Mungkin kamu hanya mengenaliku sebagai gadis yang selalu duduk sendirian di meja nomor enam, di satu sudut kedai kopimu di setiap malam Rabu. Gadis yang hanya bisa mencuri pandang kearahmu dari balik gelas kopinya. Gadis yang tak pernah sekalipun memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya.
Jadi, sudah pasti kamu tak tahu kalau aku selalu mengagumi sosokmu saat kau menggunakan rokpresso untuk merubah 40 gram bubuk kopi menjadi 60ml single espresso.
Setiap kali kamu menyeka tanganmu di permukaan apron coklat kebangganmu, setiap kali kamu tertawa lepas, setiap kali kamu menghirup rokokmu dalam-dalam dan setiap kali kamu bekerja di balik meja barmu, aku tak bisa menghentikan damba yang meraja di hatiku.
Aku suka setiap kali alis matamu saling bertaut, dan sebagian rambutmu yang panjang terjuntai menutupi keningmu saat kamu fokus membuat latte art di atas café latte. Gelas keramik bundar di satu tangan, dan jug susu di tangan lainnya.
Aku juga jatuh hati pada matamu yang selalu terpaku pada layar ponselmu tiap kali kau tidak bekerja di balik bar. Seakan kamu sedang menunggu ponselmu akan berbicara padamu—satu hal yang sudah pasti tak mungkin terjadi.
Apakah kamu sedang menanti telepon atau SMS dari seseorang?
Belum pernah sekalipun dalam dua puluh lima tahun hidupku, aku begitu ingin menjadi ponselmu. Yah, memang konyol, tapi ku mohon jangan menertawakanku untuk itu. Aku hanya ingin lebih dekat denganmu dalam berbagai cara yang ku bisa.
Sayangnya, aku tidak bisa menjadi ponselmu.
Aku cukup bahagia karena kamu mengingat kopi favoritku. House Blend Espresso khas kedai kopimu. Kombinasi sempurna antara Robusta Bali dan Arabika Sunda Arum Manis. Kamu selalu menggunakannya dalam campuran caffee latteku.
Katamu, kombinasi itu akan membuat rasa caffe latte nya lebih creamy.
Aku memang tidak begitu mengerti kopi. Tapi aku percaya penilaianmu, sungguh. Jadi, ketika kamu menanyakan pendapatku, aku menjawab dengan yakin. "Aku suka House Blendnya. Kamu benar, rasa creamy dari caffee latte nya jadi lebih keluar."
Kamu tersenyum puas. "Kalau kamu suka, campuran House Blend Espresso ini bakal jadi menu tetap di sini, deh."
Itu adalah percakapan pertama kita, enam bulan yang lalu. Dan seperti janjimu, kamu tak pernah mengganti campuran House Blend Espresso di kedai kopimu.
Malam ini saat aku tiba di kedaimu, hujan turun dengan derasnya. Menguarkan aroma tanah basah yang bercampur dengan aroma kopi. Sepertinya aku adalah pelanggan pertamamu karena bangku-bangku di kedaimu masih kosong. Kamu berdiri di balik bar, tersenyum saat melihatku yang berdiri canggung dengan tubuh setengah basah.
"Kehujanan mbak?" tanyamu ramah. Kamu menyugar rambutmu yang semakin panjang. Aku menyukainya. "Mau pinjam handuk enggak?"
Aku menggelengkan kepalaku pelan. "It's okay, enggak terlalu basah kok."
Kamu menggedikkan bahumu yang bidang dan menanyakan pesananku.
"Caffe Latte?"
Aku kembali mengangguk pelan dan duduk di mejaku, di sudut favoritku. Kunikmati rentang waktu dengan mengamatimu. Mereguk semua hal yang ku kagumi dari dirimu, dengan suara hujan sebagai irama pengiringnya.
Aku membayangkan diriku duduk di depan meja barmu, bertopang dagu sambil memerhatikanmu bekerja. Sesekali kamu akan menatapku dan menyunggingkan senyuman miringmu. Kita akan berbincang tentang kopi, tentang impianmu, cita-citamu, kekhawatiranmu dan semua hal yang berkaitan denganmu. Lalu aku akan menepuk bahumu sebagai tanda aku akan selalu ada di sampingmu saat kamu melalui semuanya.
Lamunanku terpecah saat seorang gadis datang menghampirimu dengan tubuh basah kuyup. Kamu segera meninggalkan bar untuk meraih handuk dari lemari dan merentangkannya di tubuh gadis itu. Kekhawatiran terukir jelas di wajahmu saat kamu melingkarkan lenganmu untuk membimbingnya duduk di meja terdekat.
Kalian saling berbisik, tak banyak kata yang dapat kucuri dengar, selain kata 'maaf' yang terus menerus ia ucapkan disela sedunya. Kamu menangkupkan kedua tanganmu di pipinya dan menyeka air matanya dengan ibu jarimu, lalu tanganmu turun untuk menepuk-nepuk bahunya dengan lembut. Seakan kamu sedang meyakinkannya bahwa kamu akan selalu ada disampingnya.
Aku begitu terpaku pada kalian hingga aku tak sadar sudah berapa lama waktu berlalu.
Di luar hujan sudah reda, namun gadis itu masih tersedu di bahumu. Dan tanganmu...masih menepuk lembut bahunya.
Di atas meja bar, sebuah gelas keramik dengan jug susu terlupakan. Tetesan cairan kopi juga masih menetes dari bawah rokpresso.
Di meja nomor enam, aku masih duduk menatapmu yang sepertinya melupakan kehadiranku.
Aku bahkan tidak begitu ingat kapan aku memutuskan untuk pergi, agar memberikan waktu dan privasi bagimu bersamanya.
Tapi aku ingat saat aku melewati meja bar dan melihat toples kaca yang berisi House Blend, di sana tertulis "New House Blend: Robusta Kebun Tebu dan Arabika Gayo".
Ternyata kamu sudah menggantinya...
-0-
YOU ARE READING
HOUSE BLEND
Short StorySetengah hatiku tertuju padamu yang berdiri di balik bar. Setengahnya lagi...teraduk bersama pekatnya kopi dan menguap bersama cinta yang tak tercecap oleh indramu.
