Hujan selalu memiliki momen tersendiri bagi setiap orang. Ada cerita bahagia, namun tak jarang ada cerita sedih. Setiap orang memiliki hak nya sendiri atas momen hujan. Kadang, manusia itu lucu. Hanya karena sebab kecil yang dibuat oleh momen saat hujan, mereka membenci mati-matian sang penyambung kehidupan dari tangan Tuhan itu. Kenapa disebut penyambung kehidupan dari tangan Tuhan?
Apakah kau mampu hidup tanpa air? Akankah tanaman tumbuh subur saat musim kemarau? Mungkinkah hewan ternak akan hidup tanpa makan rumput, dan rumput adalah tumbuhan. Siklus hidup di dunia ini panjang, beragam, dan tak terputus. Semua bersumber dari satu hal. Hujan. percaya tak percaya, begitulah adanya.
Manusia terlalu sensitif dengan perasaannya. Mementingkan ego mereka sendiri, dibanding ego makhluk lain di bumi. Hanya karena hujan membatalkan acara mereka untuk jalan bersama pacar, mereka mengumpat. Hanya karena jemuran jadi tidak kering, mereka kesal. Dan hanya karena terhambat diperjalanan, mereka mencaci maki. Hujan.
Baiklah, kita mulai sebuah kisah tentang dua orang anak manusia. Tinggal dipulau yang sama, provinsi yang sama, bahkan kota yang sama. Namun, mereka tak saling mengenal satu sama lain. Hingga sebuah momen mempertemukan keduanya.
Claudia, nama gadis yang sedang terduduk di depan teras rumahnya. Hujan turun dengan deras, tampiasnya sedikit mengenai wajahnya yang sendu. Ada apa dengan gadis itu? Apa dia sedang kesal dengan sang hujan? atau sedang sedih mengingat momen sedih saat hujan.
"Dulu, aku selalu bahagia melihat hujan turun. Kenapa sekarang berbeda? Andai hati manusia tak mudah berubah," desahnya ditengah suara hujan yang menimpa genting rumah.
Sedangkan berkilo-kilo meter dari tempat Claudia duduk. Seorang laki-laki menatap layar laptopnya. Membaca sesuatu dari sebuah forum diinternet.
"PECINTA HUJAN. BAGI KALIAN YANG MENCINTAI SANG HUJAN, DAN MEMPUNYAI BANYAK KISAH BAHAGIA, SILAHKAN BERBAGI DISINI. BERSAMA DENGAN KAMI"
Lucia : pagi ini mendung sudah menggantung. Ruangan yang kuhuni semenjak beberapa minggu belakangan terlihat lengang dan suram. Oh, rupanya lampu lupa ku hidupkan. Aku beranjak menghidupkan lampu. Terang. Tiba-tiba dari luar terdengar suara merdu. Suara apakah itu? Suara hujan yang jatuh mengenai genting, mengenai daun, mengenai bangku taman rumah sakit. Ya, aku selalu kesepian disini. Tak ada musik yang menghibur, tak ada suara orang-orang, lengang disini. Hanya hujan yang bersedia berbicang denganku. Mengusir kesunyian ku selama ini. Bahkan manusia pun tak memahami diriku, hanya hujan yang slalu meramaikan hariku dengan suara tetesannya yang merdu. Oh hujan, aku ingin segera sembuh. Bawalah sakit yang ku rasakan ini bersama tetesan hujan yang mengalir melewati daun dan jatuh ke tanah lalu hilang.
Rain, nama laki-laki yang saat itu tengah membaca sebuah cerita dari forum Pecinta Hujan. Namanya berarti hujan, orang tuanyalah yang memberikan nama itu. Rain Fajar Pertama. Dia lahir ketika hujan di sebuah subuh duapuluh lima tahun yang lalu. Wajahnya teduh, dan menyejukkan setiap orang yang melihatnya.
Rain selalu menyukai hujan. Sejak kecil, dia seperti anak-anak lain yang suka bermain hujanan. Tak pernah dia sakit selepas bermain hujanan, ibunya pun tak pernah melarangnya. Rain kecil mulai tumbuh menjadi remaja. Seperti layaknya remaja laki-laki lain, dia sedikit bandel. Sesekali timbul niatan untuk malas sekolah karena akan ada mata pelajaran matematika atau ada pr yang belum selesai.
Hanya karena hujan mengguyur dipagi hari, rutinitas berangkat sekolah yang selama enam hari dalam seminggu selalu dia jalani, bisa dibatalkan begitu saja.
"Yaah, hujan Ma. Aku gak sekolah ya, nanti sepatu sama seragam ku basah," begitulah selalu dalihnya.
Dia juga lebih suka saat momen hujan. Dirinya bisa puas seharian tidur dan makan sepuasnya dirumah. Namun, seiring beranjak dewasa, Rain yang sudah lulus sekolah tekhnik mesin itu diterima oleh sebuah perusahaan penyedia alat berat terkemuka di Indonesia. Dia terpilih untuk mengikuti kursus yang diadakan perusahaan tersebut bersama puluhan orang lainnya.
ESTÁS LEYENDO
RAIN AND CLOUD
Novela JuvenilAku takut saat hujan, tapi ketika dengan mu semua terasa menyenangkan
