1

19 2 0
                                        

"Masuk mana, Zaf?" Tanya salah seorang wanita saat laki-laki itu baru saja duduk di kursinya.

Laki-laki itu tersenyum dengan bangganya kemudian dengan percaya dirinya ia berkata, "UGM, tan." Jawabnya dengan senyum yang terus mengembang.

Kemarin adalah pengumuman hasil seleksi perguruan tingginya, dan ia merasa puas akan pencapaian dirinya itu. "Jadi anak Jogja dong ya?" Goda sang tante yang memang sudah sangat akrab dengan dirinya.

Zafran mengangguk bersemangat, entah mengapa kali ini ke-percayaan dirinya bertambah berkali-kali lipat dari biasanya. "Iya dong, jadi anak rantau. Bosen lagian juga, Gading Serpong mulu. Dari lahir sampe tua disini mulu." Jawab Zafran.

Erlangga Bayu : Anjer, Vatya di Monash University.

Dimas Aji : Demi apa? Gua kira dia bakal di ITB, kan ketemu lagi gua dan dirinya.

Dimas Aji : Goodluck my love.

Erlangga Bayu : Tai.

Raditya Nadin : Njs lu Ji.

Dimas Aji : Iri ye lu. Dasar tak mampu.

Raditya Nadin : Blog.

Zafran Mahesa : Bacot anj.

Dimas Aji : Ampun bosq

Raditya Nadin : Lu kenapa jadi alay gini sih ji?

Dimas Aji : Aku tak bisa jauh dari vatya. Huhu

Zafran segera me-nonaktifkan notification di ponselnya. Ia tak ingin waktu santai nya terganggu akibat obrolan tak bermutu teman-temannya di pagi hari.

Zafran Mahesa, seorang laki-laki yang nampaknya menjadi sorotan akhir-akhir ini akibat ketampanan nya yang dinilai tak biasa. Meski begitu, Zafran tak pernah pilih-pilih dalam berteman, tak dingin ataupun cool seperti pentolan-pentolan sekolah lainnya. Zafran juga tak jago berkelahi, tak terlalu senang 'minum' meski club malam adalah favoritnya. Ia juga tidak termasuk ke dalam deretan cowok playboy. Dan ia juga tak pernah menunjukan kekayaan nya, meski semua orang tahu bahwa Zafran adalah anak dari seorang pengusaha dan dokter gigi sukses.

Zafran Mahesa : Kak, mau dijemput jam berapa dirimu?

Gailva Atya : Jam 2581 sore.

Zafran Mahesa : Apaan anjir nggak lucu. Buruan, gua ditanyain mama sama tante Dini.

Gailva Atya : Jam 11.00 gua udah di Soetta. Pokoknya jam segitu lo harus ada di bandara.

Zafran Raditya : Oke. Kata mama, lo hati hati.

Gailva Atya : Ke kokas dulu ya? Pengen ojju gua.

Zafran Raditya : Kata mama besok aja, dia masak sesuatu untuk lo. Langsung balik katanya. Banyak mau amat sih lo lagian, di Malang nggak makan?

Gailva Atya : OK.

Zafran Mahesa : Anj, singkat banget.

Gailva Atya : Bdmt.

Zafran segera menekan tombol lock di ponselnya dan meletakkannya di atas meja kamarnya. "UGM, I'm cominggg.." Ujar Zafran pada dirinya sendiri saat di dalam kamar. Ya, semenjak tahu bahwa dirinya diterima sebagai calon mahasiswa baru UGM, suasana hatinya benar-benar berubah, menjadi sangat positif.

Ia seperti ini lantaran memang ia sangat menyukai Jogja, terutama makanannya. Karena memang pada dasarnya, Zafran tak menyukai pedas dan kebetulan makanan di Jogja banyak yang tak pedas. Maka dari itu, Zafran penggemar berat makanan khas dari daerah tersebut.

Zafran tengah bersiap lantaran sebentar lagi dirinya akan menjemput Kakak tunggal nya itu di Bandara. Gailva Atya, biasa dipanggil Aya. Satu-satunya saudara kandung yang Zafran miliki. Pasalnya, orang tuanya hanya memiliki dua anak, Atya dan Zafran.

Atya saat ini tengah menempuh pendidikan dokter di Universitas ternama di Malang, sebut saja Brawijaya. Awalnya, Zafran juga berkeinginan untuk kuliah disana, namun setelah ia renungkan, tinggal satu kota dengan kakaknya bukanlah ide yang bagus. Pasalnya, Atya tak bisa berkendara dan hal itu pasti akan dijadikan alasan pertama Atya untuk meminta bantuan dari adik kandungnya itu. Dan Zafran, malas akan hal itu.

Gailva Atya : Zaf, pea lo. Mama kan ada di Bandung.

Zafran Mahesa : Ya lo lebih bego. Percaya aja hahahahahaha. Ampun Bu Dokter.

Gailva Atya : Kambing lo. Oiya pran. Gua udah di pesawat yaa. See you my handsome brother. Tapi boong.

Zafran Raditya : Pran pran, nggak gua jemput juga lo. Tiati cuyy.

"Tan, Kak Aya sudah di pesawat. Bilangin mama ya. Zafran kaga ada pulsa." Pinta Zafran pada Dini, adik dari ibunya.

"Iya. Kamu sana jemput Kak Aya. Takutnya macet, nanti kasian dia nunggu lama."

"Nanti dulu aja, lagian dia pasti bawa bagasi. Dan nunggu bagasi nya pasti lama."

"Kebiasaan, kalau nyetir pasti ngebut. Yaudah terserah kamu aja. Terus sekarang udah rapih mau kemana?"

"Aeon, beli sushi buat si kampret."

"Siapa? Kak Aya?"

"Iya, yang kampret siapa lagi selain dia. Aku pergi dulu ya."

"Zaf, tante nitip caramel popcorn XXI yang large ya."

"Siap." Katanya sambil mengacungkan jempolnya dan segera menuju mobil BMW seri X5 yang baru saja diberikan oleh ayahnya.


———
Halo! Lama tidak bertemu, hehe! Semoga kalian semua suka dengan cerita yang kali ini. Like dan Comment ya!
Terima kasih!!

After We MeetWhere stories live. Discover now