Author
Keringat bercucuran mulai membasahi kaos polos berwarna cream miliknya, namun tubuh itu tetap memasang kuda-kuda pertanda tangan mengepalnya siap melayangkan pukulan bertubi-tubi pada objek di depan mata. Tak ada kata berhenti dalam benaknya yang semula kosong melompong sampai menjadi berisi kepuasan-kepuasan atas pukulan mautnya.
Huh, meski mengeluh capek, dirinya tetap memukul benda gemuk berbentuk guling itu dan sesekali menendangnya. Letupan kepuasan itu dirasakannya ketika bulir-bulir keringat berjatuhan dari pelipis menuju leher jenjangnya meski matanya sesekali menangkap keberadaan sosok tinggi yang bersandar di ujung pintu dengan tangan bersedekap. Dapat dilihatnya kaos hitam bertulisan Racing Stars yang dipakainya, menandakan kalau sosok itu baru saja pulang dari balapan.
Dilayangkannya sekali lagi pukulan terjangnya sampai Samsak yang tergantung itu bergoyang pelan, membuat senyumnya tercetak jelas.
"Mandi sana!" Ujar seseorang yang bersedekap tadi, dilihatnya gadis yang memukul samsak itu tidak mengindahkan perkataannya, membuat dia semakin mencak-mencak. "Ara!"
"Iya, Sayang. One minute left." Pinta Ara memelas dan kembali memasang kuda-kudanya, melupakan tatapan tajam yang sedari tadi memandanginya. Kalau begini sih, mending dia berhenti dan langsung mandi. Karena ketika Rafi mulai mengeluarkan jurus—meluluhkan Ara, maka dia akan langsung mengikuti perintah cowok itu.
"Nanti badan lo pegel-pegel, masa gue harus nganter lo ke tukang urut lagi, sih?" Jengah Rafi karena dari tadi dia hanya melihat semangat membara cewek itu tanpa ada kata-kata LELAH di keningnya. "Adara." Lagi, cowok itu memanggilnya dengan lembut.
Dalam sekali tendangan, dia berhasil membuat Samsak itu bergoyang keras karena terjangan maut dari kakinya. Inilah yang dia takutkan, Rafi akan mampu berkuasa dengan jurus-jurus kelembutannya di saat dia tidak ingin mendengar nada lembut itu. Takut hatinya semakin meleleh dan dirinya yang sudah bucin jadi semakin bucin. Setelah menormalkan napas dan detak jantung, dia mengambil handuk yang terlampir di kursi kayu setelah beberapa saat dia bercermin di kaca full body sambil menatap tubuhnya. "Gue udah ideal belum, Raf?"
Rafi yang melihat itu hanya berdehem sambil melihat tubuh milik Ara yang tidak terlalu kurus tapi seimbang. "Udah sebelas dua belas sama body Jennifer Lawrence, Ra."
Tepat saat itu handuk yang dikenakan gadis itu untuk mengelap keringat langsung mendarat di wajah tampannya. Membuat Rafi ingin mencakar wajah cantik Pacarnya kalau saja rasa cinta tidak mendominasi. Untung sayang.
"Katanya mau beli Sate Padang Ajo Ramon, yaudah buruan siap-siap." Rafi memasuki ruangan dapur diikuti Ara di belakangnya. Mengingat mereka sedang berada di taman belakang—tempat penyaluran hobi Adara di mana Samsak kesayangannya bergantung sempurna lengkap dengan sarung tinju di atas kursi kayu. Meskipun gadis itu sudah memiliki sabuk merah dengan dua strip hitam yang disebut Geup 1 di Taekwondo, rasanya dia masih belum puas sampai keinginannya benar-benar mengalir ke sabuk hitam seperti Abang Iparnya.
"Oh iya lupa. Astaga, kenapa ngga lo telpon gue aja sih, tadi?" Gerutu Ara karena jam saat ini menunjukkan pukul lima sore. Artinya, sudah dua jam dia menghabiskan waktu di taman.
Rafi langsung menunjukkan ponsel berisi roomchat mereka tepat di depan gadis itu sehingga Ara bisa melihatnya. Terlihat di aplikasi Whastapp tersebut Rafi menelpon Ara berkali-kali disambung dengan chat yang tidak dibaca-baca. "Cowok selalu salah." Tukasnya. Membuat Ara langsung tertawa lebar dan merapatkan badannya dengan badan Rafi. Kalau sudah begini, sih. Pasti Ara ada maunya.
YOU ARE READING
TWINS DISASTER (END)
RomanceAra memasang sarung tinjunya dengan sempurna. "Gue ngga akan buang-buang tenaga buat orang lain yang sengaja nyakitin gue. Tapi kalau sampai lo sendiri yang nyakitin gue," Ara menatapnya dalam. "Gue ngga butuh orang lain buat mukulin lo, karena gue...
