JEMUNIAN
(Pertempuran dengan Sepi)
Selepas kerpergian ibu, aku semakin berkawan dengan kesepian dan kesendirian. Selama ini, Ibu adalah simbol perlawananku pada kesepian. Kegaduahan kota yang selalu melekat pada batasan bibirnya, mampu mengoreskan sedikit warna pada petang tanpa senja.
Ibu selalu menceritakan tentang kegaduhan kota dengan segala hirupikuknya, tentang peristiwa-peristiwa yang tak terduga, tentang perih yang ditertawakan, dan tentang wajah kota yang dipenuhi dengan kebiadaban, kelicikan, dan makhluk berdasi yang haus dengan darah perawan. Dan ibu adalah salah satu korban dari kehausan itu dan mencatatkan diri sebagai salah satu pemeran dalam lakon duka. Tak ingin aku bernasib sama seperti dia. Ia tak pernah mengajakku ke kota dan lebih memilih membiarkanku terbalut dengan kesendirian lalu setiap petang ia pulang menenteng sebuah cendra mata berbentuk cerita tentang apa yang ia lakukan di kota.
Kini simbol itu telah lenyap, bersama petang yang dilahap oleh gelap. Yah sore itu, hiasan kelam bertengger menyambut malam. Senja tak kuasa memamerkan kecantikannya, hujan menari tak beraturan, angin berhembus sempoyongan, menabrak pepohonan hingga ranting tua terputus dari batangnya yang tak kalah tua. Ibu ditemukan tewas tanpa kepala di atas tumpukan sampah dekat pasar. Saat ditemukan tubuhnya sedang jadi santapan pesta bagi anjing liar milik dunia. Dan saat itu pula, aku mulai merajut persaudaraan kembali dengan sepi dan sunyi.
Kemunculan dirimu adalah awal pemberontakanku pada kesetian sepi. Kau muncul dengan segala kegaduhan yang kau bawa, dan sepi mulai menatapku dengan kesinisannya. Tak ada lagi angin kesejukan, tak ada lagi kenyaman yang aku rasakan dalam pelukan sepi.
Kini semua telah berubah, sepi tak lagi mau menyertaiku walau dalam kesendirian.
"kegaduhanmu hanya membuat kau semakin tak berbentuk. Keramaian hanya akan menyumpal aliran kenyamanan yang ingin memelukmu. Ketahuilah ia akan menusuk serta mencabik-cabik kewarasanmu" bisik sepi dalam lamunan sunyi.
"Apa aku tak pantas berada dalam keramian? Lantas, sampai kapan aku terus bersetubuh denganmu?" perdebatanku pada sepi menyiratkan ia telah benar-benar menyatakan perang pada kegaduhan, dan sepi tak pernah kembali.
Sejak senja sedang menjalankan tugasnya untuk menghiasi jingga pada biru langit, hujan mengutarakan kerinduan kekeringan pada basah. Waktu itu aku mendatangimu dengan prahara yang begitu gaduh. Aku menyebutnya serangan fajar yang mengujani tubuh-tubuh lapar dan terkapar di atas tikar semak belukar.
Bermodal dusta dengan ribuan kata-kata yang bergelantungan dalam imaji. Aku datang sebagai senjata ulung untuk menembus palung hingga relung sukmamu.
Imanmu kugoda dan tubuhmu kutelanjangi. Seketika dadamu bergetar, menggelinjang tegang, hening kabur entah ke mana, napas berdebur menabrak karang tanpa ada jarak pada waktu yang merangkak.
"Ini kuberikan kau selaput terbaikku, jangan kau menganggap ini sebagai pengorbananku"
"lantas, jika ini bukan pengorbanan, lalu apa?" tak ada jawaban yang kuberikan untukmu, kubawa kau untuk masuk lebih dalam bersama alunan musik bosas ala spanyola, dan kita menari mengikuti hentakannya.
Kita rangkai sebuah kesepakatan di bawah rindang pohon cemara. Sunyi diteror suara nafas yang berebutan dengan dedaunan. Tubuhmu kuhentakan di atas batang, kususuri setiap garis pada tubuhmu, kulumuri setiap elokan dengan nafsu, dan kubumbui batang-batang rambut halusmu, seketika terbentuk taman rambut dengan tegak menantang tinggi.
Cahaya rembulan remang di sela-sela tangkai cemara, kelelawar malas di balik sayapnya, namun matanya merah padam, bergerilya mengawasi setiap gerak pemangsa.
Sementara kau dan aku asyik pada takdir yang kita ukir sendiri. Membelakangi segala bentuk peringatan, menabrak segala yang menghadang, menembus selaga yang berselimut, menerawang jauh segala yang tak terjangkau. menyusuri segala yang tersembunyi, menebak segala yang terahasia, dan menikmati segala yang terjadi.
Saat itu kau hanya mencoba menghayati segala tarianku, serta menahan luka yang terjadi. Aku memandangmu ragu dengan segala keyakinanmu.
Kutulis surat ini agar kau tahu siapa aku sebenarnya, walaupun aku yakin kau tak akan mungkin mampu membacanya.
"aku sudah berada di desa sepi, entah apa yang sedang kau lakukan saat ini. Apa kau masih bermain dengan kerbau sawah, atau kau sedang berdansa di tengah kota dengan segala kegaduhannya? Jangan kau mencariku di tengah kota, kau takan mungkin menemukanku di sana. Sebab kegaduhan yang mereka buat, hampir saja membunuhku.
Kini aku telah kembali dalam pelukan sunyi, dan entah mengapa aku begitu nyaman dengan kesepian. Sekarang aku menyadari ternyata kesunyianlah kekasih terbaikku. Dan mungkin karena ini ibu memberi namaku Jemunian; Putri dari Seribu Anak Waktu.
Aku pamit, maaf kutinggalkan dirimu dengan kepala yang terlilit.
Tertanda: Jemunian
Di selasar makam yang kukunjungi, wajahmu tertera pada nisan berhias namamu. Ini Kuselipkan mawar bertangkai sunyi tanpa duri di samping nisanmu,
"Maaf durinya sudah tak ada, sebab telah kutinggalkan bersama tali yang melilit di lehermu waktu itu."
ESTÁS LEYENDO
Jemunian (pertempuran dengan sepi)
Misterio / SuspensoJemunian seorang gadis yang terlahir dari ribuan anak waktu. Kecintaannya pada sepi tak mengizinkan kegaduhan menyambanginya. Acap kali bertemu dengan seseorang yang mencoba memberikan kegaduhannya ia selalu melakukan sesuatu yang tak terduga, a...
