Prolog

14 5 1
                                        


Tania sabrina, Gadis berambut sebahu dengan mata bening ini menatap pemuda dihadapannya ini. Ia menatap tak percaya pemuda ini. Menelaah dalam mata sang pemuda untuk mencari kebenaran dari perkataannya.

Sedangkan sang pemuda tak mampu lama menatap Tania. Ia takut merasa bersalah pada gadis yang 1 tahun lebih ini menjadi bidadarinya.

"Jadi keputusannya sudah bulat?" Tanya Tania mencoba mencari keyakinan.

"Iya dan maaf karena aku sudah jenuh dengan hubungan ini. Maaf sekali lagi jika perkataanku lancang. Karena nyatanya kau tak kunjung mengerti apa yang kuinginkan, aku nyaman denganmu dan sangat mencintaimu tapi semakin lama kau seperti tak ingin membalas itu."

Tania meringis kecil mencoba menahan perasaannya yang kini amat perih. Pada dasarnya ia adalah gadis yang tak mudah takluk oleh cinta. Tapi saat ini karena cintanya ia hancur, hatinya patah seketika mendengar sang lelaki ingin memutusan hubungan dengannya.

"Aku mencintaimu didalam hatiku dan itu cukup menurutku, Apa harus selalu aku umbar padamu?"

" Tan bukan itu maksudku. Kau seperti tak pernah cemburu padaku,"

"Karena aku percaya padamu"

"Lalu kau sering tak mengerti jika aku membicarakan hal romantis, kau selalu enggan aku pamerkan dengan teman-temanku, Kau tak pernah ingin jika kita pergi berdua saja,"

"Itu terlalu berlebihan kak"

"Tapi seperti itulah cara yang kuinginkan"

"Lalu mengapa 1 tahun ini kau tahan dengan cara seadanya?" Tanya Tania seakan mengintrogasi

"Karena aku mencintaimu."

"Lalu sekarang kau tak mencintaku lagi. Kau sudah jenuh dan ingin mengubah cara yang ada." Emosinya mulai memuncak namun Sebisa mungkin ia tahan.

"Bukan begitu Tan,"

"Aku tak bisa berlebihan seperti itu kak"

"Baiklah jika begitu. Berarti keputusanku tak salah jika kita berhenti"

"Baiklah kita beda walau telah menjalaninya 1 tahun lebih. Maaf telah membuatmu memiliki banyak keluhan kak. Terima kasih karena telah berterus terang. Permisi"
akhir kata itu membuat Tania memilih pergi.
Pergi dari hadapan pemuda itu. Dadanya sesak otaknya juga masih kebingungan. Ia tak habis fikir dengan yang baru saja terjadi. Hubungannya dan sang kekasih telah putus hanya karena keinginan-keinginan satu sama lain yang tak bisa terpenuhi. Tania mengingat perkataan teman-temannya

'Lo terlalu sering gak peka Tan'
'Dia itu pengen perhatian lebih contohnya lo chat dia duluan. Udah 1 tahun masa lo masih malu ngechat dia duluan'

'Emang gitu caranya pacaran lo kaya baru pertama aja. Itu gak berlebihan tau'

'Arrrggghhh'

Tania memeluk guling kamarnya dengan erat sangat erat berusaha menuangkan segala kesedihan dan amarah yang ia punya.

AFL[3]- STUCKWhere stories live. Discover now