Bule Nyasar

244 1 0
                                        


Kabayan masih nyungsep di bawah lipatan kain bekas spanduk kampanye pilkada yang dijadikan bantal, di saung Haji Kopet. Tidurnya pules banget, sampe ngiler segala. Dan celakanya, ilernya itu tepat jatuh di gambar wajah calon bupati yang sedang tersenyum itu. Kalo saja itu bukan gambar, tapi sang calon bupati sendiri, mungkin ia sudah muntah-muntah tujuh hari tujuh malam karena mencium aroma iler Kabayan yang merupakan perpaduan dari tiga unsur aroma, JPJ; jigong, pete, dan jengkol.

Sementara Kabayan ngorok dan mimpi ketemu bidadari Talaga Cugenang, burung-burung pipit berpesta pora nyolongin bulir-bulir padi di sawah milik Haji Kopet yang seharusnya dijagainya. Saat yang lain memetik sebutir padi lalu membawanya terbang menjauh, seekor pipit yang badannya paling gede, sibuk mengisi telih-nya (1) dengan butiran padi bernas itu. Setelah kenyang, ia berusaha membawa lima bulir padi sebagai bekal makanannya nanti, hingga paruhnya penuh. Seekor temannya menegur burung gendut itu. "Jangan kemaruk atuh Ndut, bawanya satu-satu aja...."

Si Ndut melotot, "Biarinnhh, biarrrh epektippphhh dan episienhh (2) nggakhh kayakhh kamuhh bolakhh balikhhh cumahh bawahhh sebijihh, capekhhh dehhh..." katanya dengan suara nggak jelas karena paruhnya penuh.

"Terserah lah, saya mah cuma ngasih tau, didengerin sukur, nggak ya sudah... asal tau aja, sebentar lagi yang punya sawah datang, bisa-bisa kamu mati dibandring (3) gara-gara nggak bisa terbang gesit..." kata burung tadi.

"Ahhh, sotoyhh manehhh (4) mahh, liathh ajahh tuhh, yang punyahh lagi ngorokhhh di saunghh..." kata si Ndut lagi sambil meloncat ke daun padi yang lain karena nggak bisa terbang langsung.

"Yeeehhh.. itu mah si Kabayan, bukan yang punya.. dia mah cuma nungguin... untung aja Allah menciptakan orang malas kayak dia, jadi kita punya kesempatan buat nyari makan.. coba kalo orang lain yang jaga, nggak mungkin kita bisa ngasih makan anak bini kita!" kata burung itu lagi, "Ya sudah lah, terserah kamu, saya mah mau duluan..." dan burung itu pun melesat terbang meninggalkan temannya yang cuma bisa meloncat-loncat dalam jarak dekat.

Mari kita tinggalkan dulu kisah si Ndut, burung pipit yang kemaruk itu. Kita kembali pada Kabayan yang saat tulisan ini dibuat sedang dibawa terbang oleh bidadari ke langit.

Saat Kabayan melihat ke bawah, tampak Talaga Cugenang yang airnya membiru makin mengecil. Kabayan rela dibawa terbang bidadari meninggalkan Buana Pancatengah (5), toh di dunia juga dia susah sekali mendapatkan kebahagiaan. Nyi Iteung, satu-satunya orang yang diharapkan akan menjadi sumber kebahagiaannya, sekarang malah ikut meninggalkannya. Iteung yang punya bodi ditilik ti gigir lenggik, diteuteup ti hareup sieup (6) itu, konon tak mau lagi menemui Kabayan, karena Iteung sudah dipingit, ia mau dikawinkan sama Juragan Soma, bandar jengkol paling ngetop se-kampung Cibangkonol.

Saat Kabayan makin tinggi, tiba-tiba terdengar suara memanggil dari bawah sana, "Kang Kabayan... turun Kang... jangan tinggalin Iteung...."

"Heup heula (7) Neng Pohaci (8) itu ada yang manggil sayah di bawah, kayaknya Nyi Iteung, pacar sayah..." kata Kabayan pada bidadari yang mengangkatnya.

"Nggak boleh berhenti Kang, kalau mau ikut, kita harus terus, sebentar lagi jembatan pelanginya mau ditutup (9)," kata bidadari yang cantik itu (10), "kalau Akang mau turun, saya turunkan sekarang juga!"

"Tunggu atuh Neng, sebentar sajah, sayah cuma mau nanya sama dia, kalau dia mau jadi istri sayah, sayah nggak jadi ikut ke Kahyangan, tapi kalau dia tetep mau kawin sama Juragan Sompret, sayah ikut Neng Pohaci..." Kabayan masih mencoba bernegosiasi dengan bidadari yang wajahnya selalu berubah-rubah itu, kadang mirip Dian Sastro, kadang mirip Raisa, kadang mirip Neng Fatimah (11). Tapi mirip siapapun, wajahnya tetap cantik.

Kabayan UnderworldWhere stories live. Discover now