Yang Dirayakan

50 0 0
                                        

Umurku 19, dan masih belum pacaran. Tapi, aku tahu, yang namanya patah hati.

Ketika melihatnya lungkrah. Menatapnya tertidur lemas tanpa rencana di deretan belakang kelas dan tangan pualamnya yang lebam-lebam, terkulai jatuh menghantam sisi kursi.

Perlahan, dia akan bangun. Membuka mata kecilnya yang berkelopak kiri sedikit lebih besar. Tapi, itu justru membuatnya makin menawan. Lalu, dia akan kembali merebut napas dan kesadaran. Matanya menangkap mataku yang tergeragap mengkhawatirkannya. Aku tersenyum gugup sambil memberi tanda ke arah lengan sembapnya yang terbuka. Dia cepat membetulkan sweater biru lusuh namun begitu pas menyuguhkan badannya itu. Menyembunyikan memar, luka, dan rahasia lainnya.

Namanya Saira. Bukan yang paling cantik. Atau dibekali tubuh maha seksi. Tidak juga penuh dengan argumen pikir yang menantang dunia. Tapi, jelas yang paling bisa membuatku ingin mengulurkan genggaman terbaikku. Lewat kerucut bibirnya saat bingung memilih kopi instan atau tubruk di kantin. Melalui senyumnya yang tiba-tiba muncul saat sedang larat membaca komik atau novel di sudut kampus yang riuh. Juga kerjapan yang seolah cemas, kalau bola matanya akan luruh. Semua itu, selalu bikin senyum terbaikku, tumbuh.

Ketika Dosen Filsafat selesai menyebutkan tugas untuk kelas minggu depan, dia menyambar tas dan melarikan kakinya yang jenjang menembus kerumunan, menuju lorong kampus. Menelusup ke pelukan sesosok cowok berbadan menjulang dengan otot komplit yang akan merengkuh lalu menciumnya dengan penuh kuasa di tengah orang banyak. Dan, tak ada yang terganggu, karena mereka memang serasi.

Aku tersenyum tipis. Berbalik menyeret langkah, seperti biasa. Aku, Raka, cowok 19 tahun yang belum pernah pacaran, tapi seperti yang sudah aku bilang, paham apa itu patah hati.

***

Seminggu belakangan ini, adalah waktu yang amat sibuk buatku. Menjelang Idul Adha. Bukan, bukan menjadi panitia kurban yang berkubang dengan kulit, tulang dan tendon-tendon sapi. Tapi karena Ayah-Ibu sudah cerai sejak 3 tahun lalu, aku harus menjalani dua lebaran haji. Ritualnya, dibagi adil. Tahun lalu aku sholat di tempat Ibu, tahun ini giliran di rumah bersama Ayah.

Sebenarnya, bukan cuma aku yang harus membagi badan, Mbak Ara, kakakku, harusnya juga begitu. Harusnya. Tapi sejak Ayah-Ibu pisah, Mbak Ara ribut dengan Ibu. Puncaknya, sudah total setahun ini, mereka tidak bicara. Mbak Ara memilih kost di Bandung. Aku hanya bisa meraba dalam ruangan gelap, apa yang membuat mereka bertengkar. Dan ruang itu, aku gambar di buku sketsa sebagai kamar penuh jarum dan lidah-lidah tajam pengiris telinga.

Aku memilih menjauh.

Mendekat pada Ayah yang sejak bercerai dengan Ibu seperti mati angin. Tak satu pun lagu yang dia hasilkan. Padahal, Rangga Karnedi adalah penulis lagu hits kenamaan. Meski pencipta lagu tidak kebagian gemerlap kehidupan selebritas, tapi untuk urusan rejeki, tidak kalah terang.

Itulah kenapa, meski tak produktif, Ayah masih bisa membiayaiku kuliah dan lainnya, lewat jatah royalti. Salah satunya lewat lagunya yang sudah masuk taraf evergreen, "Satu Mimpi Renjana". Konon sudah banyak mempelai yang diantar ke pelaminan lewat lagu itu. Ayahku potongannya gahar khas rocker tapi hatinya kapas-manis. Kebanyakan, lagu-lagu hitsnya selalu bisa aku bayangkan seperti handuk lembut yang dipakai untuk mengusap tubuh sehabis kehujanan menunggu pacar yang tak datang di ujung gang.

Tapi tiga tahun terakhir, Ayah habiskan untuk percaya, bahwa Ibu akan kembali ke rumah. Ke dalam pelukannya. Walau jelas-jelas, Ibu sudah pacaran dengan Oom Jaka sejak dua tahun lalu. Kadang dengan amat mengenaskan, aku menemukan Ayah mengendap-endap mengintili Ibu yang sedang belanja bulanan di supermarket. Atau kepergok memandang ke pagar rumah Ibu yang baru, dari mobil yang dia parkir jauh di seberang.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 24, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Apalagi Tentang RinduStories to obsess over. Discover now