Perkenalan

34 1 0
                                        

Hay sebelumnya perkenalkan dulu nama ku Tiara, aku biasa dipanggil ARA.

Dan itu nama panggilan ayahku untuku, aku putri sulung ayahku yang paling Melankolis jika bersama ayahku tapi ayahku tidak mempermasalahkan itu karna ayahku sayang padaku dan aku sangat menyayangi ayahku.

Sejak kecil aku sering bercerita apapun bersama ayahku, apapun yang aku alami dan apapun yang aku rasakan pasti aku curahkan semuanya kepada ayahku.
Dia pasti akan menyediakan pundaknya ketika muka ku sudah berubah cemberut misalkan pasti yang pertama kali menanyakan KENAPA yaaa ayahku.

Memang aku sedikit jauh dengan ibuku, ehh tunggu maksud dari kata JAUH  itu bukan berati aku tidak menyayangi dia maksudku aku lebih sering mencurahkan semuanya kepada ayahku pasalnya ibuku seorang yang cuek dan yaaa bisa dikatakan ibuku tidak terlalu mengerti soal perasaanku.

Ibuku hanya tau bahwa putri Sulungnya bahagia karna aku tidak pernah menampakan wajah cemasku kepadanya.

Dan ibuku adalah seorang yang tegas, cara mendidik anak antara ayah dan ibuku itu sangat berbeda. Ibuku seorang yang Egois (sorry mom)  apapun keinginannya haruslah dituruti dia sering menasehatiku dan adiku dengan nada tinggi pasti itu membuat kita kesal namun yaaa itulah Ibuku. Tak sering juga dia memanjakan kita dan membelai kepalaku ketika aku tidur, (sebenarnya hatinya lembut seperti sutra).. hehe

Adiku dia seorang yang cerewet bibirnya bagai tak pernah cape untuk berbicara selalu saja mengomeli kakak nya ketika melakukan hal yang menurut dia salah (tapi menurutku benar).
Huuuft dasar anak kecil hehe.. sering pula dia memarahiku ketika aku telat makan pasti yang marah-marah pertama kali ya adiku.
Dia memang sangat perhatian dengan kakak nya ini. hehe..

Lanjut ke cerita awal yaaa..

Setelah aku melihat rumahku berantakan dan mencari ayah dan Ibuku tidak ada dirumah
akupun bertanya kepada tetanggaku "sebenarnya apa yang terjadi?!" Tanyaku dengan cemas.

Lalu tetangga depan rumahku bercerita, semua yang terjadi selama aku tidak ada dirumah.

Dan ternyataaaa, KEDUA ORANGTUA ku selesai bertengkar abis-abisan!
Itu membuatku syok dan down, aku langsung terngangah dengan mata membulat selama beberapa detik badanku kaku saking syok nya diriku mendengar itu.

"Lalu kemana ayah dan ibuku bi?" Tanyaku kepada tetanggaku dengan mata berkaca-kaca.

"Entahlah, bibi tidak tau nak. Sepertinya Ibumu pergi ke rumah Bibimu di RT sebelah"
Lalu "tenang nak, tenangkan dulu hatimu. Semua akan baik-baik saja" jawabnya lagi sambil memegang pundaku dan menenagkanku.

Namun, tetap saja aku khawatir aku takut terjadi hal yang tidak aku inginkan kepada mereka.

Adiku.. aku tidak tau dimana dia, apa jadinya adiku jika dia melihat kedua orangtua nya bertengkar didepan dia?!
Aku takut, aku benar-benar takut.

Lalu aku lari dan langsung menuju rumah bibiku di RT sebelah dengan keadaan air mata membasahi pipiku aku tidak peduli semua orang memperhatikanku sepanjang jalan, aku hanya ingin bertemu mereka dan bertanya sebenarnya apa yang telah terjadi?! Dan kenapaaaa?!

Sampai dirumah bibiku, ternyata benar Ibuku ada disana sampai dipintu aku melihat Ibuku sedang duduk bersama bibiku sambil menangis dan marah-marah entah apa yang mereka bicarakan, tapi aku mendengar kata yang tak pantas dikatakan ibuku kepada ayahku.

"Aku takuuuutt.. ayah kau dimana?!" (Dalam hatiku)

Tak lama kemudian ibuku dan bibiku menyadari bahwa aku ada didepan pintu rumahnya dengan mata penuh dengan airmata dan tas besar digendonganku, aku terlihat berantakan karna aku sama sekali belum membenahi diriku.

"Ara kau berada disitu sejak kapan?" Tanya bibiku dengan heran dan nada lembutnya.

Bibiku memang seorang yang lembut, penyayang dan baik hati.
Sejak kecil aku selalu mendapatkan kasih sayang darinya sampai dia menganggapku anak dia sendiri karena selama pernikahannya dengan pamanku mereka belum dikaruniai seorang anak.

"Ibuuuu?" Aku berlari menghampiri ibuku, aku langsung memeluknya dan berkata "sebenarnya apa yang terjadi?"
Tanyaku lagi dengan suara terbata-bata karna itu keluar ditengah tangisanku.

"Ayahmu!"
Bentak ibuku disamping telingaku karna posisi waktu itu aku masih memeluk ibuku.

Aku langsung melepas pelukanku kepada ibuku, dan memegang tangan ibuku.
"Maksud ibu?" Tanyaku heran dengan posisi masih syok.

"Dia sudah melakukan KDRT kepada ibu! Ibu dipukul dengan tangannya. Tapi ibu berhasil menangkisnya. Alhasil tangan ibu lebam merah sampai bengkak seperti ini".
Jawab ibuku dengan nada marah dan kesakitan sambil menunjukan tangannya yang lebam.

Aku tak kuasa menahan tangis, tangisku semakin meraja lela, seakan-akan tak bisa berhenti dan seakan-akan aku kehabisan nafas karna tangisku.

Seketia aku berhenti dan mengusap air mataku, lalu aku berkata "ayah tidak mungkin melakukan itu bu! Pasti ayah mempunyai alasan"
Tanyaku menyangkal pernyataan ibu tadi.

"Ceritakan padaku bu awal dari semua ini apa?".

"Kau tidak akan mengerti Ara!!"
Jawabnya dengan nada tinggi.

Aku langsung diam, dalam hati berkata "Ini sungguh tidak mungkin! Ayah tidak akan melakukan itu pada ibuku!
Ayah sayang pada ibu, ayah tidak mungkin melakukan itu tidak mungkiiiiin.."
Jeritku dalam hati.

"Ara?" Tanya bibiku sambil memegang pahaku.

Aku langsung terkejut dan berlari ke kamar bibiku dengan airmata yang tak tertahan.

Air mata itu semakin menusuk-nusuk mataku ketika aku melihat adik ku berada diatas kasur kamar bibiku dengan keadaan tertidur dan menutupi mukanya dengan bantal.
"Seperti nya dia sedang menangis" (ujarku dalam hati.

"Dede kau sedang apa? Apa kau baik-baik saja?"

Adiku hanya diam tak bergerak, dan aku memeluknya sambil berkata "Tenang dek, semuanya akan baik-baik saja kok. Kaka disini bersama kamu".

Aku mencoba menenangkan adiku, yaaa biarpun aku sendiri sedang tak karuang sama seperti adiku.

Diapun membalas pelukanku erat,

Ayah?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang