"Hidup itu gak lepas dari masa lalu dan masa depan, jangan lupakan masa lalu, karena masa lalu dapat membuka matamu yang tertutup dan mendengar dari telinga yang tuli."
-Someone-
26 Februari 2016
"SISIL... AYO BANGUN... NANTI CALON KAMU DATANG LOHH..." terdengar teriakan kencang yang mampu membuat wanita berumur 26 tahun terbangun dengan tidak elitnya.
SISIL, nama wanita tadi. Dia menggeliat dengan amat sangat jelek. "Sisil! Buruan! Bangun dan dadan yang cantik" terdengar kembali suara yang telah membangunkan separuh nyawa Sisil. Wanita berumur kepala lima tersebut membuka pintu kamar Sisill dengan kasar. Badan yang ditutupi clemek dengan motif bunga-bunga jaman sekarang dan sebuah sutil dengan minyak yang menetes-netes, mampu menggambarkan bahwa Bunda Eni, nama panggilannya, sedang melakukan kegiatan memasak yang tertunda akibat kebiasaan Sisil.
Sisil menguap lebar-lebar dan kembali tidur "SISILLLL..." sebuah sutil penuh minyak dan masih panas menempel indah di kening putih nan mulus milik Sisil.
Sisil pun terbangun dan langsung membuka mulut dan matanya lebar-lebar. "Bunda! Sakit tau' banyak minyaknya lagi!" Sisil memandang bundanya geram "Bunda bisa gak sih sehari aja gak bangunin Sisil pagi-pagi? Lagian Sisil itu lagi PMS, gak pakek sholat subuh, jadi tolong dongg biarin Sisil yang cantik jelita ini bangun jam 9?!"
"Buruan bangun! Kamu gak inget apa yang dibilangin ayah tadi malam?"
"inget kok inget... tapi acaranya kan masih jam 9 nda... masih lama... sekarang aja matahari belum nongol"
"Ya kamu siap-siap dulu, dandan yang cantik, pakek kebaya yang kemarin kita beli-"
"Bukan, bukan kita yang beli,bukan juga Sisil yang beli, tapi Bunda, Sisil gak mau dijodoh-jodohin nda... lagian umur Sisil masih muda...-"
"Masih muda kamu bilang? Dulu Bunda nikah sama ayah waktu Bunda umur 17 tahun, habis lulus SMA Bunda langsung nikah, dan itu dijodohin sama eyang kamu. Umur kamu sekarang itu berapa??? Gak muda lagi Sisil"
"Tapi bun-"
TOK TOK TOK
Kedua wanita yang tengah berdebat tersebut menoleh ke arah pintu kamar yang barusan diketuk. "Bunda, mas Fajar ngompol tuh di sofa ruang tamu"
Bunda Eni langsung melotot terkejut dan berlari kencang keluar dari kamar Sisil meninggalkan sutil. Sisil hanya memutar bola matanya, lelah. "Kak Sisil gak bantuin Bunda?"
Sisil menoleh ke bocah berumur 14 tahun sedang berdiri di ambang pintu kamarnya, namanya Bimo. "Kenapa gak kamu aja?" tanya Sisil.
Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya cepat "gak mau, jijik, euhh" Bimo pergi meninggalkan kamar Sisil sambil bergidik ngeri.
------
Sisil tengah memindahkan sup yang ada di panci ke mangkok besar. Setelah itu, Sisil menaruhnya di atas meja makan. Sisil merapikan dan menata hidangan yang ada di atas meja makan.
Saat hendak menuangkan air putih ke dalam gelas, kegiatan itu terhenti disebabkan rambut indah dan rapinya ditarik dengan paksa oleh laki-laki bertubuh besar dan mulut serta baju penuh dengan cream, namanya Fajar, adik pertama Sisil. Fajar ini menjadi 1 dari 300 ribu anak down Syndrome. Umurnya hendak menginjak angka 20 tapi sifat dan kelakuannya masih seperti anak SD.
"Aduhhh aduhhh... dekk.. jangan ditarikk" Sisil memegang tangan Fajar. "Bundaa... Ayahhh... Bimoo... semuanya dehh, tolongin Sisil..."
Dengan cekatan, ketiga orang yang dipanggil Sisil pun langsung menolong Sisil.
"Kak Sisil, gak boleh cantik-cantik, nanti aku suka! Whehehe" kata Fajar sambil terus mengacak-acak rambut Sisil.
"Fajar! Lepasin!" ayah meninggikan volume berbicaranya.
Fajar langsung menatap Ayah dengan takut, pelan-pelan Fajar melepaskan tangannya dari rambut Sisil dan langsung memeluk Bunda Eni.
"Duhhh... mas Fajar gak boleh narik rambut kak Sisil, khusus hari ini jangan gangguin kak Sisil yaa.. soalnya kak Sisil mau ada tamu, jadi kak Sisil harus cantik" kata Bunda. Bunda menggeret Fajar ke ruang keluarga.
"Gila mas Fajar" Bimo langsung mendapat pelototan dari Ayah dan Sisil "ma-maksudnya, gila gara-gara bisa buat kak Sisil yang aslinya cantik kayak bidadari, jadi jelek kayak monyet campur tikus hahahaha."
Ayah langsung memperhatikan Sisil, "hhmm.. bener juga kamu hahahaha"
"Terus aja terus, pokoknya nanti aku gak mau-"
TING TONG TING TONG "Assalamualaikum"
"Mampus!"
-----
"hahahaha..." gelak tawa terngiang keras dari ruang tamu.
Sisil keluar dari kamarnya setelah dia memastikan bahwa tampilannya telah cantik kembali. Dia turun ke lantai bawah dan menepuk pundak Bunda Eni.
"Bunda, kok pada ketawa sih" Bunda menoleh ke arah Sisil "ohh iya... sofanya udah dibersiin? Kan tadi diompolin Fajar"
Bunda tersenyum lembut "Udah kok, kamuu..." Sisil menaikkan alisnya "cantik banget hari ini"
Sisil langsung mengibaskan rambut kerlynya dengan gaya sombong "dari dulu Sisil emang udah cantik kali' Bun."
Senyum lembut Bunda Eni luntur, tergantikan senyum teduh "nanti, kalo kamu udah nikah dan pindah rumah, jangan lupain Bunda ya"
Sisil langsung merangkul Bunda Eni "Bunda, mangkannya jangan suruh Sisil nikah cepet-cepet."
Bunda langsung melepas rangkulan Sisil "itu sih mau kamu."
"Bunda ngomong serius sama kamu, kalo kamu gak cocok dan bener-bener gak nyaman sama pilihan Bunda, bilang aja. Bunda gak marah, asal alasan kamu jelas."
"Tahun lalu Sisil nolak lamaran anaknya temen ayahkan juga jelas alasannya Bun, eh Sisil malah dimarahi."
"Bunda sama Ayah marah gara-gara alasan kamu yang gak jelas, masa' gara-gara ngatain Fajar dibelakang kamu, kamu langsung nolak, gak logis Sisil."
"Pokoknya ya Nda, Sisil mau milih cowok yang bisa nerima Sisil dan keluarga kita sepenuh hati. Kalo masih jadi calon suami aja udah kayak gitu gimana waktu kita udah nikah dan hidup bareng."
Bunda tersenyum "Bisa aja kamu."
"Bunda... Sisilnya dibawa keluar" intrupsi dari Ayah membuat jantung Sisil berdegup lebih cepat. Acara seperti ini sudah Sisil rasakan lima tahun belakangan, bahkan sudah menjadi rutinitas tahunan, paling banter ya pria tahun kemarin, dan yang lain langsung Sisil tolak waktu acara seperti ini. Tapi entah kenapa tetep aja deg-degan.
"Ayo..." Bunda merangkul pundak Sisil yang jauh lebih tinggi darinya. Sisil digiring menuju ruang tamu.
"Ini Sisil? Beneran Sisil?" suara laki-laki yang telah lama tidak Sisil dengar sedang menyapu pendengarannya. Reflek, Sisil langsung menatap laki-laki tersebut.
Betapa terkejutnya Sisil bahwa laki-laki tersebut adalah potongan dari masa lalunya.
TBC
YOU ARE READING
My Past
General FictionMasa lalu adalah kenangan yang bahkan inginku lupakan, khususnya tentangmu.-Sisil Terima kasih telah menjadi secuil kenangan masa lalu yang teramat sangat spesial, seperti martabak manis rasa coklat keju.-Galindra yang kepo sama maksud dari bacaan d...
