang seperti itulah aku menganggapnya. Uno adalah lelaki yang paling sejati dari semua lelaki yang pernah ada. Menurutku, tidak ada yang lebih lelaki pada setiap diri lelaki dari pada kelaki-lakian yang ada pada diri Uno.
Teman-teman, aku masih ingat pada suatu hari di sekolah, sebuah momen pandangan pertama yang menggetarkan. Di sebuah sudut di sekolahanku, aku mendapatinya sedang memperhatikanku dengan sorot mata yang ganjil. Aku melontarkan tatapan pertanyaan apa yang sedang dilihatnya. Dia hanya tersenyum saja, menjawab tanpa jawaban. Sempat kulirik senyumnya. Senyum yang menawan dan kusukai. Sesaat kemudian, pandangan kami bertemu, mengantarkan kami pada sebuah momen paling manis dan nikmat sehingga dunia seketika berubah menjadi merah muda.
Dia adalah jenis anak yang tampan dan seorang yang populer di SMA kami. Tidak ada alasan bagiku untuk mengabaikannya. Wah, betapa beraninya seorang adik kelas ingusan mencampakkan Uno! Mungkin seperti itulah yang akan dipikirkan seisi sekolah jika aku menganggapnya sambil lalu. Singkat cerita, ia datang ke kelasku dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Tidak ada lagi murid senior perempuan yang sadis dan kejam berani mengusiliku, bahkan aku mendapatkan kemudahan dalam seleksi anggota grup gerak dan lagu –grup yang sangat keren dan prestisius di sekolahku waktu itu.
"Sesungguhnya saya bukan tipe orang yang suka mengungkapkan perasan di depan umum seperti kejadian di kelasmu waktu itu." kata Uno pada malam Minggu pertama kami di sebuah pantai yang misterius dan sepi. Ombak berdebur mengerikan digiring angin laut yang lengket asin.
Kami berada di ketinggian menara mercusuar dan aku ketakutan setengah mati. Hanya sosok menawan dan ganteng ini yang membuatku bersikeras sok-sokan berani di atas ketinggian. Kupikir aku akan mendapatkan momen berbau keromantisan di tempat-tempat seperti itu.
Aku bertanya, "Lalu, mengapa kamu melakaukannya?"
"Saya hanya ingin membuatmu terkesan dan tidak punya pilihan selain berkata 'ya.'"
