Part Eight

22 0 0
                                        

Baru saja Lian duduk dimeja kantin kampusnya. Suara cempreng Bella membuat Lian menahan malu dan kesal. Sahabatnya yang satu ini beda dari yang lain. Gaya fashionable. Barang barangnya update. Paras ayu dan anggun Bella sungguh memikat. Tapi sayang kelakuannya yang kayak anak balita.

"Lian eh Li" Lian yang merasa dipanggil namanya kembali menolehkan kepalanya kesumber suara. Bella yang berdiri tak jauh darinya sedang mengatur napasnya. Terlihat ngos ngosan abis lari marathon kali ya?

"Apa deh?"

"L..lo tau nggak..." napas Bella tak beraturan hingga kakinya langsung melangkah menuju tempat duduk disebelah Lian.

"Tenangin dulu baru ngomong" Segelas air putih diberikan Lian pada Bella. Bella langsung menegak air itu hingga tandas. Kasian juga ini anak, apa nggak dikasih minum dirumah eh?

"Lo tau nggak..."

"Nggak"

Bella merengut. Bibirnya manyun hingga membuat tawa Lian terlepas.

"Itu yang punya univ ini katanya sering nyamar gitu. Trus katanya juga jadi the most wantednya di univ ini. Mereka apa pada nggak tau apa yang jadi the most wantednya univ ini ternyata pemiliknya ya?"

Lian membulatkan kedua matanya. Kata kata Bella baru saja dicernanya. Dan tadi apa kata Bella? Sering nyamar? apa waktu itu yang ditabraknya adalah Albern? si pemilik univ ini? benarkah?

"Hoi ngelamun aja" Jus yang dipegang Lian yang semula utuh tinggal seperempatnya. Ini siapa yang minum coba?

Seketika Lian menatap gadis disebelahnya yang tak lain adalah Bella. Bella dengan tampang tak berdosanya menelan semua jus yang berada dimulutnya dengan sekali tegak. Setelah itu Bella tersenyum manis pada Lian. Boleh gak bakar orang???

"Trus dia nyamarnya jadi anak kuliahan juga?"

"Jelaslah. Emang mau nyamar jadi apa? tukang kebun? tukang parkir?apa tukang ngupil?" kata Bella gemas. Eh beneran tukang ngupil? jijik gue

"Hehe ya kali aja Bell" kekeh Lian sambil membayangkan seorang Albern yang menyamar menjadi apa yang baru saja disebut Bella. "Lo pernah ketemu sebelumnya sama pak Albern?" tanya Bella. Wait! Pak? Pak Albern? tua banget dia ya?wahaha

Lian memgangguk semangat menanggapi pertanyaan Bella barusan. "Kapan?" tanya Bella lagi. " Dulu pas gue dikejar sama Darrell dan gue nubruk tuh orang" Lian yang seakan tertampar karna ucapan dari mulutnya barusan. Ini mulut gue kagak bisa diatur deh. Dan liat saja sebentar lagi miss keponya Bella akan beraksi

1

2

3

"Heh?! CIYUSAN LO? DEMI APA?!" apa kan gue bilang ini anak bakal kepo.

"Demi rumput yang bergoyang. Dan ayo kita ke perpus!" seret Lian

Selama di perpustakaan semua materi untuk skripsi Lian hancur total. Bella yang masih dengan miss keponya terus memberondong Lian dengan berbagai pertanyaan. Entah dari wajah Albern yang dari jarak dekat seperti apa, Albern anaknya siapa, lain sebagainya deh.

Buku diatas meja yang akan menjadi penuntun skripsi Lian masih dianggurkan Lian. "Lo bisa diem sebentar gak? gue masih mau cari bahan buat skripsi. Dan lo kenapa nggak cari juga heh?!" Bella tersadar, dan segera ngacir menuju rak rak buku yang super tinggi. Lian hanya tertawa cekikikan melihat tingkah Bella.

====****====

"Lo tolol apa bego hah?!" bentak Erland pada sahabatnya yang kini tengah menatap jendela dengan tatapan kosong. Albern. Dia sedang duduk menyandar tembok dengan pikiran kacau. Dua hari berturut turut hatinya seakan tergores kaca. Perih

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 25, 2014 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Beautiful RainWhere stories live. Discover now