Embun basah menutupi desa kecilku. Hujan baru mengguyur fajar tadi. Udara yang dingin membuatku tak ingin segera beranjak dari ranjangku yang nyaman ini. Harum kopi buatan ayahku tak mampu membuatku bangun, aku hanya menggeliat sambil berusaha mengumpulkan kesadaran yang lenyap setelah tidur panjang. Kemarin aku tidur terlalu sore karena lelah menghinggapku selepas membantu Ayah di kebun kopi. Ayah memang memiliki kebun kopi yang tak seberapa luas, tapi itu cukup untuk menghidupi kami berdua. Aku hanya tinggal berdua dengan ayahku. Ibuku meningal waktu aku masih bayi. Walaupun begitu, aku tetap bahagia.
"Midas!! Ayo bangun!" suara berisik ini lagi.
"Bangun, kebo!" kali ini ditambah pukulan guling.
"Apa sih, Aleph?! Berisik tahu!" ucapku dengan kesal. Aleph memang begitu. Dia jagonya membuatku kesal. Laki-laki yang tinggal seorang diri di rumah sebelah ini selalu mempunyai cara untuk menjahiliku. Seperti kemarin, dia hampir mendorongku ke kotoran Sena−kuda hitamku− yang berserakan di depan kandangnya. Aleph memang menyebalkan, tapi dia tetap sahabatku, saudara beda orang tua. Tak jarang aku menemaninya tidur hanya karena kasihan dia kesepian. Dia tinggal sendiri dan hanya mengandalkan uang hasil berkebun di kebun kopi milik Ayah. Aku tak tahu kemana orang tua Aleph pergi. Ayah bilang, orang tuanya meninggalkannya ketika Aleph masih bayi. Ia dulunya tinggal bersama kakek dan neneknya tepat di rumah yang sekarang kembali ia tinggali. Tapi setelah keduanya meninggal, Ayah mengangkat Aleph menjadi anaknya dan tinggal besamaku. Bahkan dulu aku sekamar dengannya. Tapi remaja ini, Aleph memilih kembali tinggal di rumah lamanya agar bisa mandiri katanya.
"Bisakah kau diam, Aleph!"
"Aku tak akan diam sebelum kau bangun! Ayo kau sudah berjanji akan menghabiskan waktu di hari minggu ini bersamaku." ucap Aleph. Walaupun dia satu tahun diatasku, dia masih kekanakan. Laki-laki berusia 16 tahun itu sangat menepati janji. Dia dulu pernah berjanji akan memperluas kebun kopi Ayah. Dia juga pernah berjanji akan membuat keda kopi bernama "Midas Coffee Shop", namaku. Aku selalu mengagumi mimpinya, karena selain Ayah, Aleph adalah pelindungku. Dia juga yang mengajariku tentang dunia luar. Dia berkata bahwa dunia luar sangatla kejam. Maka dari itu, dia sangat bahagia berada disini.
"Baik, aku bangun." ucapku bangkit menghampiri Ayah tanpa memedulikan Aleph.
"Hei." teriak Aleph tak terima kutinggal pergi.
"Pagi, Midas." ucap Ayah dengan secangkir kopi di tangan.
"Pagi, Ayah. Aku mau ke kebun, boleh?" tanyaku yang diikuti langkah kaki Aleph.
"Iya, yah. Sekarang hari minggu di minggu terakhir bulan Juli." ucap Aleph.
Ayah menghembuskan napas panjang lalu mengangguk singkat. Tak biasanya Ayah sediam ini. Biasanya dia selalu cerewet soal apapun, bahkan tentang pakaian yang kukenakan. Beliau sudah menjadi Ayah dan Ibu sekaligus bagiku. Mungkin hari ini Ayah kelelahan.
Aleph melangkahkan kaki menapaki jalan terjal menuju kebun tanpa berbicara. Sesekali dia menendang kerikil kecil, itu kebiasaan dia kalau sedang bersedih. Aku hafal sekali. Pernah dia seperti itu ketika mendapatkan nilai rendah di mata pelajaran kesukaannya. Aku bukan tipe orang yang to the point, sebaliknya aku malah berlari dan mengejek Midas.
"Siapa yang terakhir, harus membersihkan kotoran Sena!" ucapku sambil berlari menjauh.
"Hei, kau curang!" teriak Aleph.
Aku terus berlari hingga mencapai kebun kopi yang letaknya tak seberapa jauh ini. Nafasku memburu, sudah lama aku tak berolahraga. Aleph sampai setelahnya. Berbeda denganku, dia sama sekali tidak lelah.
"Lihatlah ini." Aleph menunjuk pada sebuah sarang laba-laba besar di sekitar kebun. Dia menghancurkan sarang itu dengan jarinya. Awalnya aku ingin protes.
"Tapi apa yang akan dilakukan laba-laba itu?" tanya Aleph.
"Membuat sarang baru?" ucapku ragu.
"Tepat sekali. Sesuatu yang telah hancur tidak perlu disesali, kau hanya perlu membuat yang baru." ucap Aleph.
"Aku akan pergi, Midas." ucapan Aleph bagaikan petir di siang bolong. Itu adalah kalimat yang tak ingin kudengar dari siapapun. Aku benci perpisahan.
"Apa maksudmu?" tanyaku hampir tak percaya.
"Aku mendapat tawaran menjadi atlet di Ibukota. Nanti sore aku akan berangkat." ucap Aleph tenang. Ia menatapku. Aku melihat kebahagiaan dan kesedihan menyatu di kedua bola matanya.
"Tapi kau belum membicarakannya dengan Ayah. Kau tak perlu menerimanya!" ucapku dengan bersusah payah menahan air mata yang mau menetes.
"Aku sudah berbicara pada Ayah. Ayah setuju asal aku bahagia." ucap Aleph.
"Apa kau bahagia, Aleph? Apa kau bahagia meninggalkanku?" tanyaku. Tumpah sudah air mataku. Aleph keterlaluan.
"Selama ini diam-diam aku berlatih tanpa sepengetahuanmu. Aku menyukainya, aku jatuh cinta pada olahraga. Kenanganku disini tentang orang tuaku, kakek dan nenek, membuatku hancur. Aku harus move on, Midas. Aku harus mecari mimpi baru." ucap Aleph. Matanya memerah.
"Jangan menangis, Midas. Kau tahu itu menyakitiku." ucapnya parau. Pernah dulu ia memukul kakak kelas yang membuatku menangis sewaktu SD. Tapi itu dulu, sekarang tidak akan pernah terjadi lagi."
"Dimana janji seorang Aleph yang berkata akan selalu berada disini? Dimana, ha?!" ucapku dengan sesenggukan.
"Itu janji semasa kecil. Itu janji omong kosong." ucapnya santai.
"Omong kosong katamu?" tanyaku tak percaya.
"Aku benci padamu, Aleph. Kau bukan temanku. Kau bukan sahabatku. Kau bukan saudaraku." ucapku marah. Dia keterlaluan. Aleph membohongiku selama ini. Mengapa ia tak pernah sedikitpun berbicara tentang itu. Tentang dia yang akan menjadi atlet di ibukota.
"Pergilah, jika itu maumu." ucapku membelakanginya. Hamparan kebun kopi menghiasi pandanganku.
"Kau adalah laki-laki pemalas yang kerjaannya hanya tidur. Tapi aku percaya kau akan menjadi pria yang sukses." ucap Aleph.
"Kau adalah adik kecil kesayanganku. Dan akan selalu seperti itu." ucapnya. Aku berbalik menghambur ke pelukannya. Kupeluk dia erat. Aku ingin mengenangnya dengan pelukan ini.
"Aku sudah menyiapkan barang-barangku. Maukah kau mengantarkanku ke stasiun?" tanyanya. Ia masih memelukku.
Aku menggeleng, "Aku ingin disini hingga nanti sore." Aleph melepas pelukannya.
Aleph menghembuskan napas panjang, "Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Aku bakal merindukan saat minum kopi bersamamu. Sejujurnya, minum kopi tidak bakal nikmat jika kita meminumnya sendirian." Ia berbalik lalu melangkah pergi. Aleph terus melangkah tanpa sedikitpun menoleh padaku.
Setelah ia jauh aku berteriak, "Jaga dirimu, Aleph! Kutunggu kabar bahagia darimu." Aleph menatapku sambil tersenyum lalu mengacungkan jempolnya.
Dia adalah kakak terbaik. Yang terhebat di dunia ini. Aku menyayanginya. Walaupun aku terlalu gengsi untuk berbicara langsung. Aku tak akan pernah melupakannya. Walau terkadang ia menyebalkan, namun ia tetap yang terbaik. Sifat konyolnya membuat hariku berwarna. Entah apa yang harus kuperbuat setelah dia pergi. Tapi dia mengajariku bahwa aku tak perlu terpaku pada masa lalu. Aku dan dia adalah secangkir kehidupan pahit manis yang telah diteguk oleh waktu dan hanya menyisakan ampas kenangan. Namaku Midas Lazuardi. Aku akan mencari mimpi baru.
~•☼•~
Surabaya, September 2016
YOU ARE READING
Ampas Kopi
Short StoryTakdir mengatakan, karena kopi kita akhirnya bersama. Namun, takdir bisa memisahkan kita karena hal lain. ~•¤•~ Hai, ini oneshoot favorite saya dan sudah ada di notes hampir setahun. Saya sama sekali gak pede dengan ini, tapi fyi oneshoot ini pernah...
