MENGULANG MAAF-1

128 9 2
                                        


"Kristal, please, one more?" // "Kau... bilang lebih suka jika aku menamparmu, bukan?"// "Ran, aku minta penjelasanmu. Bukan memintamu mengulang maaf."// "Dan kenapa selingkuhanmu ini ada di rumahku?"// "Berlututlah, keluarkan cincin yang sedari tadi kau bawa dan ucapkan kalimat sakti itu."

.

.

.

"Maaf."

Lagi? Ya Tuhan, apa dia pikir Kau membuatkanku hati hanya untuk bersedia disakiti? Mungkin ini memang sudah salah sejak awal, membiarkannya "bermain dan kembali" sesukanya. Bahkan, kedai kopi pun lebih punya banyak waktu untuk sekadar disinggahi daripada hatiku ini. Sialnya, sepasang mata hitam itu masih saja bisa membuatku luluh, membuatku lupa kalau si empunya mata arang itu adalah seorang playboy.

"Kau... meminta atau memaksa?"

Akhirnya, tenggorokanku yang sudah tercekat sedari tadi, bisa mengucapkan pertanyaan itu.

Kulihat Randy menunduk dalam. Aku yakin, dirinya pun pasti tak kuasa menahan malu karena terlalu sering meminta maaf dariku. Ya, dari perempuan yang sudah tiga tahun ini−bersedia dengan sukarela−menjadi kekasihnya yang sudah diselingkuhi lebih dari lima kali!

Bukan bodoh, aku tahu dia bermain di belakangku, aku tahu itu. Hanya saja... aku tak bisa pergi dan selalu tertarik kembali dalam dekapannya. Itu namanya sayang, walaupun lebih banyak bodohnya. Tetap saja, aku menyayanginya.

"Aku hanya mencintaimu, Kristal."

See? Hanya dengan memanggil namaku diiringi tatapan sendunya saja, aku sudah sangat ingin menghambur ke dalam peluknya.

"Kalau kau hanya mencintaiku, jika memang benar begitu, seharusnya kau tidak perlu meminta maaf."

"Aku meminta maaf karena aku selalu berbuat salah."

"Ya! Itu! Seharusnya kau tidak perlu selalu berbuat salah dan meminta maaf lagi."

Aku mencoba memberanikan diri menatapnya lebih dalam. Entah mengapa, teras rumahku ini terasa lebih dingin dari biasanya. Bahkan, aku berani bersumpah, keringat dingin telah mengucur dari dalam tubuhku. Mungkin karena emosi yang meluap dan rasa takut kehilangan Randy. Bagaimanapun juga, seperti yang kubilang tadi, aku menyayanginya walaupun aku tahu, menjalin hubungan dengan buaya sama saja dengan rela menjadi mangsanya kapan pun dia mau.

"Kristal, percayalah, kalau pun aku bersama mereka, aku hanya ingin pulang kepadamu."

Kini, ucapan gombal kesekian kali itu pun kembali dilontarkan. Membuatku muak, sekaligus hangat. Randy mempermainkanku dengan sangat baik, bukan? Bahkan di saat dia menyakitiku berulang kali, aku masih bisa merasa nyaman.

Kurasakan genggaman tangan Randy menguat ketika aku tak juga menjawabnya. "Kristal, please, one more?"

"Apa kau tahu, setiap kali kau kembali bermain dengan perempuan lain, seberapa besar penyesalanku untuk memberikanmu kesempatan walaupun hanya satu kali?"

Hancur. Pertahananku sudah runtuh. Air mata yang sedari tadi kutahan, kini sudah meluncur dengan derasnya di pipi putihku. Aku tidak menyalahkan air mata itu, aku justru berterima kasih. Setidaknya, dengan adanya air mata ini, mungkin Randy akan semakin merasa bersalah karena lagi-lagi telah sukses membuatku menangis.

Seketika Randy berdiri dan dengan sepasang tangan kukuhnya, dia meraih kedua pundakku lalu membawaku bangkit dari tempat duduk untuk bersandar pada tempat ternyaman yang sangat kusukai. Dada bidang miliknya. Samar-samar kuhirup aroma maskulin khas Randy yang harus kuakui, bukan hanya dinikmati diriku seorang.

"Ran..." gumamku lirih.

Tidak ada jawaban. Aku hanya bisa merasakan napasnya yang teratur menerpa puncak kepalaku dan detak jantungnya yang sama kencangnya dengan milikku.

Aku melanjutkan, "tetaplah seperti ini. Di sini. Denganku. Kristal. Hanya Kristal. Bukan yang lain."

Randy menghela napas sangat berat. Aku berani bertaruh, helaan napas panjang miliknya itu adalah salah satu pelampiasan dari rasa bersalah yang mungkin sedang menggeluti hatinya saat ini.

"Sebenarnya, aku lebih suka kalau kau menamparku. Aku lebih suka kalau kau maki saja aku. Daripada harus terus lembut seperti ini. Justru membuatku semakin merasa bersalah." Randy terdiam sesaat. Dia mengendurkan peluknya dan telapak tangannya sekarang sudah membingkai wajah mungilku.

"Aku bodoh. Maafkan aku."

Aku bahkan bisa melihat pantulan wajahku di mata hitamnya. Setiap kali lelaki ini meminta maaf dariku, hatiku akan dengan mudah mempercayainya. Namun, kenapa harus kembali terulang? Ketika aku sudah mempercayainya lagi dan dia berkhianat lagi. Selalu begitu.

"Apa... apa aku ini sangat membosankan untukmu?" Meskipun tergagap, aku berhasil menyelesaikan pertanyaanku.

"Apa maksudnya, Sayang?"

"Yah, maksudku, mungkin aku adalah perempuan membosankan sehingga tidak bisa membuatmu betah."

Aku menangkap ekspresi Randy yang sempat terperangah dengan ucapanku. Tentu saja aku tidak seenaknya melayangkan pertanyaan itu begitu saja. Aku tahu, pacaran itu tidak hanya atas cinta. Banyak teman-teman perempuanku yang bercerita kalau pacar mereka tidak hanya menuntut untuk diberikan cinta, tapi juga tubuh. Buat mereka, status pacaran itu semacam hak lisensi untuk mencicipi apa pun yang telah menjadi hak mereka. Dan jujur, pemikiranku sama sekali tidak seperti mereka.

"Kau bercanda. Apanya yang membosankan? Kau selalu bisa membuatku bahagia, Kristal. Kau... sangat baik."

Aku mendengus mendengar jawaban Randy. Bahagia apanya? Setahuku, kalau seseorang bahagia, dia tidak akan melepaskan kebahagiaan itu, bukan? Bahkan, mempermainkannya. Setidaknya, tidak sampai mempermainkan sampai lima kali begini!

"Lalu, kenapa kau berselingkuh?"

"Come on, Kristal. Aku minta maaf. Sudah kubilang, aku minta maaf."

Aku menepis tangan Randy yang masih setia memegang lembut wajahku. Kemudian, aku kembali duduk di kursi putih yang memang selalu bertengger di depan teras rumahku sejak lama. Mungkin, ketika aku dan Randy masih duduk di bangku kuliah, kursi ini sudah menjadi saksi kisah drama romantis kita berdua. Sampai sekarang.

"Ran, aku minta penjelasanmu. Bukan memintamu mengulang maaf."

Lelaki itu mendongak ke atas beberapa saat dan menutup wajah dengan kedua tangannya. "Dinda... malam itu, dia..."

Aku menggenggam lembut tangan Randy, menunggu dengan sabar apa yang akan dia katakan. Aku sudah siap dengan segala cerita ini. Cerita antara Randy dengan perempuan yang menjadi perusak hubunganku saat ini. Ya, Dinda.

"Kejadiannya begitu cepat. Aku dan Dinda berada di club yang sama. Dan entah bagaimana, karena keadaan kita saat itu, aku menerimanya dengan tangan terbuka untuk duduk di pangkuanku."

-THE END-Stories to obsess over. Discover now