We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Why did you do it? eps. 1 : Sekolah baru

9 1 0
                                        

Aku berjalan menyusuri taman.
Udara dingin menusuk diriku.
Aku tak tahu arah jalanku.
Bagiku, diriku dipenuhi oleh kegelapan.
Tak ada lagi warna dalam hidupku.

'•••°•••°•••°•••°•••'

Pagi ini adalah hari pertamaku di SMP. Pada akhirnya aku bisa bersekolah di sekolah idamanku. Record School. Entah mengapa aku menyukai sekolah itu, padahal, aku tak pernah mengunjungi sekolah itu.

Sesampai di Record School, aku mencari kelasku. 7.1. Aku sempat tersesat dan akhirnya aku menemukannya. Aku tidak tahu seluruh murid di kelasku. Aku tak mengenal siapapun. Aku berjalan menuju mejaku. Lalu tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku dan berkata "Hai!, kau anak baru ya?, siapa namamu?" Tanyanya. Akupun menjawab sambil melemparkan seulas senyum "Halo!, namaku Clara Peterson. Kau bisa memanggilku Clara. Siapa namamu?". "Perkenalkan namaku Jane Levine. Kau bisa memanggilku Jane."

Kami menjadi sahabat sejak itu.
Kehidupanku lancar-lancar saja.
Kecuali, aku selalu penasaran dengan 1 pria bernama Ferrel Anderson. Dari pertama kumelihatnya, aku merasa ada sesuatu yang menarikku kepadanya. Tetapi aku tak tahu apa itu.

'•••°•••°•••°•••°•••°•••°•••°•••°'

Waktu berjalan begitu cepat.
Semester 1 sudah berlalu.
Sebentar lagi semester 2 akan datang.
Aku senang karena nilai raportku bagus.
Tanpa sengaja, saat perjalanan pulang aku melihat Ferrel. Ia juga melihatku. Ia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku sehingga sontak aku membalasnya dengan senyuman dan lambaian.

Sebenarnya aku terkejut saat ia memberikan senyuman dan lambaian itu. Padahal, aku belum pernah berbicara dengannya.

'•••°•••°•••°•••'

Hari pertama semester 2, aku dan teman-temanku bercerita tentang liburan 1 sama lain.

"Clara, kau dimana saat liburan?"

"Aku pergi ke Jakarta dan Ancol. Bagaimana denganmu?"

"Aku pergi ke Bali dan Yogya. Bagaimana denganmu Ellen?"

~Blablabla

Namun, ditengah pembicaraan, aku merasa diperhatikan sehingga aku melihat kebelakang dan mendapati Ferrel melihat ke arahku sambil tersenyum. Yah, senyuman yang misterius. Ia berpaling saat aku melihatnya.

Saat pelajaran Olahraga,
"Jane, ayolah bermain basket denganku."

"Maaf Clara, aku sedang tidak ingin."

" baiklah, aku akan bermain sendiri saja."

Akupun berjalan sambil membawa bola basket ke lapangan sebelah kanan. Tanpa sengaja aku melihat Ferrel juga bermain basket di lapangan kiri. Aku bermain sendiri. Namun, saat aku meng-shoot bola, ada bola lain yang masuk kedalam ring. Aku menoleh dan mendapati Ferrel sedang bermain di tempatku. Aku terpaku melihatnya dan iapun berkata
"Clara, mengapa kau berhenti bermain?"

"A,aku tidak berhenti. Aku hanya menentukan posisi ring dan bola." Jawabku salah tingkah.

"Clara, ring ada disana bukan disini." Katanya sambil cekikikan.

"Oh iya😅" jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Kami bermain basket bersama pada akhirnya. Semenjak itu, kami menjadi dekat. Dan sangat dekat. Tanpa kusadari aku mulai mencintainya. Aku tak pernah tahu apa yang dia rasakan namun, aku merasa sangat nyaman dan aman bersamanya.

Namun,
Belakangan ini ia seperti menjaga jarak dariku. Entah mengapa.
Aku merasa sedih. Aku tak bisa mengatakan apapun kepadanya. Aku hanya menahannya sendirian.

'•••°•••°•••°•••°•••°•••'

Kelas 8 telah tiba. Aku dan dia terpisah jauh. Aku kelas 8.4 dan dia 8.1. Aku ingin sekali menghampirinya. Namun, aku linglung apakah dia akan menerimaku atau tidak. Aku sering pergi ke 8.2 karena mayoritas teman-temanku ada disana. Termasuk Jane.

"Halo Jane! Kau kelas 8.2 ya?"

"Tentu saja. Kalau kau kelas berapa?"

"Aku dapat kelas 8.4."

"Hai Clara!" Ucap Cheasy mengunjungi kami.

"Halo!"

"Clara, apakah kau mau tahu sesuatu?"

"Apa?"

"Aku mempunyai id line Ferrel apakah kau mau?"

"Tentu!" Jawabku cepat tanpa berpikir panjang.

Aku mendapatkan kontaknya dan mulai mengobrol dengannya. Awalnya dia biasa saja. Namun, kami sempat bertengkar hebat karena salah paham. Aku minta maaf kepadanya karena salah paham terhadapnya. Ia memaafkanku tetapi, kali ini berbeda.

Ia menjadi sangat menyebalkan dan cuek kepadaku.

Bersambung...

Why did You Do It?Stories to obsess over. Discover now