Moscow

22 1 1
                                        

Udara pagi ini di kota Moscow cukup dingin karna musim dingin bulan november sudah di mulai. Dibeberapa wilayah eropa bagian Utara, negara-negara seperti Swedia, Finlandia, Denmark sudah duluan beberapa minggu memasuki musim dingin.
Setelah selesai shalat shubuh, Andra membuka tirai jendela apartemen mewahnya yg berada di lantai 75. Ia memandang jauh panorama kota Moscow saat matahari keluar dari perampiannya dari dalam bumi. Badannya terasah lelah sekali, setelah aktivitas padatnya semalam melakukan perjalanan melelahkan di empat negara berbeda dalam sehari. Semalam dia telah singgah di empat kota berbeda negara di mulai di kota Islamabad, setelah itu ke Istanbul, Kiev lalu terakhir ke moscow.
Hari ini dia punya waktu seharian untk mengisi ulang energinya dg istirahat di apartemennya atau bersantai-santai di luar menikmati sudut kota moscow. Karna esok hari ia akan terbang lagi ke wina, Austria.
Ingatannya jauh melayang memasuki masa lalu yg jauh, 18 tahun yg silam, ia teringat dulu waktu dia masih di bangku kelas 2 SD, ketika belajar IPS materi Benua Eropa dg pak Udin guru Favorit waktu Sd-nya dulu . Pak udin adalah guru ips andra yg ia senangi karna pak udin mengajar tidak seperti guru yg lainnya, yg hanya pakai metode ceramah melulu, yg dianggap andra sngat membosankan. Ia ketika itu bermimpi menginjakkan kakinya di benua dg sebutan benua biru ini dilembaran sebuah kertas.
Ia teringat juga ketika bermain bersama teman2 sekolahnya dulu di desa, berjalan2 di petak2 persawahan sore hari, desa indah dan sangat bersejarah bagi andra, sebuah desa yang berada di pedalaman sumatera.
Masa lalu yg tak akan pernah ia lupakan dalam sejarah hidupnya.
Ketukan pintu di kamar apartemennya memutus nostalgia ingatannya.
Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"selamat pagi ndra, baru bangun ya?"
"Oh, Bagas. sudah lama gas, tdi hanya lama berdiri dijendela menikmati kota moscow dari jendela itu !". Bagas temannya dari palembang yg juga berada di hotel ini.
Ia adalah salah satu anggota dari Tim Southeast Asian Journalist Team Seven (SAJT Seven). Adalah Tim jurnalis yang berasal dari Negara-Negara Asia Tenggara yang beranggotakan Tujuh orang Jurnalis yang bekerja untuk Reuters. Reuters adalah sebuah Kantor Berita Harian Internasional yang berpusat di Kota London, Inggris. Reuters memiliki para Jurnalis-Jurnalis dari berbagai Negara di dunia, untuk menjadi Jurnalis disini butuh perjuangan karena tidak sembarang orang bisa bekerja disini, pihak Reuters melakukkan seleksi ketat untuk menerima para Jurnalisnya, hanya 150 orang Jurnalis yang diterima setiap tahunnya disini, padahal yang mendaftar ada puluhan ribu dari berbagai Negara. Saya dan Bagas adalah orang yang beruntung bisa diterima bekerja disini, karena selain pihak Reuters memberikan gaji tinggi kepada para Jurnalisnya juga bisa keliling dan mengunjungi banyak Negara di Dunia dan itu dibiayai oleh pihak Reuters.
Hampir dua bulan bekerja disini saya sudah mengunjungi puluhan Kota dan Negara Asia, Eropa, Amerika Selatan dan Utara, dan Afrika ketika meliput dan mengumpulkan informasi yaitu Kota Shanghai, Teheran, Islamabad, Kuala lumpur, Manila, Bangkok, New Delhi, Istanbul, Kiev, Moscow, Berlin, London, Madrid, Barcelona, Paris, Manchester, Lisbon, Amsterdam, Kairo, Algiers, Buenos Aires, Havana dan besok akan terbang lagi ke Wina untuk meliput berita. Mimpi yang dulu ku anggap sangat tidak realistis dan pesimis sekali untuk bisa pernah berada tempat-tempat ini, karena melihat orang-orang di desaku yang hanya besar di pedesaan, dan menghabiskan masa kehidupan di desa selama hidupnya. Aku sangat bersyukur atas nikmat kesempatan yang diberikan ini Tuhan. Aku teringat akan potongan Ayat Suci Kitabku, "Fabiayyiaala Irabbikumaa tukadz dzibaan", "Nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan".
Kota-Kota dan Negara indah yang dikenal memiliki peradaban tertinggi dengan negara industrinya yang menjadi pusat Perekonomian Dunia, Iptek, Industri, Jasa, dan lainnya. Khusunya untuk untuk Negara-Negara Eropa Barat. Kemajuan ini, sangat bisa dilihat. Namun, Aku tidak begitu terkagum melihat atas pencapain Bangsa Bangsa Barat ini, karna kemajuan itu, dulu mereka peroleh dan pelajari dari Islam, ketika Islam pernah berkuasa dan tumbuh dan pesat di Semenanjung Andalusia, selama kurang lebih enam abad lamanya, pada masa Kekhlaifahan Umayyah II selama kurun waktu itu islam telah menanamkan peradaban di Eropa, ketika itu Eropa masih dalam Era Kegelapan, setelah Renainsance baru mereka bangkit dan maju. Peninggalan-peninggalan Islam masih tetap ada di sana, Misalnya Istana Al Hambra di kota Granada, Spanyol. Dulu waktu meliput berita di Spanyol, saya tidak bisa singgah walau hanya sebentar di Granada. Karena ketika setelah dari Barcelona harus langsung Transit terbang ke Kota Paris, Perancis.
Dan setelah mereka maju, Kemudian pada abad ke 14 mulai melakukukan pelayaran ke dunia timur dan melakukan Kolonialisasi di negara-negara timur, termasuk salah satunya negeriku Tercinta, Indonesia yang dulu bernama Hindia Belanda. Inggris menguasai sebagian besar Asia Selatan seperti India, pakistan dan Asia Tenggara seperti malaysia, Brunei dan lainnya. Perancis menguasai Sebagian besar negara-negara Afrika dan Timur Tengah. Hingga hari ini negara-negara bekas jajahan Perancis di Afrika masih menjadi negara terbelakang dalam segala aspek kehidupan baik keterbelakang hal Ekonomi, Pendidikan, Sosial. Diperparah dengan kondisi negara yang sering konflik perang sesama yang berkepanjangan, kondisi negara ini sangat menyayat hati, banyak anak-anak yang kelaparan dan tidak bisa bersekolah seperti layaknya anak-anak di negara lain. Aku menyaksikan langsung hal itu di konsentrasi zona konflik di Nigeria bagian utara ketika melakukan peliputan berita. Hal ini hanya bisa ku bantu dengan membuat tulisan-tulisan di Reuters agar seluruh masyarakat dunia tahu, bagaimana nasib rakyat Nigeria. Dan PBB tidak becus menyelesaikan konflik ini sudah sekian lama. Kritikan-kritikan tulisanku terhadap PBB, menjadi Headline dalam halaman berita di Reuters.
Reuters adalah salah satu bacaan berita yang paling banyak dibaca di seluruh dunia. Dan memiliki aset kekayaan yang besar. Sebelumnya Aku dan Bagas bekerja di perusahaan berita Tanah Air, Republika. Dan karena diterima di Reuters kami terpaksa meninggalkan Republika, padahal sangat berat hati, karena disini karir kami dimulai. Saya tidak akan pernah melupakannya.
Ayahnya Bagas berasal dari Negeri Jiran Malaysia, tepatnya Negara bagian Sabah, yang pindah ke Sumatera Selatan dan menjadi warga negara Indonesia ketika harus menikahi ibunya Bagas atas permintaan ibunya, karna ayah bagas sangat mencintai ibunya, maka iapun melakukan apa hal yang diminta orang yang dicintainya, ia pernah cerita hal ini kepadaku saat berada di kabin pesawat ketika dalam perjalanan dari Kuala Lumpur-London untuk sama-sama meliput berita pertemuan ratu Elizabeth dengan Presiden AS, Barack Obama di Istana Birmingham.
Ayah Bagas merupakan seorang Pengusaha pertambangan Batu Bara yang melakukan Eksplorasi di beberapa Provinsi di Sumatera, yakni sumatera selatan, Jambi, Riau dan di Provinsi Kalimantan Timur. Ibunya seorang Dokter Spesialis Jantung yang bekerja di RSUD Kota Palembang. Bagas memiliki tiga orang Saudara, yang pertama saudara perempuannya sudah menikah dan menetap di Kota Makassar ikut suaminya yang berasal dari Makassar, dan bekerja sebagai sseorang dosen di UIN Hasanuddin Makassar. Dan abangnya saat ini sedang studi S-2 jurusan Ekonomi di Universitas Harvard, Amerika. Dan satu adik laki-lakinya masih di bangku SMP. Ia adalah Mahasiswa lulusan dari Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, jurusan Ilmu Komunikasi dengan predikat lulus Cumlaude 3,98.
Bagas Wanata Abdul Razak, nama lengkapnya, ia orang yang sangat Ulet, rajin, cerdas, kerja keras, pantang menyerah, ramah, sederhana dan rendah hati, meskipun ia anak seorang pengusaha pertambangan kaya di kota Palembang. itu yang ku kenali tentang karakter dirinya selama ini, sudah hampir 3 tahun aku mengenalnya, 2 tahun lebih ketika kami bekerja di Republika, dan beberapa bulan ketika bekerja di Reuters. Ayahnya tidak pernah menginginkan Bagas kuliah FISIP di jurusan komunikasi dan menjadi jurnalis, ayahnya ingin bagas kuliah di Fakultas Ekonomi, ia ingin bagas menjadi penggantinya nanti kelak ketika masa tua. Namun bagas berhasil meyakinkan ayahnya dengan susah payah dan bantuan ibunya untuk meyakinkan ayah bagas, bahwa ia juga bisa sukses dengan pekerjaan yang menjadi hobinya sejak kecil yaitu menulis. Karena dengan menulis ia bisa berbagi dengan sesamanya.

DreamerWhere stories live. Discover now