MWD1

48.6K 834 22
                                        

Sebuah mobil BMW hitam berhenti tepat di sebuah gedung bertingkat tinggi, seorang pria Tampan nan gagah keluar dari dalam mobil dengan wibawa yang seolah tak pernah luput darinya. Pria itu melangkah masuk kedalam gedung bertingkat tersebut, semua penghuni gedung membungkuk hormat kepadanya, menyapa dan tersenyum. Pria itu tidak menghiraukan mereka, sampai dirinya masuk kedalam sebuah ruangan yang tertulis DIRECTURE UTAMA di atas papan pintu lalu menjatuhkan bokongnya pada kursi yang telah khusus di sediakan untuknya. Singgasananya. Pria itu lalu mebuka laptop untuk memulai pekerjaannya.

Selang beberapa menit, pintu ruangan itu kembali terbuka. Menampilkan sosok pria yang tidak kalah tampan dengannya, "Shakti".

Pria yang dipanggil Shakti itupun menoleh kepala kepada pemilik suara. Shakti berdiri lalu menghampiri pria yang berada di ambang pintu lalu memeluk layaknya sahabat lama yang baru bertemu kembali.

"Ankit. Dari mana saja kau?" tanya Shakti.

Ankitpun terkekeh. "Apa kau merindukan ku?" tanya Ankit menggoda.

"Yang benar saja" ucap Shakti lalu berjalan menghampiri lemari pendingin yang berada di ruangannya. Shakti membawa dua botol minuman bersoda lalu duduk di sofa yang menghadap langsung pada Kota Delhi yang selalu ramai setiap harinya.

"Jadi.. Bagaimana dengan Hotel-hotelmu?" tanya Shakti, ankit berjalan menuju sofa lalu duduk di samping Shakti. Ya, memang Ankit memiliki Hotel yang terkenal di India cabangnya bahkan sudah sampai ke luar negeri. Shakti dan Ankit sudah bersahabat sejak kecil. Walaupun mereka memiliki keperibadian yang berbeda.

Shakti Arora Shekar dengan sikapnya yang dingin Tetapi  akan mencair ketika bersama para sahabatnya ataupun keluarganya, Shakti sangat acuh pada wanita, belum ada wanita yang mengisi hatinya. Hanya satu wanita yang pernah mengisi hatinya, wanita masalalunya. Berbeda dengan Ankit Bathla, pria Dermawan dan murah senyum. Iya akan menghargai siapapun orang itu, tidak menilai dari segi fisik maupun tahta. Hanya saja, sifatnya yang suka berganti pasangan itu lah yang membuatnya dijuluki playboy. iya tidak pernah serius dalam sebuah hubungan.

"Baik. Hanya saja kemarin ada masalah kecil dengan Hotelku yang berada di Delhi. Tapi aku telah menanganinya" jawab Ankit santai lalu menyesap minuman soda hingga tandas setengah botol. Hening beberapa saat.

Tok..tok..tok..

Terdengar ketukan pintu dari luar ruangan Shakti.

"Masuk" ucap Shakti mengijinkan seseorang di balik pintu itu untuk masuk. 

"Permisi pak?"

"Ada apa?" tanya Shakti seperti tidak perduli akan kehadiran Drasti. Dia hanya menatap jalan yang cukup ramai tanpa memperdulikan Drasti Dhami, yang tak lain adalah sekertaris sekaligus asisten pribadi Shakti.

"M-maaf pak s-sebelumnya. Saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya sebagai sekertaris bapak. Kehamilan saya sudah memasuki bulan ke-7 saya butuh istirahat yang cukup dan juga suami saya-".

"Sudah cukup. Jangan bertele-tele" ucap Shakti memotong perkataan Drasti Dhami yang belum selesai. Drasti menundukkan kepala. Iya takut kalau Shakti tidak menerima Resign-nya. Tapi Shakti tidak sejahat itu, ia tahu betul bahwa wanita yang sudah ia anggap sebagai kakaknya, membutuhkan istirahat yang cukup mengingat Drasti sedang hamil tua.

"S-saya ingin Resign pak" ucapnya purau. Shakti terkekeh lalu berdiri dari sofa yang ia duduki. Sedangkan Ankit, dia sedang asik dengan gedget miliknya.

"Baik. Istirahatlah yang cukup" Shakti berucap dengan merangkul pundak Drasti. Ya, Drasti sudah ia anggap sebagai kaka nya karena Drasti selalu ada saat Shakti benar-benar tidak tahu harus mencurahkan isi hatinya kepada siapa dan Drasti dengan senang hati membantu bosnya itu. Shakti juga melarang Drasti untuk memanggilnya bapak. Mengingat umurnya yang lebih muda dari Drasti. Tapi Drasti tetap kekeh untuk memanggil Shakti dengan sebutan bapak. Katanya sebutan itu jauh lebih sopan untuk Shakti yang notabennya adalah atasannya.

"Jadi kau mengijinkan ku?" tanya Drasti dengan mata yang berbinar. Shakti mengangguk lalu kembali duduk di sofa berwarna hitam. Drasti tak henti-hentinya tersenyum mengingat dia mempunyai boss yang sangat pengertian dan baik hati.

"Bagaimana jika aku yang mencarikan sekertaris baru untuk mu" tawar Drasti menatap Shakti.

"Boleh juga" jawab shakti. Drasti mengangguk mengerti lalu Ia berjalan meninggalkan ruangan Shakti.

**

Shakti memasuki mobil BMW miliknya yang di ikuti oleh Ankit, ini waktunya jam makan siang. Ankit dan Shakti akan makan siang di salah satu Restoran yang tidak jauh dari kantor Shakti. Shakti mulai mengendarai modilnya, ia menggunakan kacamata hitam untuk menambah pesonanya. Shakti menyalakan radio mobilnya untuk menghilangkan ke heningan di mobil.

"Berhenti Shakti!" kata Ankit saat melihat ada anak kecil yang menyebrang jalan sendiri membuat Shakti berhenti mendadak.

BRUK!!

"Ah shit!"

dengus Shakti saat mobilnya di tabarak dari belakang entah dengan siapa. Shakti dan Ankit turun dari mobil untuk melihat keadaan belakang mobilnya. Terlihat dua wanita sedang melihat keadaan mobil Shakti, wanita itulah yang menabrak mobil Shakti dengan menggunakan motornya, motornyapun rusak parah sama dengan mobil Shakti.

"Radhika bagaimana ini? rusak parah" terdengar wanita yang menabrak mobilnya berdengus.

"Bagaimana ini?" Tanya Radhika kepada temannya. 

"Bagaimana apanya nona. Anda harus mengganti". Mereka berdua menolehkan wajah kepada Shakti dan Ankit. Angin yang cukup kencang membuat rambut dua wanita itu berterbangan. Seketika saja Ankit terpesona, yaaaaa, namanya juga playboy.

"Tapi ini bukan sepenuhnya salah saya. Anda yang memberhentikan mobil anda secara mendadak. Dan saya yang di belakang anda kaget dong, j-jadi saya tidak sempat untuk mengerem motor saya" jelas Radhika.

"Alasan" ejek Shakti dengan senyum meremehkan. Dua wanita itu mendengus.

"K-kami akan menggantinya, tapi tidak sekarang" ujar teman Radhika, ia adalah Digangana.

"bagaimana bisa orang seperti kalian mengganti mobil mahalku ini. Membayar dengan harga diri kalian saja tidak cukup" ucap Shakti dengan nada yang sombong.

"Sombong sekali" dengus Radhika wanita yang bersama Digangana.

"Dengar! Saya memang bukan orang yang mempunyai banyak harta seperti anda! Tapi tenang saja, saya akan menggantinya. Berapa ganti ruginya?"

"10.000.000 rupe [(+-) 2 miliar Idr]" jawab Ankit yang mendekat kepada dua wanita itu. 

Ankit memperhatikan 2 wanita di depannya ini, nampaknya mereka sedang mencari pekerjaan terlihat dari mereka yg memegang amplop coklat di tangannya.

"Bagaimana cara kalian ganti rugi mobil temanku? Kalian saja masih membawa amplop coklat yang pasti didalamnya lamaran kalian, dan artinya..... kalian gapunya pekerjaan" kata sambil tersenyum licik.

"Begini saja. Untuk mengganti mobil ini, kalian datanglah kekantor Shekhar Group jam 7 pagi" kata Ankit seraya mengajak Shakti untuk kembali masuk ke mobilnya. Lalu pergi meninggalkan dua wanita yang masih tertegun dijalan itu.

"Kau biarkan mereka lolos begitu aja?"

"Ya ngga lah. Masa kita lolosin begitu aja. Shakti kau membeli mobil baru saja ya, lagian aku juga penasaran sama mereka, mereka sangat cantik" ucap Ankit sambil terkekeh.

Sudah Shakti duga. Gamungkin si Ankit ini membiarkan orang yg bikin kesalahan lolos begitu saja. Pasti Ankit ada maunya. Shakti hanya bisa menggelengkan kepalanya. Entah apa yg di rencanakan Ankit.

**

Hay.. Gimana cerita pertama ku? Agak absurd si. Mudah-mudahan banyak yang membaca cerita absurdku ini wkwk. Jangan Lupa Vote ya, comment juga, follow juga. Soalnya nanti ada part yang di privat acak. Makasih :)

Married With Directure ✔✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang