Bab|1

11 2 0
                                        


Gadis dengan rambut yang diikat asal itu masih saja termenung di bangkunya. Bel sudah berbunyi sedari tadi. Namun,sejak tadi ia masih saja diam di tempatnya tidak bergerak padahal sahabatnya sedari tadi telah memanggil-manggil namanya untuk ikut dengannya ke kantin.

"Bella....,"panggilan itu kini berubah lembut.
Cathrine yang sedari tadi memanggilnya sudah habis akal.Harus dengan cara apa lagi agar Sahabatnya mau ikut dengannya ke kantin.

"Ayo dong,udah satu bulan lo gini terus. Mau sampai kapan?" Lagi-lagi itu yang di katakan Cathrine membuat siapapun yang mendengarnya bosan. Tapi tidak dengan gadis yang berada di depannya ini. Ia tak pernah mendengar kan omelan sahabat nya itu.

"Cowok banyak, Indonesia luas. Apalagi bumi. Diantara mereka pasti ada yang terbaik buat lo,trust me." Cathrine kembali merayu sahabat nya itu." Dion bukan yang terbaik buat lo. Buktinya,dia mutusin lo!"

"Jangan pernah sebut nama dia lagi!"
Akhirnya, Cathrine bisa bernapas lega.
Sahabat nya itu akhirnya Berbicara juga setelah sekian lama. Patah hati sangat berdampak buruk bagi hidupnya.

"Okey,gue gak akan sebut nama dia lagi.tapi,kita ke kantin, ya?Lo belum makan dari kemarin kata nyokap lo,nanti lo bisa pingsan di kelas."Cathrine menatap Bella dengan memohon.Bella hanya membalas memandangi Cathrine tanpa ingin bicara sedikit pun."Ayo"ajak Cathrine yang seolah mengerti sahabat nya itu tidak akan menolak.

•••

Keduanya berjalan menuju kantin. Beberapa siswa yang mengenal mereka menyapa keduanya. Namun, hanya Cathrine yang membalas sapaan itu. Sedangkan Bella masih bertahan dengan diamnya.

Sesampainya di kantin Cathrine meminta Bella untuk duduk saja sedangkan dia memesankan makanan. Bella yang duduk sendiri,tiba-tiba di kagetkan dengan seorang laki-laki yang tiba-tiba saja datang menduduki tempat yang berada didepannya. Awalnya Bella hanya diam menatap laki-laki itu dengan wajah datar. Namun, saat memperhatikan cara makan laki-laki itu yang seperti di kejar setan membuat Bella tersenyum kecil hingga membuat lelaki yang di tatapnya terusik.

"Kenapa?" lelaki itu kini telah selesai makan dan menatap Bella tepat di manik matanya. Bella merasa jantungnya sedikit bergetar,namun ia segera menepisnya jauh-jauh karna baginya ini salah. Ia baru saja patah hati,mana bisa secepat itu ia kembali membuka hati.

"Ada kecap di pipi lo." Bella hendak menyentuh pipi laki-laki itu untuk membantu membersihkan. Namun,laki-laki itu segera menjauh dari jangkauan Bella. Setelah membersihkan wajahnya,lelaki itu hanya diam. Begitu juga dengan Bella. Tak lama,Cathrine datang membawa dua mangkok bakso untuk dirinya dan Bella. Lelaki itu pun pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Lo kenapa?"tanya Cathrine yang bingung dengan Bella yang tiba-tiba tersenyum memperhatikan lelaki itu yang pergi menjauh.

"Ah...," ia menggeleng. Namun, ia ingin bartanya kalau-kalau Cathrine tau."cowok tadi,yang didepan kita tadi. Lo tau gak siapa namanya?"

Cathrine tak langsung menjawab,ia malah menoleh kekursi depannya yang sudah kosong."Gue gak liat,emang kenapa?"

"Kayaknya gue pernah suka sama dia deh!"
Nadine sekarang tersenyum sambil menerawang mengingat-ingat saat dulu ia pernah bertemu dengan lelaki itu pertama kalinya. Saat laki-laki itu mengusap pipinya sendiri hingga menimbulkan lesung pipi yang tak diketahui banyak orang. Nadine ingat, dia pernah suka dengan laki-laki berlesung pipi itu.

" lo masih galau beberapa menit yang lalu dan sekarang lo udah bisa suka sama orang. Wahh....daebak!" Cathrine menggeleng takjub melihat sahabatnya itu. Harus diakui kalau Nadine itu mudah suka dengan seseorang, tapi hanya sebatas suka dan gak lebih. Kalau ia bisa jatuh cinta, itu benar-benar hebat karna Nadine sulit jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta ia akan terjatuh-sejatuhnya seperti orang bodoh. Contohnya, beberapa menit yang lalu.

Nadine masih tersenyum wajahnya yang tadi seperti mayat hidup,tiba-tiba saja bisa berubah hanya karna lelaki itu.
Cathrine yang meliriknya berusaha untuk tau siapa laki-laki yang menyembuhkan luka hati sahabatnya Itu.

"Jangan senyum-senyum mulu,makan dulu,gih. Lima belas lagi bel,"tegur Cathrine. Nadine menoleh kearah Cathrine lalu mengangguk menghabiskan makanannya dengan senyuman.

Lima belas menit yang lalu, bel pulang baru saja berbunyi. Tapi nasib sial dialami kelas Nadine dan Cathrine. Guru yang mengajarnya seperti nya tidak berniat pulang. Padahal seisi kelas sudah tidak fokus lagi dengan apa yang diterangkan guru itu.

Nadine melirik jamnya sedari tadi. Gak bisa di biarin, Nadine langsung berdiri dari tempat duduknya. Seisi kelas sekarang menatapnya termasuk Bu Siti,guru yang mengajar kelasnya saat ini.

"Kenapa Nadine?" tanya sang guru. Kenapa?pake nanya lagi sih,ni ibu."Udah pulang,Bu. Saya mau pulang,mama saya nyariin di rumah."

Sang guru melihat keluar lalu berjalan ke mejanya dan membereskan buku-bukunya.
"Baiklah,sampai disini saja pelajaran hari ini. Jangan lupa besok PR-nya dikumpul di meja ibu sebelum bel." setelah mengatakan itu ia melangkahkan kaki pergi meninggalkan kelas.

•••••
Hai guys!!!mungkin menurut klian crita aq terlalu mainstream ya memang aku akui
#authormewek

Tapi smoga klian suka,ya😍
Don't forget to voment and comment ya guys

Min_cha

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 26, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Love MeWhere stories live. Discover now