"Demi Tuhan! Aku memang seorang penjahit, tapi belum pernah sekalipun menjahit kelopak mata apalagi hati manusia. Itu mustahil!"
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini, Nyonya," jawabku enteng.
"Kau gila!" katanya.
"Yup! Aku gila," kataku.
Hening. Nyonya kedasih menghela napas panjang. Lantas ia mengambil secangkir teh hangat atau barangkali sudah dingin di hadapannya, di hadapanku, di hadapan Linea malaikat kecilku. Kemudian menyeruputnya dengan sedikit tergesa-gesa.
"Apa yang membuatmu hingga memiliki ide gila seperti itu?"
"Sebuah luka."
Suasana kembali lengang.
"Separah itu?"
"Separah itu."
Nyonya Kedasih kembali diam. Tetapi, tak berapa lama ia kembali berucap.
"Baiklah, aku akan melanggar sumpah para penjahit pakaian."
Mataku melonjak girang.
"Sungguh, Nyonya?"
Ia menatapku tajam, "Dengan satu syarat."
"Apa?" ujarku tak sabaran.
"Aku ingin tahu kenapa kau bisa terluka separah itu. Siapa yang telah melukaimu, kenapa ia melukaimu, aku ingin tahu segalanya."
"Untuk apa?" tanyaku heran.
Ia mendengus, "Menjahit itu bukan perkara mudah. Bukan sekadar menusuk-nusukan jarum pada bagian yang sobek saja. Lebih dari itu! Kau tidak akan mendapat jahitan yang bagus tanpa tahu perkara apa yang tengah kau jahit."
Aku sibuk mencerna kata-katanya secara perlahan. Tetapi tetap saja aku tak paham. Perkara jahit-menjahit adalah gelap bagiku.
Tetapi, yang terlintas di benakku adalah, apa pun alasan ia ingin mengetahui segala luka yang ada pada diriku, bukankah tidak ada salahnya jika aku sedikit bicara panjang lebar kepadanya. Bukankah itu sedikit menguntungkan bagiku? Yup, luka-luka yang telah membuncah di dada ini agaknya akan berkurang setelah aku mengeluarkannya. Setidaknya itu juga akan membantunya agar tidak kesulitan saat menjahitnya nanti. Bukankah seperti itu?
"Dengan senang hati, Nyonya," kataku lirih.
YOU ARE READING
Monolog Sebongkah Hati yang Patah
RomanceWanita itu menjahit kelopak mataku dengan sangat rapi. Benar-benar rapi. Nyaris tak ada setitik darah pun yang jatuh menyusuri lereng pipiku yang terjal dan basah. Meski agak perih, tetapi aku menikmati setiap tusukan jarum serta lilitan benang yang...
