MDA PART 1

1.9K 64 11
                                        

Nagita sangat suka fairy tale. Dia memimpikan suatu saat ia bertemu dengan pangeran impiannya. Dan punya kehidupan yang bahagia. Kedengarannya cukup kekanak-kanakan. Tapi Nagita bukan anak-anak. Dia seorang gadis dua puluh tahun. Nagita ingin seperti putri tidur yang akan bangun jika pangeran-cinta sejatinya menciumnya. Nagita akan melakukannyapada suaminya kelak saat pagi hari. Nagita ingin seperti putri salju, yang juga bangun karena pangerannya. Dan yang terpenting, mereka hidup bahagia.
"Nagita!! Dimana kau letakkan sepatuku?!" Tapi kalau boleh jujur, kehidupan Nagita sangat jauh dari fairy tale. Yah walaupun Nagita tidak butuh kekuatan sihir. Tapi dia ingin sebuah keajaiban.
"Nagita!! Bajuku sudah kau setrika belum??" Jika setiap pagi tuan putri akan bangun dengan cantik, burung-burung berkicau indah, dan matahati menyapanya hangat, maka Nagita akan bangun dengan rambut super berantakan dan teriakan nenek-nenek sihir. Sebenarnya mereka sama sekali tidak berwujud nenek sihir, karena Nagita akui mereka memang cantik. Ada beberapa alasan yang Nagita punya untuk menyebut mereka nenek sihir, tapi tentu saja bukan karena mereka memegang sapu.
"Nagita, cepatlah bangun, kami butuh sarapan!" Nagita sangat suka fairy tale, tapi dia benci jadi Cinderella! Nagita menarik selimutnya lebih tinggi hingga seluruh badannya tertutupi. Tapi kemudian teriakan-teriakan mengganggu itu kembali terdengar, kali ini lebih nyaring membuat Nagita terkejut dan duduk dengan tiba-tiba. Kepalanya sedikit peningkarena hal ini. Nagita beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri dengan mata yang masih terpejam. Oh sungguh, ini masih pagi dan Nagita baru bisa terlelap pukul 3 pagi (salahkan tugas-tugas kuliahnya yang mengerikan itu.) Nagita membuka matanya dan mulai berjalan menuju pintu kamarnya. Ia masih cukup waras untuk tidak membuat kepalanya terbentur karena salahnya sendiri. Dan ia membukanya. Sambutan hangat-bukan-sambutan membara dari ibu dan kakak tirinya menjadi pembuka hari itu. Mereka bertiga berdiri dengan melipat tangan di depan dada, sama persis. Sementara Nagita memasang wajah amnesia dan ingin berkataaku dimana?Aku siapa? Tapi tidak. Nagita memilih tersenyum konyol sambil berkata, "Selamat pagi!!" Dan jitakan di kepala dari kakak sulungnya-Velove adalah jawaban atas sapaan selamat paginya. Dan rumah itu kembali normal. Semua tampak sibuk. Sebenarnya hanya Nagita yang bisa dikatakan sibuk dalam arti sebenarnya. Velove, kakak tertua sibuk berdandan, memoles wajahnya dengan bedak dan terus menambahkannya membuat wajahnya putihnya seperti tertumpah tepung sana-sini. Velove memang sudah cantik, tapi ia terus menghiasi wajahnya dengan peralatan make-up lengkap memenuhi meja riasnya. Mungkin Nagita bisa membuangnya secara diam-diam nanti. Atau mungkin tidak. Bella sibuk memilah baju untuk kuliahnya. Menghamburkannya di kasur dan mencoba yang manapun ia suka. Ia bilang akan memakai baju dengan warna sesuai dengan suasana hatinya. Demi Tuhan! Bella hanya ingin pergi kuliah, bukan berkencan atau menjadi model peragaan busana. Yang menjengkelkan adalah Nagita yang harus merapikan itu semua nanti! Ibunya, ah Nagita tidak ingin memanggil wanita itu ibu dan wanita itu juga tidak ingin Nagita memanggilnya ibu, sedang duduk di meja makan sambil menyomot sarapan rotinya dengan dagu yang di angkat ke atas. Lipstick berwarna merah tajam dan bulu mata tebal. Tipikal ibu-ibu genit. Sementara Nagita. Sibuk kesana kemari seperti setrika panas. Kadang tersandung kakinya sendiri karena gerakannya terlalu cepat. Dia punya keseimbangan yang buruk dengan tubuhnya tapi untunglah ia tidak memecahkan gelas atau terpeleset, dan itu mungkin bisa jadi masalah baru. Dan dia bisa di omeli habis-habisan sampai telinganya berdengung. Sambil membuatkan teh hangat manis dengan satu sendok gula di tambah satu sendok susu, minuman Bella setiap pagi dan Nagita tidak boleh sampai salah membuatnya-Nagita melirik jam dinding. Masih ada dua jam lagi sebelum ia ada kelas. Mungkin ia bisa menyambung tidurnya selama beberapa puluh menit.
"Nagita, bersihkan kaca jendela kamarku. Aku tidak bisa melihat wajah tampan Chico dengan jelas saat ia keluar dari rumahnya."
"Hei kakak! Chico milikku!" sahut Bella
"Dia milikku!"
"Aku yang lebih dulu tertarik padanya!" Dan kedua bersaudara itu saling melempar tatapan kesal. Seperti kucing yang sedang memperebutkan tulang ikan. Bukan, Chico bukan tulang ikan. Chico hanya tetangga seberang rumah yang kaya dan mungkin tampan. Entahlah, Nagita tidak memperhatikan.
"Kalian berdua, selesaikan sarapan kalian dan cepat berangkat. Aku tidak ingin mendengar dari dosen kalian bahwa kalian membolos." Dan ucapan dari ibu kandung mereka itu sukses membuat mereka berdua bungkam dan menghabiskan sarapan. Lalu berangkat.
"Aku pergi dulu,Mom." Wanita itu menerima kecupan di kedua belah pipinya dari dua orang putrinya sebelum kedua putri kesayanganya itu pergi ke kampus dengan mengendarai satu mobil. Kalau mereka bertengkar lagi, Nagita harap mereka akan saling melemparkan ke luar mobil satu sama lain. Tapi itu tidak akan terjadi.
"Nagita, bersihkan meja ini. Setelah itu kau rapikan kamar Bella dan jangan lupa bersihkan kaca seperti yang dikatakan Velove tadi. Aku akan pergi keluar sebentar." Pupus sudah harapan Nagita untuk menyambung tidurnya selama beberapa puluh menit. Eh,apakah tadi pendengaran Nagita benar bahwa wanita itu akan pergi keluar? Mungkin Nagita bisa menunda pekerjaannya dan mengerjakannya nanti saat pulang kuliah. Berharap saja wanita itu terlalu asik belanja lalu melupakan segalanya, atau bahkan lupa pulang ke rumah. Kemungkinan kedua kedengarannya lebih menyenangkan.
-
"Kau melompat tembok lagi?" tanya Chand sembari menyingkirkan dedaunan yang menempel di rambut Nagita.
"Ya, aku tidak menyangka wanita itu mengunci gerbang utama. Apakah dia pikir aku tawanan rumah? Aku bahkan perlu kuliah. Apa dia tidak takut uangnya terbuang sia-sia karena bayaran kuliahku..." Nagita mengomel sepanjang jalan dan Chand mendengarkannya dengan baik. Chand teman yang baik juga pendengar yang baik. Dia dan Chand teman satu kampus. Chand cukup tampan-Nagita rasa itu menjadi salah satu alasan para gadis mengerjarnya. Tubuhnya bagus (Chand sering berolahraga). Chand berasal dari keluarga yang berada. Dan Chand hampir-selalu-terlihat bahagia. Nagita juga, tapi dulu sebelum para nenek sihir itu datang dan sebelum ayahnya meninggal. Kalau diceritakan mungkin ini akan menjadi kisah sedih yang berderai air mata. Tapi tidak. Nagita tidak perlu mengungkapkan kisah sedihnya. Semua terlalu jelas disini. Fairy tale berubah menjadi mimpi buruk.
"Hey Chand, tangkap!" Perkenalkan, yang baru saja melempar Chand dengan bola basket, namanya Dimas. Chand punya gerakan refleks yang bagus. Ia bahkan pandai bermain basket. Dan permohonan Dimas terkabul, Chand menangkap bola basketnya dan melemparkan lagi ke tengah lapangan, hampir mengenai kepala Billy yang sedang duduk di tepi lapangan bersama dengan gitarnya. Tak ada pelajaran wajib olahraga di perkuliahan. Mereka melakukannya hanya untuk senang-senang. Atau mungkin menarik perhatian para gadis. Mereka akan berkeringat, menambah kesan seksi. Tapi Nagita justru memprotes dan mengatakan mereka bau keringat. Chand dan Dimas sama saja. Mereka suka menggoda para gadis. Billy lebih senang bermain dengan gitarnya. Billy juga tampan, humoris tapi dia sayang pada gitarnya. Menikah saja kau dengangitarmu! Nagita menyumpah. Nagita duduk di bawah pohon rindang bersama Chand, mereka tidak hanya berdua. Ada Tarra yang baru datang membawa bekal yang ia buat sendiri di rumah dan ia tidak pelit untuk membagi makanan itu pada teman-temannya.

MILARGO DEL AMOR [Completed]Where stories live. Discover now