Bab 1

4 0 0
                                        

Aku baru selesai menyetrika jilbabku saat sebuah notifikasi Line masuk berbunyi.

Ica : Kalo di depan lorong, line ya 🤗

Me : y


Aku tidak terlalu bersemangat pagi ini, dengan santai berjalan kaki keluar lorong yang lumayan jauh ini. Baru seperempat perjalanan, aku sudah mengirimkan pesan pada Ica bahwa aku sudah sampai di depan lorong. Anak itu salah satu manusia yang menganut sistem ngaret, jadi aku harus berbohong agar tidak menunggu lama nanti.

Membutuhkan waktu 10 menit jika aku berjalan sesantai ini untuk keluar. Dari tempatku ini, aku sudah bisa melihat gadis mungil dengan pakaian Putih Abu-Abu yang membalut tubuhnya di seberang jalan.

Aku hanya nyengir tak berdosa saat dia menghela napas tanda kesal.

"Jam berapa?" sambil menunggu angkot yang lewat, aku bertanya karena terlalu malas untuk mengecek jam di handphone ku.

"6.45" aku hanya mengangguk santai, meskipun begitu, sebenarnya bel sudah sekolah kami berbunyi dari 15 menit yang lalu untuk melaksanakan apel pagi tiap harinya. Dan pagar ditutup jam 6.45.

Jika ini saat dimana aku pertama kali masuk SMA, mungkin aku sudah sangat panik karena takut terlambat, tapi beda halnya dengan sekarang. Hari ini adalah hari kedua masuk untuk semester 4. Seperti kebanyakan siswa(i), semangat cuma pada diawal. Semakin lama semakin molor alias ngaret.

Kami menaiki angkot hanya butuh waktu 2 menit untuk sampai di sekolah. Jaraknya memang terbilang dekat.

Seperti yang sudah sudah, awal masuk sekolah begini belum ada guru piket yang menjaga di gerbang, jadi aman aman saja kami lewat. Aku dan Ica langsung menuju lapangan dan berbaur dengan murid murid yang sudah tampak duduk rapi membaca buku. Literasi. Kegiatan membaca buku selama 15 menit per hari. Katanya supaya menambah wawasan dan entahlah, mungkin pencitraan sekolah.

"Waktu membacanya sudah selesai." Suara guru piket di depan memecah keheningan yang tercipta. Diikuti oleh para murid yang mulai menutup buku. Sesungguhnya mereka tidak benar-benar membaca. Aku sendiri pun hanya membuka buku tanpa melirik isi di dalamnya. Ini hanya kamuflase. Bahkan ada yang berpura pura membuka buku, padahal ia sedang bermain hp dibaliknya.

Mata Ibu Saripa sudah menjelaja mencari mangsa. Dan disaat-saat seperti inilah yang menegangkan bagi kami. Namun helaan napas lega terdengar saat bu Saripa menyebutkan sebuah nama, jelas itu bukan namaku. Disaat saat seperti ini, aku sangat bersyukur tidak menjadi murid yang menonjol dan terkenal.

"Aziyo Ganatera kelas XII IIS 2 maju ke depan bawa bukunya dan sampaikan kepada kami semua apa yang telah kamu baca."

Saat nama itu disebut, suara heboh terdengar dari barisan kelas dua belas. Siswa itu memang terkenal di angkatannya. Setidaknya itu yang kudengar dari orang-orang saat membicarakannya. Aku bahkan belum melihat rupanya seperti apa.

Suara gaduh masih terdengar saat seorang cowok berjalan menuju panggung dengan gaya yang menurutku aneh. Dia terlihat mengumpat tanpa suara kearah teman-temannya yang tertawa heboh. Dia mengusap wajahnya saat tiba di panggung lalu tersenyum lebar ke arah kami semua.

Aku bisa melihat jelas, bagaimana rupa dan penampilannya dari sini. Seragam putih abu-abu yang agak rapi, walau terlihat lecek karena belum diseterika. Namun yang tampak menonjol adalah benda yang bertengger di kepalanya. Dia memakai topi pramuka dihari Selasa ini.

"perkenalkan diri, kemudian sampaikan kepada teman temanmu apa yang kamu baca tadi." Bu Saripa menyerahkan mik yang disambut dengan senyum lebar oleh siswa itu.

"ekhem.. Tes.. Tes.."

"Assalamu'alaikum. Om suastiyastu dan selamat pagi semua. Sebenarnya gue nggak perlu memperkenalkan diri karena gue yakin kalian semua udah tau karena gue famous."

Sorakan dari semua kelas dilemparkan kepada cowok di depan sana. Dengan gaya sengaknya dia kembali berbicara.

"Tenang tenang. Kalian bakal gue kasih selfie dan tanda tangan gratis dari gue. Mumpung lagi meet and greet. Khususnya buat fans gue, Ziyotik." lagi, cowok itu kembali menuai sorakan dan umpatan dari siswa yag lain.

"Turun lo turun."

"sok ngartis, anjir"

"dia adeknya Gotik? Kok namanya Ziyotik?"

"Meet and greet pala lo"

"Gak kuat adek bang."

Aku tidak berkomentar apapun. Aku hanya tersenyum geli mendengar umpatan orang. Ini cukup menghibur menurutku. Mungkin cowok bernama Aziyo Gentara itu orangnya rada gesrek. Salah satu yang diperlukan di sekolah adalah orang orang seperti ini, yang bisa menghidupkan suasana.

Namun bukannya kesal, cowok itu malah membalasnya dengan mengedipkan matanya dengan kecupan-kecupan genit yang dilemparkannya ke arah kami. Beberapa orang melakukan gerakan ingin muntah melihatnya. Dan di sana, cowok itu tampak tertawa ngakak menikmati perbuatannya.

Bu Saripa yang menyaksikan sedari tadi hanya geleng geleng kepala dengan tatapan tajam. Baru saja ia hendak menegur muridnya yang gila itu, namun tertahan saat cowok itu mulai bebicara.

Dengan raut wajahnya yang berubah serius, kami juga tidak lagi bersuara. Memandang fokus ke arahnya.

"Baik, perkenalkan nama saya Aziyo Gentara panggil saja Ziyo. Saya kelas XII IIS 2. Jadi buku yang saya baca pada kesempatan kali ini adalah buku Sumiati dan bebeknya"

Aku dan yang lainnya masih asik memperhatikan cowok yang berbicara itu. Cowok itu mengehela napas sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. Perasaanku tidak enak.

"disini diceritakan bahwasanya, Sumiati sedang pergi ke pasar. Lalu si bebek itu mencari Sumiati yang hilang. dengan berkata "wek wek wek wek wek..Ohh Sumiati wek wek wek wek wek.""

Suasana yang tampak tenang tadi, kini hancur karena nyanyian oleh cowok itu yang sekarang sudah berjoget ria dengan menyanyikan lagu Rihana-work yang diplesetkan.

Orang orang di sekitarku tampak kesal bahkan ada yang melempari Ziyo dengan botol minuman. Namun dengan lincah cowok itu menghindar.

"Wle... Gak kena.. Hu hu hu"

Aku dan orang orang tertawa geli menyaksikan Ziyo. Cowok yang sedang bergoyang itik heboh di atas panggung.

"SEMUANYA MOHON PERHATIANNYA" kami berhenti ketawa saat Bu Saripa merebut mik dari Ziyo dengan ekspresi marah bercampur lelah.

Kami semua diam. Ziyo pun ikut diam. Buguru pun juga terdiam. Sebenarnya kami tidak benar-benar diam, tapi suasana cukup lebih tenang dibanding tadi. Bu Saripa kembali berbicara, menyuruh Ziyo turun lalu membubarkan kami semua untuk ke kelas masing-masing.

Aku berjalan ke arah panggung, dia berjalan ke lapangan. 

Di sinilah kisahku dimulai, saat tak sengaja tatapan kami bertubrukan.

Be Going OnStories to obsess over. Discover now