Prolog
Di bandara Samratulangi manado, Kiki seorang diri menunggu kedatangan sahabat masa kecilnya, Ratih. Mereka berdua sejak kecil sudah bersahabat, dan tak terpisahkan. Hingga pada suatu hari, mereka dipisahkan karena Ratih harus bersekolah di luar Manado, tepatnya di Jakarta, saat mereka lulus dari SD, Kepulangan Ratih dari Jakarta menjadi Moment yang ditunggu-tunggu oleh Kiki, Ratih pulang untuk bersekolah di Manado.
"Katanya Jam 9 pagi udah sampai, kok belum nongol tu anak" gumam Kiki sambil melihat jam tangan pemberian Ratih tahun lalu yang dikirim lewat Pos.
Kiki sejak pukul 8 pagi sudah ke bandara agar tidak telat menjemput Ratih pulang dari Jakarta, dengan sabarnya ia menunggu, beberapa menit berlalu, orang-orang yang berlalu-lalang jadi pemandangan yang membosankan bagi Kiki, ada bule dari Eropa dan ada juga yang dari Korea. Bandara adalah tempat di mana terjadinya pertemuan dan perpisahan, Kiki pernah merasakan Perpisahan di sini waktu itu Kiki mengantar Ratih, dan sebentar lagi ia akan merasakan pertemuan dengan orang yang sama.
Setengah jam berlalu, HP Kiki bergetar di ikuti suara merdu Boyce Avenue yang mengcover lagunya The Script, For The First Time. Dilihatnya layar HP, tertulis nama Ratih memanggil, dengan cepat Kiki menerima panggilan Ratih.
"Iya, Halo?" ucap Kiki.
"Gue udah sampai nih, lo di mana?"
"Gue di..." Kiki terdiam, dia tidak tahu apa nama tempatnya sekarang.
"Di mana?"
"Tunggu bentar, gue Tanya orang dulu"
"Udah-udah nggak usah, manja banget pake acara nanya orang, bikin malu tau" jawab Ratih sewot.
"Gue yang malu, kenapa lu yang sewot?"
"Lu tuh dari dulu nyebelin banget ya? Gue balik lagi nih ke Jakarta!"
"Eh-eh jangan... jangan dong, gue kan udah lama nggak ketemu lo, Rat."
"Udah, lo aktifin lokasi di HP lo, entar gue lacak keberadaan lo"
Klik! Ratih memutuskan panggilan.
Beberapa saat kemudian Ratih muncul dari samping Kiki. "Woy?" Ratih menepuk pundaknya Kiki.
"Ratih? Ini lo kan?" Kiki agak terkejut.
"Iya ini gue lah, siapa lagi?" Ratih tersenyum.
Kiki tertawa. "Lo kok nggak berubah-berubah? Dari dulu badan lo kurus kering kayak gini" kata Kiki. "Cuma rambut lo doang yang berubah, lebih panjang"
"Lo kok ngomong gitu? Minta di tonjok lo?" kata Ratih sambil menyodorkan tangannya yang di kepal ke arah Kiki.
Ratih adalah tipe cewek yang tomboy, sejak kecil penampilan Ratih persis seperti laki-laki, rambutnya, tapi sekarang rambutnya panjang, celananya, bajunya, di rumahnya hampir tidak ada rok, hanya rok sekolah yang ada.
"Eh ampun deh, ampun. Lo dari dulu nggak berubah, masih tangguh"
"Gitulah, selama gue di Jakarta, gue ikut bela diri."
"Bela diri apaan? Paling-paling mentok di Karate doang, itupun Cuma nyampe di sabuk hijau doang" Kiki mengejek Ratih.
Ratih tertawa geli mendengar kata-kata Kiki yang mengejeknya. "Gue bukan Cuma ikut Karate doang, dan gue bukan Cuma nyampe di sabuk hijau" Ratih membuka tas punggungnya, dia mengambil beberapa foto saat ia latihan bela diri. "Lo lihat, ini gue latihan Karate sampai sabuk Hitam, ini gue latihan Taekwondo sampai sabuk hitam, ini gue ikut Muay Thai..."
"Sampai sabuk hitam?" sambung Kiki dengan cepat.
"Sampai ada korban patah rahang, gue berhenti" ucap Ratih sambil menatap serius Kiki.
Kiki menelan ludah dan mengelus rahangnya. "Kecelakaan kecil?"
"Iya, dan gue pelakunya"
"Maksud lo? Lo yang matahin rahang orang?"
"Iya gue" Ratih menjawabnya dengan tatapan yang lebih serius.
Kiki menelan ludah lagi. "Paling cewek korbannya, ya kan?" kata Kiki setengah tertawa remeh.
"Cowok! Dan dia senior gue!"
Kiki menelan ludah untuk ketiga kalinya dan kali ini suara ludah yang tertelan terdengar. "Oh gitu. Keren ya?"
"Iya keren, dan lebih keren lagi gue matahin rahang lo"
"Ha?" Kiki terkejut plus takut.
"Nggak kok, gue bercanda doang, santai ajah, gue nggak mungkin nyakitin sahabat gue."
"Hehehe... oke sebaiknya kita segera pulang, lagian sudah mau hujan, lo kan juga butuh istirahat"
"Iya, Ayo"
Kedua sahabat itu pergi, mereka naik motornya Kiki, sebuah motor FU pemberian ayahnya, motor kesayangannya, jika hujan tiba, Kiki tidak mau motornya basah, dan saking sayangnya sama motornya, Kiki rela berbagi kamar dengan motornya, dengan kata lain, motornya di parkir dikamarnya.
"Keren juga motor lu, udah gaet berapa cewek nih?" Tanya Ratih setengah bercanda.
"Lo kira motor gue magnet gitu?"
"Secara kan? Cowok yang punya motor keren, punya cewek juga"
"Teori lama yang masih dipakai anak muda zaman sekarang"
"Lu punya cewek kan?"
"Nggak"
"Kenapa?"
"Sendiri lebih baik"
"Kata-kata lo ini kayak kata-katanya orang yang patah hati" Ratih menebak-nebak.
"Hmmm..." Kiki hanya bergumam.
"Ki? Patah hati itu obat penguat buat kita kedepannya nanti, percaya deh, semakin lo mengalami yang namanya patah hati, maka lo bakalan lebih kuat lagi"
Mendengar kata-kata Ratih, Kiki teringat seseorang yang setengah bulan yang lalu pergi dari hidupnya, dia adalah sosok wanita yang ia sayangi, yang ia cintai, yang ia kagumi, yang ia jaga sepenuh hatinya, apa daya, setiap hubungan memiliki masanya, dan masa itu tiba. Di mana ia harus kehilangan, wanita itu pergi di jemput seseorang, pukulan yang telak dan cambukan yang begitu perih buat Kiki, semenjak itu terjadi, dia takut mengenal cinta.
"Eh lo gimana kabar? Surat-surat buat pendaftaran di SMK Samratulangi udah di urus?" Kiki mengalihkan pembicaraan, karena pembahasan tentang cinta, bias menjadi suara yang bising di gendang telinganya.
"Udah kok, minggu depan tes, semoga kita lulus bareng buat masuk SMK Samratulanginya"
Kiki tersenyum melihat semangat sahabatnya, terakhir hal yang sama ia lihat saat sebelum Ratih berangkat ke Jakarta, waktu itu Ratih mengatakan bahwa ia pasti pulang dan bias bersama-sama lagi dengan perasaan yang begitu semangat, dan kini dia pulang.
sampai di Prolog dulu ya Guys!
Insha Allah part-part berikut bakalan di Post 2-3 hari sekali (Kalau idenya lancar) heheh.
YOU ARE READING
Love Me As Your Best Friend
Teen Fiction"Cinta itu kuat, saking kuatnya, ia bisa menghancurkan persahabatan yang sudah lama berlangsung"
