00|PROLOG

8 1 0
                                        

Ah, pagi ini sama seperti hari biasanya. Tidak ada hal yang berubah, aku tetap hidup sendiri tanpa ayah dan ibu. Mereka tidak akan kembali lagi.

Mereka meninggal dunia 8 tahun yang lalu karena kecelakaan. Sehingga memaksaku untuk bisa hidup sendiri, sulit memang. Awalnya. Tapi kini aku mulai terbiasa dengan suasana sepi ini. Terbiasa sendiri yang jelas.

Tapi, bukan berarti aku bisa langsung kuat dengan apa yang kuhadapi saat ini. Ya, aku sempat depresi. Bagaimana tidak ? Orang tua ku meninggal saat aku masik duduk dikelas 3 SD. Aku masih terlalu kecil untuk paham bahwa aku sudah harus hidup tanpa mereka berdua.

Tapi, bibi terus berusaha mengembalikan senyum diwajahku. Ya, dia mungkin hanya sebatas asisten rumah tangga bagi mereka diluar sana. Tapi dia sudah seperti orang tuaku. Yang selalu ada disetiap suka dukaku. Aku sangat sayang dengannya.

Sebentar, kok aku seperti merasa ada sesuatu yang aku lupakan ya? Ah, mungkin perasaanku saja kali ya, memang apa yang harus aku lakukan pukul 6.15 pagi seperti ini, haha. Dasar.

"Apa?! Jam 6.15. Astaga! Aku kesiangan." aku bersiap secepatku. Tanpa mandi, tentu. Ah, tidak perduli. Yang penting aku sudah gosok gigi dan memakai deodoran di tempat terindah.

"Aduh, bisa-bisanya aku telat. Kenapa Bibi ga bangunin sih?!" gerutuku sambil tetap bersiap.

Setelah siap aku langsung lari turun kebawah, sambil berteriak heboh sendiri.

"Non, mau kemana? Sarapan dulu" Teriak Bibi.

"Ah, ga sempet Bi. Kesiangan. Bibi sih ga ngebangunin" sahut ku yg teriak juga, karna lari ke arah luar.

"Eh, Non tunggu"."Aduh, si Non Nada biasa deh" eluh Bibi.

***
"Kang Supri. Ayo cepetan, siapin mobil. Telat nih" Teriakku memanggil Kang Supri, supirku.

"Eh non mau... "

"Aduh nanti aja ngomongnya. Ayo kang siap-siap. Telat nih." Jawabku yang memotong omongan Kang Supri.

"Iya Non. Sebentar" Sahut Kang Supri yang keliatan panik tapi bingung sendiri. Ah sudahlah tidak perduli yang penting aku harus sampai sekolah tepat waktu.

Tak lama mobilpun datang, aku langsung bergegas masuk ke mobil. Dan mengintruksi Kang Supri untuk cepat. Bahkan menyuruhnya ngebut. Aduh, tidak patut sekali aku.

***
Kisaran 15 menit. Aku sudah sampai sekolah. Tanpa berfikir yang tidak tidak aku langsung turun dan berlari ke gerbang yang terlihat sudah ditutup.

"Ah, sial. Telatt!" umpat kusebal.

Sampai depan pagar aku berniat merayu satpam untuk dibukakan pintung gerbangnya

"Pak, tolong dong bukain. Nanti Bapak pasti dapet pahala deh, nolongin orang yang mau nuntut ilmu. Serius" pintaku dengan wajah memelas.

Dan tak disangka, satpam yang tadinya geleng-geleng melihatku langsung tertawa sejadi-jadinya.

"Hahaha, aduh neng. Sini masuk aja, ke pos dulu tapi."

"Yah, ngapain lagi si pak. Telat ini" tanyaku sebal.

"Mau masuk ga?"

"Ya mau, yaudah iya." terpaksa aku menurut.

Sampai didalam, aku heran pak satpam itu menunjukan gelagat aneh sambil menahan tawa.

"Nih neng" mengajukan kalender meja "liat ini tanggal berapa? Haha" lanjutnya
"Ya, tanggal 21 lahhhh" jawabku, "astaga. Ini hari minggu ya?" sadarku.

"Hahaha, udah bangun nih berarti neng? Yaudah sana pulang balik lagi besok. Hebat bener semangat sekolahnya. Haha" tawa pak satpam meledekku.

"Aduh malu banget. Yaudah saya pamit pak." ucapku dengan dengan senyump enuh arti.

"Wah, Kang Supri" Buru Buru aku lari keluar. Untungnya, Kang Supri belum pulang. Sepertinya dia tau deh kalo aku bakal balik lagi ke mobil.

"Kang, kenapa ga bilang sih?" protes ku saat baru saja duduk di jok mobil

"Haha, abis non serius bener. Ga berani ganggu" ledeknya

"Ah, capek tau lari lari. Bukannya bilang dari tadi si akang mah" gerutuku sebal.

"Haha, gapapa non. Itung-itung olahraga, sekalian hiburan" saut Kang Supri

"Iya, hiburan buat Akang. Kecapean buat saya" lanjutku sebal tapi sekaligus menahan malu. Jelas saja, kalo cuman dirumah ga masalah. Kan ga ada orang luarnya. Ini udah kepalang sampe sekolah. Aduh, ya ampun.

***
Sampai rumah aku langsung melempar tas dan merebahkan diri disofa yang empuk.

"Aduhh, capeknyaa"

"Eh non, udah pulang? Gimana non sekolahnya? Lancar? " tanya bibi yang jelas sekali sambil menahan tawa.

"Lancar sekali. Terimakasih Bi" sahutku dengan senyum seikhlas mungkin.

"Hahaha, makanya Non. Lain kali, kalo orang ngomong dengerin dulu jangan asal dipotong-potong. Emangnya kue". Timpal Bibi padaku

Ah, yasudah lah. Tapi seru juga, jadi hiburan sendiri meskipun malu juga. Tapi, cukup buat aku ketawa tawa sendiri sih. Hehehe.

---------------------------****----------------------------

Hai Readers!
Ini cerita Perdana, ceritanya.
Jadi maaf ya kalo banyak salah disini.
Atau, yaa sedikit ga jelas.

Tapi saya bakal tingkatin terus ko. Jangan lupa tinggalkan jejak dan bintangnya ✌

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 23, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Nada LangitStories to obsess over. Discover now