16.00 WIB
Langit tampak mendung. Suara petir sesekali terdengar, pertanda hujan akan turun. Dan benar saja, selang beberapa detik, tetes demi tetes air turun membasahi jalanan di luar sana.
Seorang gadis dengan rambut yang dikuncir kuda, tengah berdiri menatap hujan yang turun dengan derasnya di luar sana. Ia menghembuskan nafasnya lelah. Niatnya untuk pulang cepat, sepertinya tidak dapat terkabul. Padahal ia sudah meminta izin pada Aldo untuk pulang lebih cepat dari biasanya. Beberapa hari ini ia terlalu memforsir diri dengan bekerja, tanpa memperhatikan kondisi tubuhnya. Dan hari ini, dia benar-benar lelah. Kepalanya pusing, tapi ia masih memaksakan diri untuk bekerja.
"Skyla?"
Gadis itu membalikkan tubuhnya dan mencari sumber suara. Hingga matanya tertuju pada seorang lelaki yang berdiri di samping kasir sambil melambaikan tangannya pada Skyla. Aldo, namanya. Lelaki yang menjadi pemilik kafe tempat Skyla bekerja, sekaligus teman sekolahnya.
"Apaan, Do?"
"Katanya lo mau pulang, kenapa masih diam di situ?" Aldo menatap Skyla heran.
"Lo gak liat di luar lagi hujan." Pelangi memutar bola matanya kesal. Aldo itu kadang-kadang lemot juga dengan keadaan sekitar.
"Oh iya, gue gak liat, Sky." Aldo menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Sebentar," Aldo berbalik menuju dapur, membuat Skyla kebingungan.
Skyla kembali menatap jendela kafe. Masih sama, hujan masih turun dan lebih deras dari sebelumnya. Skyla menyesali keputusannya tadi untuk tidak membawa payung. Dia pikir, pagi tadi langit cerah, tidak ada tanda-tanda akan hujan. Jadi, dia meninggalkan payungnya di dalam loker miliknya sebelum berangkat ke Kafe.
"Sky, nih bawa aja." Ucap Aldo sambil menyodorkan sebuah payung ke hadapan Skyla.
"Sorry ya, gue gak bisa antar lo pulang, masih ada kerjaan yang harus gue kerjain. Gak papa kan?" Aldo menatapnya cemas.
"Ya gak papa lah, lagian buat apa lo minta maaf. Harusnya gue yang minta maaf jadi ngerepotin lo. Gua pinjem dulu ya payungnya." Skyla mengambil payung yang disodorkan Aldo.
"Btw, kok lo tau sih kalau gue butuh payung?"
"Habisnya muka lo tadi melas amat, udah kayak Tom yang gak di kasih makan sama gue, hahaha...." Aldo terbahak saat mendapati wajah Skyla yang cemberut.
Tom itu kucing milik Aldo dan sudah beberapa kali ia bawa ke kafe. Kucing yang gendut, warnanya abu-abu muda, dan hidungnya pesek. Skyla sering kali mengganggu Tom. Ibarat di film Tom & Jerry, Skyla di sini berperan sebagai Tom, dan Tom sebagai Jerry.
"Kampret lo, Al. Gue gak sudi lo sama-samain sama Tom. Kucing lo nakal, gue gak suka." Skyla mencebik kesal. Pipinya yang chubby menggembung lucu.
Aldo mengusap air matanya sehabis menertawai Skyla.
"Lo yang nakal kali, si Tom mah baik kayak gue," ujar Aldo dengan tampang songongnya.
"Udah gih, pulang sana keburu tambah deras hujannya," ujar Aldo.
"Dih, iya-iya gue pulang. Thanks payungnya." Skyla segera mengambil tasnya yang terletak di dapur. Sebelum meninggalkan kafe, ia sempat melambaikan tangan pada Aldo lalu membuka pintu kafe dan ia benar-benar pergi dari hadapan Aldo. Suara pitu yang terbuka, menimbulkan suara nyaring lonceng yang terletak tepat di atas pintu kafe menandakan seseorang telah keluar dari sana.
-*-*-
Tepat setelah pintu kafe tertutup, Aldo masih diam ditempatnya, menatap keluar jendela. Matanya mengikuti gerak-gerik Skyla yang kini sedang berjalan menjauhi kafe dengan payung yang terbentang di atas kepalanya. Diam-diam Aldo tersenyum. Bayangan wajah Skyla yang sedang kesal tadi, membuatnya gemas dan ingin mencubit pipi Skyla. Namun, ia tahan. Karena ia tau, Skyla akan marah jika ia sampai melakukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Time
Teen FictionKarena waktu dapat merubah segalanya... Hanya sebuah cerita abal2, semoga suka ☺ Cover by @ttera_im
