"Lukisan Wajah"
Oleh : Anis Nur Arifah (Bitting)
Rabu, 17 Mei 2017 pukul 11.34 tepat. Saya terpaku di tengah riuh ramainya suasana kantin kampus yang terletak di belakang gedung. Saya merasa hampa diantara bising celoteh manusia. Saya merasa seperti alien yang terdampar dan tersesat. Berjumpa dengan makhluk-makhluk yang setiap gerak dan kata tak dapat dicerna. Saya atau mereka yang berbeda (?) mungkin memang sayalah yang berbeda. Bukan kah sebuah kebenaran lebih sering di dengungkan atas dasar jumlah suara (?) Ya, 'saya' tentu tak sebanding dengan 'mereka'.
Alam menyapa. Semilir angin menyisir permukaan kulit yang tampak, karena tak terbalut kain yang sering disebut oleh manusia sebagai pakaian. Menyisip malu-malu ke setiap lekuk-lekuk sendi. Detak jam berdetak menghantarkan panas sang mentari yang kian garang saja memanggang bumi. Panas dan angin berjalan beriringan, bergandeng tangan serta saling melengkapi. Siang semakin asyik atas seni sang angin dalam menyapa bumi dan isinya. Panas tetapi terkadang juga menyejukkan.
Entah mengapa, saya merasa jengah menatap lalu lalang manusia, hingga tanpa sadar pandangan saya tertuju pada gundukan tanah yang bernama gunung. Hijaunya tampak samar tertutup awan putih. Khayal melayang-melayang, sedang otak tak lagi bersemayam dalam raga. Samar-samar lukisan wajah seseorang mengambang di depan mata. Setiap detik yang merangkak mengiringi mata yang kian tajam menatap, bersamaan dengan itu kian jelas pula potret wajahnya. Dalam untaian kalimat yang saling berjejalan, saya mencoba untuk mengurai setiap gurat yang tertoreh. Dimulai dari hitam rambut setengah terikat. Lurus panjang menyentuh bahu, bergoyang-goyang atas deru angin yang menerpa, yang juga menyusuri setiap pori-pori kulitnya yang berwarna coklat. Deru angin masih terus melaju, membelai-belai hitam alis yang melengkung di atas kelopak mata, merambah pada hidung yang sederhana alias tidak mancung ataupun pesek. Detik kian bertambah, lukisan wajah itu semakin tampak seperti nyata. Semilir angin tak henti-hentinya mengibas-ngibaskan kerudung yang saya kenakan. Saya menarik napas panjang, teramat panjang malah. Saya berusaha menahan degup jantung yang melaju kian cepat, agar tetap tenang. Di atas sepotong lukisan itu juga tertoreh cambang kumis yang melekat tipis-tipis, meski tak menambah engkau tampak semakin manis. Melengkung, meringkuk memeluk bibir yang tampak lebih sering tersenyum. Terbingkai oleh dagu yang berbentuk lonjong sama-samar. Sketsa wajah yang hampir sempurna. Tak sedikit pula yang mengatakan "engkau tampan mas".
Saya akui, engkau memang cukup tampan walau saya suka sebal sendiri dengan gaya angkuh engkau yang terkadang saya rasai berlebihan. Namun, tak bisa mangkir juga bahwa mungkin itulah misteri ajaib yang menarik dari diri engkau. Selain itu, entah mengapa saya selalu seperti tersihir atas setiap tatapan mata dan kata yang kau ucap. Entah apa maksud dibalik tatapan itu, saya masih gagap dalam memaknainya bahkan hingga kini. Keyakinan serta keteguhan yang kuat. Hanya itu yang dapat saya baca. Saya rasa keyakinan-keyakinan semacam itulah yang kemudian melahirkan kata-kata yang meluap dari bibir engkau. Setiap kata itu laiknya mantra, menyihir dan selalu berhasil menggerakkan otak saya untuk memikirkannya terus-menerus. Berusaha menguraikannya menjadi makna yang tersurat. Makna yang lebih gamblang. Walau ujungnya pun hanya menuai tanya yang tak tersampaikan.
Saya masih mengingatnya dengan baik, saat engkau berucap "hei, waspada itu boleh tapi jangan sampai kamu jadikan ketakutan itu benteng yang kemudian menghalangi gerak dang langkahmu." Hingga kini saya masih ingat.
