Es batu bergantian berputar-putar di dalam gelas yang berombak akibat ayunan dari sedotan berdiameter kira-kira 1cm itu, entah apa yang sebenarnya sedang aku fikirkan, rasanya tidak ada hal yang penting untuk difikirkan saat ini, hanya saja bibirku seketika terasa keluh, tak mampu mengucapkan sepatah katapun, dan aku juga tidak berhasil untuk tidak terbawa sempurna kedalam lamunanku.
Aku menengadahkan sedikit wajahku, agar memenuhi posisi melihat lurus kedepan, bayangan wajah Reza sempurna tertangkap didalam bingkai mataku, kulihat matanya tengah menyelisik menembus kaca cafe, yang nyaris tak terlihat seperti ada kaca disana.
'Za?' bibirku berkata setengah berbisik, takut panggilan yang ku lemparkan tak menuai jawaban.
'Hm?' ia bergumam tanpa menolehkan pandangannya padaku, ntah apa yang sebenarnya ia fikirkan setelah hampir 1 jam kami duduk berhadapan, tapi aku rasa, tidak ada kami berdua seperti biasanya detik ini.
Lalu untuk apa kami disini? Hanya membuatku bingung tentang apa yang sebenernya tengah terjadi diantara kami, tepatnya ada apa dengan Reza.
Memang akhir akhir ini sudah lama kami tidak bertemu, Reza adalah seorang photographer dan sekaligus mahasiswa teknik semester 3 di salah satu perguruan tinggi negeri terkenal di bandung, terbilang sibuk dan aku juga sangat membutuhkan waktu luangnya diantara semua kesibukan yang telah membayar lunas waktu-waktu Reza.
Aku bertekad untuk memulai pembicaraan, aku merasa kita disini untuk menghabiskan waktu bersama, bukan merenung dan tenggelem di dalam lamunan masing-masing.
'gimana, za? Keliatannya cape banget,' aku berusaha berbicara dan melihat lurus kedalam matanya,
'aku whatsapp kamu, tapi kayanya kamu sibuk, ya?' belum ada jawaban, aku berusaha tetap memandang ke arahnya, tanpa berkedip, menghindari kemungkinan adanya air mata yang jatuh.
'maaf, la. Aku banyak urusan banget, aku tau kamu pasti ngerti kesibukan aku.' jawabnya sambil menggeserkan wajah ke arahku, sebentar, lalu ia kembali larut kedalam fikirannya.
'Za,'
'kenapa, sih, la?'
'kamu kenapa diem aja, sih? Aku ngajak kamu kesini buat ngobrol, za, tapi buat apa kalo kamu cuma sibuk sama fikiran kamu sendiri?' aku berusaha tetap tenang, Reza tidak berbicara sepatah katapun. Pertemuan semacam ini selalu saja berakhir kurang baik.
*****
Tubuhku jatuh sempurna ke atas kasur yang tak lama kemudian memberi tolakan yang terasa sangat nyaman. Alih-alih merasa senang sehabis bertemu dengan Reza di cafe tadi sore, fikiranku malah semakin tidak karuan dan berfikir terlalu jauh.
Tidak heran memang, disetiap pertemuan yang di rencanakan untuk memperbaiki hubungan kami, selalu berakhir kurang menyenangkan.
Suara gesekan pintu rumah yang tidak aku kunci dengan lantai terdengar samar-samar. Aku sudah menghitung mundur untuk bersiap mendengar suara teriakan Riri yang khas dengan logat jawa-nya.
'LULAAAAA GIMANA NIH JALANNYA SAMA EZA?' kan, sudah ku bilang, itu pasti Riri, tidak ada oranglain lagi yang berani masuk nyelonong ke rumahku seperti dia.
'apasih lo, ri. Kayak yang gatau reza aja. Dia sibuk banget. Bahkan, waktu sama gue aja, fikiran dia kayanya udah di kontrak sama kesibukannya' ucapku lirih, lantas beranjak dan duduk di pinggir kasur, tepatnya di pinggir Riri yang mempatung, entah berfikir apa.
'ga ngerti lagi gue sama Reza deh, la' cetusnya sambil mengerutkan dahi dan bibirnya yang nyaris lebih panjang daripada hidungnya. 'dia kayanya gabisa ya ngehargain lo sedikit aja. Ko gue jadi greget gini,'
YOU ARE READING
Luka Lula
Teen FictionHubungan antara Lula dan Reza yang kian tidak jelas kemana arahnya, membuat Lula semakin banyak tersakiti. Tiba-tiba Reyhan, sosok dari masa lalu Lula, datang menawarkan kebahagiaan yang sempat hilang, akan kah Lula memilih Reza atau Reyhan?
