Gue gak pernah sebelumnya berpikir bahwa kata "kami" adalah kata yang ternyata semenyenangkan itu. Seindah itu, dan seberharga itu. Tapi juga semenyakitkan itu.
"Kami" berdua adalah dua pribadi yang benar2 berbeda. Dia sayang sama hewan apapun; kucing, anjing, badak, dugong air, bahkan kecoa pun dia sayang. Gue? Gue sangat-sangat-sangat mencoba buat mengerti gimana dia bisa secinta itu sama hewan.
Family oriented adalah kata yang paling pas untuk menggambarkan dia. Keluarga nomor 1, orang lain nomor 1000. Dia adalah orang yang bakal nyusurin jalanan sekitar komplek buat nyariin nasi goreng tektek buat kakaknya di jam 3 pagi. Sementara ibu gue butuh sebuah sapu untuk bikin gue beli garem ke warung Bu Rudy depan rumah.
Dia itu unik. Dia akan histeris dan ceramahin siapapun yang nyisain makanan; masih percaya bahwa nasi nangis itu bener adanya.
Hal yang paling unik dari dia, dia suka sekali sama benda angkasa yang namanya bulan. Tapi itu dulu. Sebelum pada akhirnya di mata dia bulan gak ada bedanya dengan bintang - bintang di sekitar satu- satunya satelit alami bumi itu.
"from the moon to the stars", katanya pada gue malam itu.
Dengan kalimat sederhana, sebuah "kami" seketika berubah menjadi "gue dan dia".
