Feel Real

26 3 0
                                        

Pukul 16:30.

Gatari kembali melirik ke arah jam tangan berwarna silver di pergelangan tangannya. Gadis cantik itu kembali mendesah pelan. Sudah hampir setengah jam ia berdiri di bandara, tanpa ada tanda tanda seorang pun yang akan menjemputnya.

Jangankan menjemput, menelepon atau mengirim pesanpun tidak. Dan, sepertinya semua orang melupakan kepulangannya dari Belanda hari ini.

Gatari mencebik kesal, gadis cantik itu lalu merogoh tas berukuran sedang dengan motif channel yang ia pegang. Hendak mencari benda persegi dari dalam tasnya.

12 notifications.

Alis Gatari saling bertautan. Dua belas notifikasi yang enam diantaranya adalah pesan singkat dan enam lainnya dari OA line.

Gilang is calling...

Bibir Gatari perlahan tertarik ke atas. Tepat, sesaat setelah gadis itu melock screen layar ponselnya. Ponselnya berdering, menandakan ada satu panggilan masuk.

Gatari menggeser ponselnya, menggeser ke tombol hijau.

"Halo?"

"......"

"Jahat!"

"........."

"Tau ah!"

Gatari mematikan sambungan telepon secara sepihak. Gatari sudah menunggu hampir setengah jam, dan Gilang saat ini baru akan pergi. Memang dipikirnya dari Bekasi ke Bandara Soetta itu hanya memerlukan waktu lima menit.

Alhasil, Gatari mengerucutkan bibirnya masih kesal dengan jawaban dari Gilang yang membuatnya menjadi kesal sepanjangan.

"What the he--" Gatari memaki pelan kala matanya kini ditutup oleh tangan kekar milik seseorang.

"Jangan, marah" bisik orang tersebut dengan nada penuh godaan.

Sesaat kemudian orang itu melepaskan tangannya, membuat Gatari berbalik dan memandang orang tersebut dengan wajah kesal.

"Katanya mau otw" sindir Gatari sambil memajukan bibirnya.

Laki laki itu, Gilang.

Dengan gaya kasual tapi, tetap menampilkan sisi tampannya. Hanya mengenakan kaos hitam lengkap dengan celana jeans pendek serta sepatu vans kesayangannya.

"Jangan marah" Tangan kokoh Gilang perlahan mengacak acak puncak kepala Gatari.

"Bodo" Gatari memilih menjauh. Gadis itu benar benar sangat kesal dengan tingkah menyebalkan Gilang. Sudah tahu hari ini ia akan pulang tapi, malah telat. Pake acara bohong lagi, kan bete.

"Tata" teriak Gilang.

Gatari tetap tak peduli, ia masih melangkahkan kakinya mencoba acuh tapi, penasaran.

"Tata!" teriak Gilang sekali lagi.

Gatari menyerah dan akhirnya berbalik dan pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah sosok Gilang lengkap dengan beberapa kawan kawannya yang tengah memegang bunga.

Mata Gatari membulat sempurna, Gilang benar benar sulit ditebak. Sampai, akhirnya lagu Marry your Daughter mengalun sempurna dipendengaran Gatari.

"Ta, Will you marry me?" teriak Gilang sambil mendekat.

Gatari terpaku, lututnya lemas, napasnya tercekat begitu pula tububnya yang mendadak dingin dan membeku.

"Will you?" tanya Gilang sekali lagi.

Gatari mengganguk dan hari ini adalah hari terindah bagi mereka berdua.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 08, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

One ShootWhere stories live. Discover now