FEHLER

142 11 2
                                        

AKEMI WIDJAYA

***

Siang ini begitu panas, sampai-sampai AC di dalam kelas tidak terasa dinginnya. Tapi cuaca panas itu tidak menghentikan kejahilan seorang Akemi Widjaya. Eki -biasa orang-orang memanggilnya- terus melemparkan potongan karet penghapus ke arah gadis yang sedang duduk di sebelahnya.

"Bisa diem nggak lo?!"

Eki tertawa melihat reaksi yang diberikan gadis itu. Sambil terus melemparkan potongan-potongan karet penghapus yang tersisa tanpa memedulikan omelan gadis itu.

"Ih, Akemi!" gadis itu mencubit lengan kanan Eki dengan gemas sampai Eki bisa merasakan kalau kulitnya seperti terlepas.

"Sakit!" Eki melepaskan cubitan itu dengan paksa, lalu mengusap-ngusap lengannya yang perih.

"Syukurin," gadis itu kemudian bangkit dari kursinya lalu berjalan keluar kelas. Eki yang melihat gadis itu akan pergi, buru-buru mencegatnya.

"Mau kemana, Bi?"

"Apaan sih?" gadis itu memandang Eki dengan kesal. "Gue mau ke kelas Rayyan."

Mendengar nama seorang lelaki disebut, Eki tidak lagi menghalangi jalan gadis tadi. "Hati-hati ya, Biya."

"Gila apa lo? Gue cuman pergi kebawah doang," Biya terkekeh mendengar ucapan Eki yang menurutnya konyol.

"Ya siapa tau lo kesandung pas turun tangga?"

"Ngaco," Biya mendorong bahu Eki lalu berjalan menjauhinya.

Eki melihat kepergian gadis itu dengan tatapan kosong. Perasaan cemburu yang seharusnya tidak ia rasakan selalu muncul jika gadis itu sedang bersama lelaki yang bernama Rayyan.

"Hayo lo, lagi ngelamun jorok ya?!" seseorang melompat ke arah tubuhnya secara tiba-tiba, yang membuat dirinya limbung.

"Anjing! Si Evan stress ya?" Eki berusaha menurunkan tubuh Evan dari punggungnya, namun tatapannya masih mengarah kepada Biya. Gadis itu tengah menuruni tangga dengan hati-hati, ternyata dia mendengarkan ucapan Eki. Dan melihat itu, Eki lantas tersenyum.

"Nggak usah diliatin mulu kenapa? Nggak bakalan putus juga tu anak sama si Rayyan," Eki menatap Gilang dengan tajam setelah mendengar ucapannya. Gilang yang sadar tatapan Eki menajam, menatap balik dengan satu alis terangkat. "Masih nggak terima?"

"Lang," Rafi menepuk bahu Gilang supaya temannya itu berhenti berbicara.

"Nggakpapa Fi, biar tu anak sadar."

Eki menutup matanya, dia berusaha sabar mendengar ucapan tajam Gilang.

"Udah sih lo berdua ribut aja," Evan kemudian berdiri di antara Eki dan gilang, dia berusaha menengahi. "Kantin coy!"

***

Biya mengamati Rayyan yang tengah menyalin tugas temannya. Sesekali dia tertawa melihat ekspresi yang ditunjukkan Rayyan ketika laki-laki itu tidak mengerti apa yang ditulis temannya.

"Beres!" Rayyan menutup bukunya dengan semangat. "Ayo kantin."

Mereka berjalan beriringan menuju kantin. Sesekali tertawa karna ucapan konyol Rayyan. Kantin siang ini terasa lebih lenggang, memudahkan Biya memesan mie yamin kesukaannya tanpa perlu mengantri.

Fehler: We're an ImpossibleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang