"Bangsat!" Gilang mengumpat di balik helm hitamnya. Napasnya memburu. Jantungnya berdegup kencang. Matanya nyalang menatap jalanan. Kejadian disekolah tadi masih ia ingat dengan jelas, membuat amarahnya semakin memuncak.
Pemuda itu kemudian menambah kecapatan motornya, mencoba menenangkan diri dengan caranya sendiri.
Ninja Merah milik Gilang terus melaju dengan cepat, membelah jalan raya yang untungnya cukup renggang. Menghiraukan luka-luka yang muncul akibat pertengkaran dengan seniornya tadi.
Setelah beberapa saat menghabiskan waktu dijalan, sepeda motor itu tiba didepan sebuah rumah mewah. Gilang segera memasuki pekarangan rumahnya.
Ia lalu memarkirkan motornya, masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Sampai dikamarnya, Gilang melempar asal tasnya kemudiam duduk dipinggir ranjang sambil memijat pelan pangkal hidungnya.
Capek banget anjir.
Kemudian Gilang membaringkan tubuhnya diatas kasur yang berseprai biru dongker --warna kesukaannya. Memejamkan matanya, lalu sedetik kemudian ia sudah masuk ke alam mimpi
Semoga aja pas bangun pala gue mendingan, gak mumet lagi.
***
"TA!" seseorang mengguncang kencang bahu Tata, membuat gadis itu tersentak --Kaget.
"Astaghfirullah," Tata mengusap pelan dadanya, untuk menetralisir degup jantungnya yang berantakan.
Kemudian Tata melotot kearah dua sahabatnya --Fea dan Abel.
Belum sempat menyemburkan sumpah serapahnya, tangan Abel lebih dulu terulur untuk menjitak kepala Tata. Membuat Tata harus menelan bulat-bulat sumpah serapahnya
"Apa?? Mau protes, huh?!" tantang Abel. Ia balas melotot kearah Tata, tak lupa dengan tangannya yang dilipat di dada
"Lo liat ni kelas? Udah sepi. Kebiasaan banget sih ngelamun sendirian kayak orang bego. Bel pulang udah bunyi dari setengah jam yang lalu, tapi lo malah asik-asikan ngelamun. Kita panggilin dari tadi elo nya gak nyaut-nyaut. Sebel sendiri kan gue jadinya,"
"Ya maap," hanya itu yang bisa Tata katakan. Wajahnya memelas menatap Abel yang masih melotot kearahnya.
Abel lalu menghela napas berat "emang tadi lo mikirin apa si? Sampe lupa waktu gitu?"
Tata terdiam. Mikirin cowok yang nabrak gue. Tapi ucapan itu tertahan, tak sampai ia ucapkan pada Abel.
"Engga kok, gue gak mikirin apa-apa" Tata menjawab sembari menampilkan cengiran khasnya
"Boong," tukas Abel, ntah kenapa tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang Tata katakan
"Udahlah, kuy balik."
***
Tata kembali meneguk coklat panasnya, udara malam hari dibalkon kamarnya terbilang sejuk --atau mungkin dingin. Angin malam yang berhembus membuat beberapa helai rambut nya berterbangan. Ia tidak peduli kalau besok akan terserang masuk angin. Karna saat ini ia hanya fokus pada satu titik.
Orang yang menabraknya tadi
Ya, sampai sekarang Gatari masih memikirkan cowok itu
"Gilang," tanpa sadar, ia menyebut nama itu
"Bagus sih namanya, ganteng juga. Tapi sayang, sombong. Udah nabrak gue, trus langsung nyelonong gitu aja kagak minta maaf, sebel sendiri kan gue. Mana ni pundak masih nyut-nyutan." Noh, Tata jadi kesel kan. Bayangkan saja kalau kalian berada diposisi Tata --lagi enak-enak baca novel, tiba-tiba ada yang nabrak, tapi orang yang nabrak enggak minta maaf. Pasti kalian juga kesel dong.
"Duh, Dingin lagi." Tata mengeratkan jaketnya ketika rasa dingin menjalar ditubuhnya. Kemudian ia masuk ke kamarnya, menutup pintu balkok lalu berbaring di ranjang sambil memejamkan mata.
Ngapain juga si gue mikirin cowo itu. Kuker banget.
Sabodo teuing ah, lieur
***
Finally! Akhirnya selesai juga ni chapter, semoga kaka suka yaaa sama cerita absurd ini..
Ps. Love Radin💞
YOU ARE READING
Feel Real (Oneshoot)
Short StoryGak berharap menang, cuma pengen ikutan dan pengen karya abal gue dibaca sama penulis hebat kayak Kak Radin😂 Ps. Semoga suka yaa..
