Ana berjalan pelan, terlihat sangat lelah. Buku-buku yang sering berada didekapannya untuk kali ini hilang ditinggal begitu saja. Seraya berjalan gadis itu berpikir bagaimana harinya bisa berjalan cepat seperti hari ini, dan bagaimana ia bisa menghabiskannya dengan semembosankan... ia tak tau.
Satu belokan lagi akan ditemuinya toilet.
Ana hendak membasuh muka, seharian ini ia habiskan didalam ruang penuh buku, ia habiskan untuk menyibukkan diri didalam tumpukkan tulisan-peta-skama-semuanya. Ketika dirinya berkaca dicermin, kantung matanya langsung terlihat jelas, tapi mata tajam itu, tak pernah sekalipun ia sadari, begitu memukau.
Menjadi siswi teladan memang menjadi targetnya selama berada disekolah ini, mengikuti berbagai kompetisi, mendapat penghargaan, dan beasiswa ke universitas bagus. Itulah yang selalu terbayang dalam benak Anatasiya, hidup untuk mengejar hidup lainya.
Makanya, ia rajin pergi ke tempat para buku berjajar, menyibukkan diri didalamnya, dan mendedikasikan dirinya untuk satu hal: belajar.
"ngomong-ngomong, tuh orang udah balik belum ya?"
"siapa? Si Yuda? Gue lihat dia kemarin."
Dalam benak Ana, ia tak pernah terpikir untuk menguping pembicaraan orang lain. Tapi, ketika nama Yuda disebut, entah kenapa hati gadis itu merekah. Buru-buru ia masuk dalam kubikel kamar mandi.
"yang bener? Waaah, besok gue bisa liat dia lagi disekolah. Ahh, hati gue bakal berbunga lagi dong.."
"uuuh, jangan ngawur lo, lo kan tau dia udah punya pacar."
"aaaahh, pacar apaan, kalian lihat aja, pacaran kok gitu, nggak ada mesra-mesranya."
"iya sih, kasihan ya Yuda, pacaran sama robot!"
Mata Ana melebar, Yuda sudah kembali? Tanpa sadar, senyum Ana merekah. Diingatnya waktu Yuda datang diminggu pagi mengajak olahraga bersama. Waktu itu adalah waktu dimana sebelum Yuda pergi...
"An, kayanya kamu emang harus banyak olahraga yaa."
Ana mendengus, tapi tak membalas.
"serius An, kamu gendutan!"
Tiba-tiba pukulan keras mendarat dikepala Yuda. Yuda meringis.
"minimal lima belas menit sehari, bisa kan An?" Yuda menambah perkataanya dengan senyum dan kerlingan mata membuat Ana kembali memukulnya. Tapi kali ini bisa dihalau oleh Yuda.
"awas ya!!" Seru Ana ketus, "untuk apa pagi-pagi kamu datang kerumahku sih?"
Yuda terkekeh, "untuk apa ya.. pengen aja."
Ana mendengus, "ini terakhir kali."
Yuda terkekeh, kemudian tangannya menggenggam tangan Ana "nggak kok. Aku bener-bener pengen ketemu kamu, karena besok kita nggak bisa ketemuan. Aku ikut seleksi."
Ana mengagguk paham, beberapa hari lalu Yuda sudah membicarakannya dan ia sama sekali tak mempermasalahkan ini semua. "semoga sukses." Ujarnya, kemudian tangannya sibuk memaikan handphone, ada pesan yang masuk.
Tangan Yuda semakin erat menggenggam tangan kiri Ana, tanpa sadar ia mencondongkan badannya kedepan, kearah Ana yang sibuk membaca. "jangan rindu ya... sayang."
YOU ARE READING
Cinta Hilang
Teen FictionAna memandang foto ditangannya. Tak sadar senyum gadis itu merekah. Bagaimana ia bisa suka pada Yuda? Anak sekolahan yang kerjanya bikin onar, bikin para guru geleng-geleng kepala, yang kerjanya hanya main bola. Ana jelas benci keramaian, tapi tiap...
