Aku beruntung akhirnya mendapatkan satu hari libur dan juga akhirnya aku bisa bebas dari teriakkan gadis-gadis dan juga semua pekerjaanku.
Aku berniat menemui seorang gadis. Gadis yang sudah lama aku sukai dan juga yang pernah aku sakiti. Aku tidak bermaksud menyakiti dia, tapi karena aku harus tinggal jauh selama trainee, aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Jadi, aku sengaja membuatnya cemburu dan dengan sendirinya dia memutuskan hubungan kami. Meskipun menyakitkan dan aku tahu aku salah, aku harus kembali dan meminta maaf padanya.
Banyak yang bilang dia adalah gadis aneh dan misterius. Tapi bagiku, dia adalah gadis manis yang sangat baik. Aku bisa mengatakan ini karena pertama kali aku melihat gadis ini tersenyum setelah membantu seorang nenek menyebrang jalan. Mungkin hanya aku yang menyadari betapa manisnya gadis itu jika tersenyum. Yah, karena gadis itu tidak pernah tersenyum, jadi mustahil orang lain menyadari hal itu.
Aku berharap aku bisa bertemu dengannya di jalan ini. Aku berharap dia melewati jalan ini, karena seingatku dia selalu melewati jalan ini untuk menuju rumahnya.
Udara malam yang kering di musim dingin menemaniku di jalan yang tak dilalui banyak orang. Perasaan khawatir mulai melanda, memikirkan apa dia baik-baik saja berjalan sendiri di malam hari yang sepi seperti ini. Rasa khawatir itu reda seketika saat gadis itu muncul.
Di persimpangan jalan yang tidak jauh dari tempatku berdiri, gadis berjaket cokelat, dengan sepasang earphone menutupi telinganya, berjalan ke arahku. Aku tahu itu dia. Gadis itu selalu berjalan menunduk dan membuat poninya menutupi sebelah matanya. Teman –temanku memang tidak salah menjulukinya si gadis aneh dan misterius, karena mungkin jika orang lain melihatnya, mereka juga akan berpikiran sama, kecuali diriku. Aku pikir dia memiliki alasan lain. Alasan kenapa dia selalu berjalan menunduk seperti itu. Tapi bukan saatnya aku memikirkan itu. Aku harus membuat gadis itu menyadari keberadaanku.
Tanpa berpikir panjang, aku berdiri tepat di hadapannya dan membuat langkahnya terhenti. Aku menunggu. Menunggu gadis itu menatap wajahku.
Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya dan dia melihat wajahku. Tidak ada ekspresi yang terpampang di wajah itu. Wajahnya masih seperti dulu, selalu minim dengan ekspresi. Mungkin itu juga yang membuatnya aneh dimata orang.
Aku tersenyum dan mencoba untuk mengatur detak jantungku yang tak beraturan. Aku lepaskan salah satu earphone –nya supaya dia bisa mendengarkan pembicaraanku. “Kau masih ingat aku?” Tanyaku ragu.
“.....” Tidak ada jawaban dari gadis itu, namun dimatanya tersirat sedikit kesedihan dan kekecewaan.
“Aku..... aku ingin minta maaf padamu. Waktu itu, aku hanya ingin kau memutuskan hubungan kita, karena jika aku yang melakukannya aku tidak akan bisa. Jadi, aku sengaja membuatmu cemburu dan itu berhasil. Aku kira kau tidak akan marah, tapi ternyata kau mendiamiku selama beberapa tahun ini. Kau tidak menghubungiku dan tidak mengangkat telepon ataupun membalas pesan –pesanku.” Ucapku penuh dengan nada penyesalan.
“....” Gadis itu masih diam seribu bahasa dan tetap menatapku dengan matanya yang sayu.
Aku melepaskan syal yang aku pakai dan aku lingkarkan syal itu ke lehernya kemudian memeluknya tanpa permisi. Aku bisa merasakan gadis itu sedikit terkejut, tapi dia tidak mencegahku untuk memeluknya. Jadi, aku memeluknya lebih erat dan aku bisa merasakan kenyamanan yang selama ini hilang meskipun gadis itu hanya mematung dan tidak membalas pelukanku. Kenyamanan saat berada di samping gadis itu, kenyamanan saat melihat gadis itu bahagia, kenyamanan saat menggenggam tangan hangat gadis itu dan juga saat memeluknya. Aku sangat merindukan hal –hal itu darinya.
“Saranghae.” Bisikku tepat di telinganya sebelum melepaskan pelukanku itu.
Gadis itu menatapku dengan tatapan menyesal sebelum kemudian berlari pergi meninggalkanku.
VOUS LISEZ
60 Second
Roman d'amourAku ingin menemuinya. Aku harus meminta maaf padanya. Aku harus mengatakan hal yang sebenarnya.
