Pria tanpa nama

21 1 0
                                        

Dulu, tepat 20 tahun yang lalu saat aku masih tinggal di desa dan usiaku masih masih kanak-kanak, ada seorang mandor pindahan yang suka difitnah oleh para tetangga, termasuk ibuku tentang hal yang bukan-bukan. para tetangga yang suka merumpi itu mengatakan bahwa lelaki jangkung dengan celana hitam gombrang serta tas samping yang selalu ia gendong kemana-mana itu adalah seorang pria kesepian dan sedikit memiliki penyakit penyimpangan sosial. Yang konon katanya, menghalalkan hal-hal gaib dan mistis di dalam rumah mewahnya itu. Para tetangga juga suka melemparkan tatapan takut sekaligus penasaran ke lelaki itu. Bagi warga desa, tak banyak hal menarik yang bisa diperbincangkan setiap harinya, hanya hal remeh-temeh dan gosip murahan yang pasti akan ditelan bumi dalam jangka beberapa pekan. Pak Mandor, begitu para tetangga menyapa lelaki yang baru sebulan pindah dari jakarta itu. Dia tertutup dan jarang berkumpul atau sekedar menyapa para tetangganya. Kata orang, ia bekerja sebagai mandor di sebuah pabrik tambang batu bara di desa kami, maka dari itu warga desa memanggilnya pak Mandor, meski mungkin si empunya sendiri tak suka jika dipanggil demikian.
Dan konon katanya lagi, rumah dinas yang ia tempati itu amat luas pekarangannya, ada kolam berenang didalamnya, lukisan-lukisan jiplakan pelukis tersohor Leonardo Da Vinci, dan dirumah itu juga terdapat banyak pintu-pintu yang saling menghubungkan satu sama lain, serta jembatan kecil yang letaknya ditengah-tengah taman bunga yang taman bunganya sendiri dipenuhi oleh bunga kasturi, mawar, anggrek, bunga sepatu dan tak ayal, bunga-bunga itu tumbuh subur dan beraneka ragam warnanya, serta wanginya mampu tercium sampai rumah kepala desa yang jelas-jelas jaraknya 100 meteran lebih.
******
Sejujurnya, semua cerita itu terdengar konyol ditelingaku. Lukisan jiplakan Leonardo Da Vinci? Yang benar saja, dengar namanya saja baru kali ini. Memangnya siapa Leonardo Da Vinci, dari mana asalnya, bahkan mereka tak tau dan tak sudi tau dimana sang maestro seni dan anak jenius itu dilahirkan, bagaimana perjalanan hidupnya hingga menghasilkan lukisan-lukisan tersohor hingga keseluruh dunia, dan siapa yang berani menjiplak lukisan hebat itu, berani sekali. Sebenarnya, entah siapa dari tetanggaku yang pertama kali menyebarkan cerita itu, dan dari mana mereka mendengar nama Leonardo Da Vinci, aku tak paham, tapi ini menjadi semacam daya magnet, semakin banyak cerita simpang siur, maka semakin seru pula kehidupan di desaku.
Sampai saat ini, tak ada satupun tetanggaku yang mampu membuktikan kalau ia pernah menjelajahi rumah mesterius itu, hanya saling sandung dan aku yakin, ucapan mereka tak lebih dari sebuah kebohongan dan tak kurang dari sebuah imajenasi liar akan sebuah rumah mewah ditengah-tengah desa yang kumuh dan kekurangan orang pintar itu, karena warganya yang kebanyakan hanya lulusan Sekolah Dasar. Saat itu aku kelas empat SD, aku belum terlalu mengerti pembicaraan orang dewasa, karena yang kupikirkan waktu itu hanya bagaimana caranya agar lulus sekolah dan bisa segera membantu orang tua bekerja di ladang. Jarak antara desaku dan sekolah berkisaran 10 km, berjalan sekitar 1 km menuju sungai, kemudian naik perahu tua yang harus selalu ditimbah airnya oleh si pak juru mudi yang merebas ke dalam perahu agar kami para penumpang tak tenggelam meskipun akhirnya pakaianku dengan anak-anak yang lain seperti orang yang baru saja berburu kerang di kali. Perjalananku mengapung diatas air sekitar 6 km dan sisanya kembali berjalan kaki melewati jalan aspal berlubang yang sisi kiri dan kananya hanyalah sawah, kali, rumah sawah, kali lagi dan terlihat lagi sawah.
Cerita tentang rumah mandor tua itu kian merebak bagai bau kemenyang. Kini, ceritanya tambah berkembang dan makin asyik saja diperbincangkan ibu-ibu tua itu. Saat aku hendak mengajak Izul untuk bermain Guli_ kelereng, rumahnya terlihat penuh oleh para ibu yang tengah berkutu itu. Ibunya, bu Doriah, yang rumahnya tepat berada di samping kanan rumahku itu berkata dengan antusias,
“ Kata bu Suhra, rumah pak Mandor itu  ada makhluk goib-nya “
“ Memangnya bu Suhra pernah masuk di rumah pak Mandor “ tanya bu Idah secepat kilat, yang lain mulai berkoar ricuh.
“ Kata bu Suhra, cerita itu ia dapat dari bu Mulia, bu Mulia punya saudara tiri yang suaminya bekerja sebagai tukang reparasi listrik. Nah, di kampung kita kan listriknya suka bermasalah. Orang-orang Jakarta’kan tidak tahan kalau listrik lama bermasalahnya, makanya, si mandor itu suka mengundang si tukang reparasi listrik ke rumahnya.” Pungkas bu Doriah, seolah ia tau pasti semua kejadiannya.
Semuanya dia takzim diiringi anggukan pertanda setuju kalau yang diungkapkan wanita gembrot itu adalah kebenaran yang hakiki. Aku terdiam cukup lama mencernah setiap kata yang terlontar. Nama pak mandor itu sendiri sebenarnya disemakkan pula bagi mandor-mandor sebelumnya. Dia bukan mandor pertama, ia mandor ke sekian yang menempati rumah dinas itu, namum kesemuanya berakhir ditahun ketiga masa jabatannya. Tak ada yang akrab dengan para mandor-mandor sebelunmnya, seperti ada sebuah rahasia besar yang disembunyikan didalam rumah dan diri mereka. Mereka orang kota, namun tak pandai bersosialisasi, aku menduga mereka tak sudi berkawan dengan para orang desa yang tak punya pendidikan karena tak akan sejalan dengan pemikiran mereka, dan cerita-cerita serta fitnah keji juga berlaku bagi mandor-mandor sebelumnya. Ada yang dikatai punya selingkuhan di desa sebelah, padahal mereka sendiri mungkin tak tahu kalau mandor itu belum punya isteri, ada juga cerita tentang mandor yang kerjanya suka minum-minum saja dan tak becus urus administrasi perusahaan tambang di desa kami, padahal nyatanya mereka tak paham apapun tentang administrasi, mereka hanya-lah buruh kasar yang mengurusi hal kasar dan keras yang tak ada hubungannya dengan administrasi perusahaan, sangat sok tahu.
******
Sok tahu! Itulah sifat dasar dan membengek tengek di desaku. Mereka tak tahu apapun tapi suka menebak dan membuat argumen tak jelas, lucu memang. Mereka adalah wartawan kelas kakap, dan diantara miliyaran kemungkinan mereka terlahir dan terjebak di tempat yang sama, di sebuah desa terpencil yang warganya kebanyakan tak pernah mengenyam bangku pendidikan. Orang-orang itu, yang kusebut tetangga memiliki bakat alamiah menciptakan sebuah jalan cerita yang apik dan melegenda, meski mereka tak pernah mendalami hal-hal yang demikian di bangku sekolah dan universitas, namun ide-ide mereka sangat cerdas.
******
Hari itu kamis pagi yang cerah, aku, Izul, Juhaedah dan siti menunggu kawan-kawanku yang lain di pertigaan desa menuju sekolah. Saat keluar rumah tadi masih sempat kulirik jam dinding tua karatan yang letaknya tepat berada di atas kursi goyang nenek yang juga sudah reyot dimakan usia meski beberapa kali diperbaiki. Kata nenek, jam dinding itu sangat bersejarah, jam dinding itu adalah warisan turun temurun dari empat generasi di keluargaku, dan aku adalah generasi kelima. Jam dinding itu kakek buyutku yang membawanya dari ibukota provinsi saat gencat-gencatnya terjadi perlawanan para pemuda pribumi melawan kolonialisme yang menyengsarakan, kakek buyut yang merasa jiwa mudanya terpanggil turut serta pergi bersama puluhan pemuda lainnya, meninggalkan isteri, anak, orangtua dan seluruh harta bendanya. Hanya hati teguh dan kenangan yang dibawah pergi ke ibukota provinsi itu. Jam dinding itu ia beli di pasar tua sehari setelah kemerdekaan negara Indonesia diproklamsikan dengan harga yang nenek sendiri tidak mengetahuinya. Jam dinding itu akhirnya pulang bersama kakek, melalui perjalanan panjang dan melelahkan, hingga akhirnya sampai di sebuah desa terpencil yang sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Dan mulai hari itu, sang jam dinding resmi menjadi bagian dari keluargaku.
Pukul 6:02 saat aku keluar dari rumah, sekitar 6 menit aku menunggu kawan-kawanku, tak satupun nampak batang hidungnya, mungkin aku harus menunggu sekitar 2 atau tiga menit lagi, tak masalah jika kami terlambat, toh para guru juga sudah tau aku dan kawan-kawanku rumahnya sangat jauh dari sekolah, kami diberi semacam kompensasi. Dari kejahuan setelah tikungan terjal kulihat Enal, Acong, Marwan dan Lili datang mengahmpiriku dengan riang. Sedang beberapa meter dibelakang mereka menyusul Nunung, Asmar, Rina, Dudo, Karim dan Mia yang juga datang dengan riang dan langkah ringan serta iringan tawa cekikikan dari Rina. Hari itu kami berangkat bersama, dengan hati penuh, langkah riang dan tawa cekikikan Rina yang tak putus-putus sejak tikungan terjal menuju pertigaan itu.
******
Saat perjalanan pulang sekolah, aku dan kawan-kawanku bertemu dengan pak mandor di tikungan terjal menuju pertigaan, kami semua menatapnya lekat-lekat, ia juga balik menatap kami bergantian tanpa menghentikan langkah panjangnya, tubuhnya kurus kerempeng, masih dengan tas samping yang ia gendong kemana-mana, raut wajahnya menyiratkan kesedihan mendalam, seperti ia adalah pria paling malang di muka bumi ini.
“Wajahnya terlihat seperti bukan mandor, ayahku jauh lebih gagah darinya, harusnya ayahku saja yang jadi mandor. Lebih berisi dan kuat“ Ucap Marwan setelah yakin pak mandor itu sudah berlalu cukup jauh dari kami.
“Kalau begitu ayahku jadi wakil mandor, dia juga lebih gagah dan berisi dibandingkan si mandor itu” Nunung menambahkan, wajahnya terlihat berbinar, sebuah senyuman mengembang dibibir mungilnya, dan benar saja, jantungku rasanya melongos menatap senyuman itu.
******
Sorenya, aku disuruh ibu ke rumah pak Diding untuk membeli tepung. Rumah pak Diding tepat berada disamping kiri rumah pak mandor, itu berarti aku harus melalui rumah megah itu. Setelah membeli tepung, aku menatap lekat setiap inci rumah yang usianya sudah puluhan tahun ini, megah dengan cat warna putih tulang serta pagar hitam legam yang siap menerkan siapapun yang berani menginjakkan kaki di rumah megah itu. Saat hendak berlalu, pak mandor itu tiba-tiba memanggilku, aku berbalik, ia memberi isyarat melalui tangannya agar aku mendekat. Ada perasaan was-was dalam hatiku, takut ia akan menculikku kemudian membuang mayatku ke sungai di seberang hutan itu, aku merinding memikirkannya.
“Kemarilah nak” ucapnya lembut, raut wajahnya sendu
Aku menurut saja masuk ke rumah megah itu, aku mungkin orang pertama yang masuk ke rumah ini. Dan rumah ini benar-benar mewah, tapi tak ada lukisan jiplakan Leonardo Da Vinci ataupun makhluk gaib di rumah ini, hanya sebuah sofa hijau beserta meja bundar kayu ditengah-tengahnya. Aku tak melihat banyak hal di rumah ini, batasku hanya sampai ruang tamu.
“Ada apa pak mandor memanggil saya?” tanyaku dengan suara tertekan, lebih seperti berbisik.
Suasana hening, ia tak menjawab, malah menyuruhku duduk di sebuah sofa berwarna hijau tua.
“Saya punya seorang purta yang sangat mirip denganmu, saya sangat merindukannya” akhirnya ia memecah keheningan.
Aku tak menjawab, ia melanjutkan.
“Tapi ia meninggal setahun yang lalu”
Bukannya itu hari saat pak mandor tiba di desa kami.
“Aku yang membunuhnya” ada sedikit perasaan ngeri saat kata “Membunuhnya“ terlontar.
“Aku ingin membuat sebuah pengakuan, dan aku ingin kau menjadi saksinya.”
Aku terkesiap cukup lama, menajdi saksi? Bahkan usia belum cukup untuk menjadi saksi. Tapi karena saat itu aku masih kanak-kanak dan belum mengerti tentang hukum, maka aku bersedia menjadi saksi bisu pembunuhan si pak mandor tua kering itu.
“Sore itu, aku memukulnya untuk yang pertama kalinya. Aku memakinya, memukulnya karena ia suka membantah, suka kurang ajar.” Nada suaranya terdengar perih, seperti sebuah batu tersangkut ditenggorokannya.
“Apa dia mati setelah dipukuli?” tanyaku hati-hati, takut aku yang jadi sasaran selanjutnya.
“Tidak, dia tidak mati saat itu, hanya luka memar dibetis dan pipi kirinya”
“Kalau begitu bukan pak mandor yang membunuhnya”
“Tapi saya yang membunuhnya”
“Tapi anak pak mandor tidak mati saat pak mandor memukulinya, berarti bukan pak mandor pelakunya”
“Tapi penyebabnya saya”
“Kalau begitu serahkan diri saja pada pak polisi, supaya anda  dapat hukuman yang setimpal”
“Dipenjara, masih dapat menghirup udara segar, makan dan tidur, itu tidak setimpal nak”
“Pak mandor, saya masih SD, saya belum mengerti persoalan yang demikian, tanyakanlah solusinya pada tetuah di desa ini” suaraku setengah berteriak, ia tak mengubrisku.
“Malam harinya, ia kabur dari rumah setelah menagis kencang, ia tak kembali sampai tengah hari, aku dan isteriku linglung mencari kesana kemari, menghubungi seluruh kerabat, takut-takut kalau ia diculik, apalagi  bocah kecil untuk kota sekejam Jakarta.”
“Dan dugaanku benar, ia ditemukan seminggu kemudian di sebuah gorong-gorong dengan tubuh terpotong-potong serta organ tubuh dalam yang hilang. Penyidik mengatakan, ia diculik sindikat penjual organ tubuh manusia. Sebulan kemudian isteriku juga bunuh diri, katanya ia merindukan putra kami, jadi ia menyusulnya, putraku takut gelap, ia akan kesulitan tidur jika tak ditemani ibunya sampai terlelap, jadi mungkin sekarang isteriku sedang memeluk putraku.” Ia kembali menatapku lekat, air mukanya sedikit berubah tenang.
“Tak ada yang tahu kalau saya yang menyebabkan ia kabur dari rumah, isteriku’pun tak tahu persoalan itu, ia tak ada di  rumah saat kejadian itu, tapi kurasa sekarang putraku menceritakan kejadian sebenarnya kepada isteriku, semoga saja mereka berdua tidak membenciku”
“Bagaimana dengan penculiknya? Apa sudah ditemukan?” Tanyaku sarkastik
Ia menggeleng pelan, pak mandor kembali tertunduk, ia mengahapus air matanya dengan punggung tangan, suara isakannya terdengar menyakitkan.
“Sekarang kau adalah saksi, hanya aku, kau dan tuhan yang tahu kejadian ini” ia mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya dengan tenang.
“Dan juga, aku tak memelihari makhluk ghoib dan sejenisnya, aku tak percaya dengan hal yang seperti itu. Semua yang dikatakan warga desa adalah kebohongan, meski saya tak peduli, tapi tetap saja sakit, seorang pria tua kesepian difitnah yang bukan-bukan. jadilah saksi ku untuk fitnah ini juga”
Percakapan itu berakhir saat mentari mulai tergelincir dari peradaban, saat hendak keluar dari pintu, ia memegang  pundakku, mengucapkan terima kasih berkali-kali, ia berkata bahwa sekarnag ia lega, selama setahun, ia dihantui rasa penyesalan dan sakit hati yang mendalam, tapi sekarang ia bisa bernafas normal karena setidaknya ia punya saksi, meski saksi itu masih di bawah umur.
“Jadilah saksiku dikehidupan selanjutnya” ucapnya terakhir kalinya sebelum aku benar-benar meninggalkan rumah itu, sebetulnya aku tak terlalu paham maksudnya, aku hanya mengangguk pelan. Aku yakin setelah ini, aku akan kena semprotan ibu habis-habisan karena terlambat pulang membawah tepungnya.
Besoknya, seisi kampung gempar dengan penemuan mayat pak mandor tua di sebuah rumah sawah, ia menggantung dirinya pada pasak dengan kaki terjuntai sekitar 2 meter di atas pematang sawah. Aku melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya, wajah itu damai, seolah ia baru saja berdamai dengan rasa penyesalannya. Ia pasti bahagia sekarang, bisa berkumpul dengan anak dan isterinya, setidaknya ia bisa minta maaf. Sayang sekali, aku tak sempat menyampaikan salam pada kakek buyutku, aku juga ingin menyampaikan pesan padanya, bahwa jam peninggalannya itu masih ada meski sering macet.
******
20 tahun kemudian aku kembali ke desaku. Keadaannya banyak berubah, hanya tinggal para tetua saja yang nasih bertahan di desa, sisanya mengadu nasib ke ibukota. Ibuku juga kini tinggal di Jakarta bersamaku dan adikku yang juga sedang menempuh pendidikan di sebuah universitas negeri di Jakarta. aku sendiri bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak dibidang konstruksi. Ibu tak tahu kalau aku pulang kampung, yang ibu tahu, aku sedang melakukan perjalan tugas di luar kota. Perusahaan batu bara itu konon katanya juga sudah tutup, disita pemerintah karena melakukan operasi ilegal dan dampaknya mencemari lingkungan khususnya sungai di seputaran desaku, para unsur pimpinannya ditahan, dijebloskan ke penjara. Untunglah pak mandor mati sebelumnya, setidaknya ia tidak ikut-ikutan dipenjara.
Rumah dinas yang dulu ditempati pak mandor kini terlihat seperti gedung tua yang angker, aku masih merasa pak mandor hidup dirumah itu. Rumahku juga kini sudah rata dengan tanah. Aku juga bertemu dengan beberapa kawan lamaku, mereka tak banyak berubah, hanya aku yang banyak berubah, kami bercerita tentang banyak hal, mulai dari masa-masa sekolah, pekerjaan, kehidupan masing-masing sampai dengan pasangan.
“Dimana Nunung?” Tanyaku antusias, aku baru sadar bahwa Nunung tak bersama kami.
“Kudengar terakhir kabarnya ia berada di Jawa, seperti Acong, Marwan dan Enal” jawab Rina tak kalah antusias
“Teman-teman yang lain juga banyak yang merantau, bahkan sampai keluar negeri, aku saja yang masih bertani disini” Dudo berucap pelan, ada guratan kesedihan diwajah hitam legamnya
“Apa Nunung sudah menikah?” Aku masih penasaran dengan keadaan cinta pertamaku itu.
“Aku juga tidak tahu”
Kami bercakap banyak hari itu, bahkan sangat banyak. Banyak hal yang kami ulang seperti sebuah cuplikan video dalam kepalaku yang kembali terulang setiap kali bercerita tentang masa lalu kami, dan Rina masih tetap sama dengan yang dulu, tawa cekikiannya tak putus-putus. Dan aku? Aku tetap yang dulu, meski para kawan lamaku berkata aku banyak berubah, aku tetaplah saksi, saksi atas dua kejadian. Aku akan tetap menjadi saksi sesuai janjiku dulu pada pak mandor yang bahkan tak ku ketahui namanya itu.

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: Jul 04, 2017 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

Pria tanpa namaHistórias para pegar e não largar. Descubra agora