Sekarang Anna Rahayu Wijayanto sedang duduk di sofa empuknya meminum kopi hangat beraroma sedap yang dibuatnya dan diiringi hujan gerimis. Benar-benar Minggu yang menenangkan untuk Anna. Tidak ada yang terlalu diharapkan Anna kecuali ketenangan. Anna meletakkan cangkirnya didepan meja, meletakkan kaki ke atas meja. Sungguh tidak sopan, tapi kali ini ia tidak perlu itu sekarang. Ia menyandarkan kepalanya di sofa dan menutup matanya sejenak. Lalu kolase-kolase masa lalu hadir dalam pikirannya.
Waktu itu ia sedang berumur 5 tahun, memakai baju batik warna biru muda berukuran selutut dan memakai sepatu sandal berwarna putih. Ia sedang berdiri dan menyaksikan keajaiban dunia katanya. Yap, ia sedang melihat candi Plaosan. Candi yang terletak di Jawa Tengah. Ia mengedarkan pandangannya dan merasa aneh dengan apa yang dilihatnya. Tak lama kemudian, ayahnya datang dari belakangnya dan berlutut setinggi Anna.
"Apa maksud dari ekspresi kamu sayang?" Tanya Ayahnya penasaran, ia Prasetyo Wijayanto. Lelaki kesayangan Anna.
"Tempat ini aneh ayah, ayo pulang aja!" kata Anna dengan kepolosannya. Tentu ayahnya tertawa, mereka baru 10 menit di Plaosan. Mana mungkin harus pulang secepat itu.
Dari depan datang ibu Anna yang baru saja selesai mengambil gambar dengan kamera yang ia kalungkan sekarang. Ia terlihat menghampiri Anna dan Ayahnya, berjalan layaknya bidadari yang memakai batik warna biru dongker ukuran selutut, bercorak sama dengan baju Anna dan sepatu putih. Sederhana, tapi pandangannya selalu menenangkan buat Anna.
"Sayang, tempatnya bagus kan?" Kata ibunya yang masih berdiri dan mengedarkan pandangannya terhadap candi ini.
"Ayo pulang aja Bu! Anna gak suka" jawab Anna yang masih dengan kepolosan yang sama
"Loh, kenapa emangnya toh nduk?" Tanya ibunya yang sekarang ikutan berlutut setinggi Anna
"Bu, tempatnya serem, nggak ada warnanya. Semua abu-abu" kata Anna yang merasa tidak suka dengan tempat ini. Tapi hal itu membuat tawa ayah dan ibunya pecah. Lalu ibunya berdiri dan membersihkan lututnya. Ia memandang sejenak candi itu lalu berbalik kembali ke Anna dan melambaikan tangannya meminta untuk Anna mau menggandengnya. Anna tentu mau, dan menggandeng ibunya itu. Ayah berdiri dan tetap tinggal, sedangkan ibu dan anak itu berjalan mendekati candi itu.
Sekarang mereka tinggal tiga langkah sampai menyentuh candi itu. Anna masih heran, kenapa ibunya mengajaknya lebih dekat ke candi, padahal ia sudah mengatakan bahwa ia tak menyukai tempat ini. Ibunya melepaskan gandengannya lalu mundur sedikit. Anna bingung melihat perilaku ibunya, Anna ikut mundur mengikuti ibunya tapi disangkal ibunya.
"Kamu jangan mundur, tetap disitu! Kalau bisa, kamu lihat relief itu!" Perintah ibunya
"Relief itu apa Bu?" Tanya Anna
"Ukiran sayang, coba kamu lihat! Disitu ada ukirannya" kata ibunya dengan penuh kesabaran, Anna melakukan perintah ibunya, ia mengedarkan pandangannya kepada batu-batu berukiran didepannya. Perlahan Anna mulai paham, di ukiran itu terdapat ukiran yang menggambarkan manusia, hewan dan tumbuhan.
"Bagaimana sayang?" Tanya Ibunya penasaran dengan pemikiran Anna kali ini.
"Cukup bagus, tapi bisa lebih jelas kalau ada warnanya Bu" kata Anna jengkel. Ibunya ikutan jengkel, aneh sekali. Ibunya yang seorang seniman, tapi anaknya tidak bisa menghargai seni. Ibu Anna mencoba menyembunyikan kejengkelannya.
"Nduk, gak semua yang ada warnanya itu indah. Banyak warnanya kalau menipu, ya nggak indah nduk" kata ibunya yang memutuskan duduk, diikuti oleh Anna
"Maksudnya menipu itu gimana Bu? Anna gak paham"
"Kamu tau bunglon, hewan itu bisa berubah-rubah warna tubuhnya untuk menipu, menipu itu berdosa sayang"
"Bunglon kan untuk melindungi diri bu" kata Anna menyangkal
"Bayangin aja, kalau manusia kayak bunglon"
"Emang manusia bisa jadi bunglon?" Pertanyaan Anna yang membuat ibunya tersenyum.
"Maksudnya, kalau semua manusia suka menipu, kita pasti akan tidak rukun. Kita saling bertengkar dan tidak ada kasih sayang. Lalu keindahan dunia gimana?" Kata-kata ibu, membuat Anna mulai sadar.
"Lalu, apa hubungannya candi ini sama bunglon itu?"
"Ibu cerita itu, agar kamu lebih sering menghargai akan suatu hal, biar kamu nggak sombong sayang"
"Lalu keindahan dari candi ini apa?"
"Kalau dari penglihatan ibu, ibu bisa lihat ciptaan Tuhan sedang bersatu dengan ciptaan manusia. Langit sore yang tenang dengan batu-batu yang tertata rapi dan terukir cerita masa lampau. Keindahan itu bisa dilihat kalau kita melihatnya dengan mata dan menghargainya dengan hati. Kalau gimana kamu ngelihat tempat ini terserah, asalkan menghargai dahulu"
Setiap kata dihari itu, disore itu, di candi itu sangat membekas oleh Anna. Ia pegang, nasehat dari ibunya itu sampai ia dewasa. Seorang ibu yang disayangi Anna itu memang menginspirasi dirinya. Anna sangat sayang dengan wanita itu, sayang sekali dengan Ratna Wijayanto.
Ketukan pintu, membuyarkan kolase-kolase dalam pikirannya. Anna sedikit terkejut, hingga membuat ia harus menendang cangkirnya, tapi ia berusaha menyelamatkan cangkir itu agar tidak tumpah terlalu banyak. Dia ambil tisu di meja dan mengelap tumpahan kopi itu. Setelah bersih, ia berdiri dan berjalan mendekati pintu untuk melihat siapa yang datang hari ini.
"Kiriman paket!" Kata petugas, sepertinya petugas jasa pengiriman.
"Paket?" Tanya Anna yang heran. Tapi tidak terlalu dihiraukan petugas itu, mungkin ia baru saja bekerja karena ia terlihat begitu canggung. Anna menandatangani surat yang diberikan petugas dan mengambil paket lalu membawanya masuk.
Ia letakkan paket kotak yang besarnya sekardus sepatu itu. Anna membalik-balikan paket itu untuk mencari nama pengirim, tapi hasilnya tidak ada. Mungkin ini dari Mackenzie, kekasihnya yang sedang berada di Kalimantan untuk suatu proyek. Karena teringat Mac, ia langsung meraih hpnya dimeja dan segera memencet nama Mac dan menyalakan speaker. Anna tidak terlalu suka menelpon dengan menempelkan telinganya karena menurutnya itu membuat gerah telinganya. Terkecuali itu ditempat umum. Tak perlu waktu lama, Mac sudah mengangkatnya.
"Hai sayang!" Ucapan Mac seperti biasa saat Anna menelpon.
"Hai Mac, apa kamu yang ngirim paket segede kardus sepatu ini?" Tanya Anna tanpa basa-basi.
"Paket? Seingat aku, aku lagi nggak ngirim apa-apa sayang. Memangnya kenapa sih?"
"Nggak papa, cuma pagi ini aku dapat paket tapi gak ada nama pengirimnya, takutnya kalau ada bom gimana?" Kata Anna yang membuat Mac tertawa.
"Ya serem juga kalau kejadian, tapi coba kamu buka aja dulu, siapa tau bukan bom sayang" kata Mac yang selalu berpikiran positif.
"Oke, udahan dulu deh, nanti ngganggu kamu kerja, bye-bye My Mac"
"Bye too my Anna, i love you"
"Love you too" kata Anna dan segera menutup telepon. Anna sebenarnya penasaran dengan paket ini, tapi ia khawatir apabila ini adalah bom. Anna mudah memikirkan hal-hal yang aneh. Anna menghiraukan pikiran itu, ia segera meraih paket itu dan segera menyobeknya. Perlahan terlihat kardus, ia hanya membuka bagian atas dan mengiris bagian yang diselotip dengan pisau.
Ketika dibuka, ternyata berisi toples berisi bak pia. Apa yang dikhawatirkan ternyata sia-sia, ternyata hanya toples berisi bak pia. Ia keluarkan toples itu, tapi tidak hanya satu melainkan empat toples bak pia. Siapa yang mengirim makanan ini masih membuat Anna penasaran.
Ia mengecek kardus itu lagi dan ternyata terdapat amplop yang tertinggal. Tanpa basa-basi lagi, ia meraih amplopnya dan menyobek bagian atas dan mengambil surat yang ada didalamnya. Lalu Anna buka
Anna
Ibu kangen sama kamu nduk. Kenapa Anna nggak pernah telpon ibu? Kapan Anna mampir ke Jogja?
Ibu
Ternyata surat dari ibunya, Anna langsung melemparkan surat itu dimeja. Ia beranjak dari sofa dan masuk ke kamarnya. Raut wajah Anna yang tadi penasaran menjadi kesal ketika ibunya mengirim surat itu. Anna kesal sekali, ia kesal kalau ibunya merindukan dirinya kenapa tidak langsung menelponnya, Anna kesal. Ia melihat boneka berbentuk beruang yang lumayan besar di ranjangnya dan segera mengambilnya dan melemparkan ke kaca, lalu ia ambil boneka yang ia lemparkan dan meninju-ninju perut boneka tak bersalah itu. Lalu menggeletakkan boneka itu dan berdiri, ia berbalik melihat boneka itu lagi dan menendangnya dengan keras. Mungkin apabila boneka itu hidup, ia akan meminta ampun kepada Anna.
Ia keluar dari kamar, menutup pintu dengan keras lalu duduk kembali di sofa. Ia mengambil salah satu toples dan membukanya dan mengambil satu bak pia dan memasukkan ke mulutnya. Bahkan ia memakan bak pia itu dengan emosi. Emosi itu terganti perlahan dengan mata yang berkaca-kaca. Tak lama, tangisan keluar dari matanya dan ia mulai menunduk, membiarkan bak pia itu terjatuh dari tangan kanannya. Tangan kirinya menutupi mukanya yang sedang menangis.
Perempuan, memanglah mahkluk yang dapat menunjukkan dua perasaan yang berbeda dalam waktu bersamaan. Kemudian perilaku itu hanya membuat tujuan perasaan mereka tidak jelas. Anna salah satunya, tapi apa yang membuat Anna berbeda adalah ia tidak suka menunjukkan kepada orang lain. Memendamnya sendiri, sampai mencemari dirinya sendiri.
Selamat membaca :)
Please coment, to make me better...
BINABASA MO ANG
YAKIN
RandomAnna, sempat putus asa akan takdirnya yang begitu rumit, segala rahasia Ibunya yang ingin ia pecahkan. Anna tak sanggup, tapi banyak yang memberikan Anna keyakinan. tapi Apakah Anna mampu, mencapai tujuannya dengan keyakinan yang tak menentu? genre...
