We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prologue

70 8 4
                                        

Gadis itu menangis. Rambutnya yang berwarna cokelat terang itu diterpa sinar matahari pagi yang hangat.

Pagi itu cerah, tapi hatinya tengah badai.

Namanya Charon, ia sedang sakit hati.

***

"Kamu serius mau balik ke Korea?" tanya Papa. Charon mengangguk, matanya masih sembap. Papa kemudian menghela napas panjang. "Yah, mau gimana lagi. Papa nggak bisa apa-apa. Bahkan kamu bela-belain ke LA dari Jakarta buat ketemu Papa...," kata Papa lagi.

Ya, Charon nekad membeli tiket pesawat ke LA dari Jakarta demi memohon kembali ke Korea. Ia tidak bisa berlama-lama di Jakarta. Terlalu menyedihkan.

"Karena kamu juga sedikit memaksa, mau nggak mau Papa izinkan. Lagipula Papa nggak mau anak Papa jadi badgirl gara-gara stress," lanjut sang ayah. Charon tersenyum tipis, lantas mengibaskan rambut.

Ia memang stress.

"Kamu di LA sampai kapan?" tanya Papa.

"Mungkin seminggu, Pa."

"Oh, ya. Apa kabar Dean? Hubungan kalian baik-baik aja, kan?"

"Nggak, Pa."

Mendengar jawaban putrinya, air muka Papa berubah terkejut, lantas khawatir. "Kenapa kalian? Berantem? Pasti ada alasannya, kan?" Papa memborong banyak pertanyaan.

Charon menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk bangkit dari sofa empuk ala rumah mereka di Los Angeles, lalu tersenyum getir menatap sang ayah.

"Aku nggak mau bahas itu ah, Pa. Nggak penting. Oh ya, aku mau ke kamar Charles aja sekarang," katanya--mengalihkan topik obrolan.

Papa makin bingung lagi.

Tapi naluri seorang ayah tahu, bahwa pasti Charon tidak mengalami masalah yang kecil. Ini masalah besar. Sampai nekad pergi ke Los Angeles untuk minta izin pindah ke Korea Selatan.

Pasti masalahnya besar. Putrinya itu datang jauh-jauh dari Jakarta membawa sepasang mata yang sembap.

Pasti, pasti masalahnya besar.

***

Beanie biru, sweater senada, ripped jeans hitam merupakan outfit favorit Charon ke bandara.

Charon harus kembali ke Jakarta untuk mengepak barang-barangnya. Ia tidak akan memberi tahu siapapun tentang kepindahannya.

Terutama Dean, seseorang yang menjadi penyebab pindahnya Charon.

Gadis itu sudah duduk nyaman di kursinya, menunggu take off. Selang pesawat mulai terbang, Charon pun terlelap.

***

"Wake up, Miss... You were already arrived."

Charon mengerjapkan matanya. Ia sudah sampai di Jakarta.

Charon melempar senyum pada pramugari, lantas turun dari pesawat setelah mengambil ranselnya. Gadis itu berlari kecil menuju gedung bandara, rambutnya berkibar indah ditiup angin sore yang lembut.

Hold Me TightStories to obsess over. Discover now