"Hei Ciko!!" teriak seorang gadis yang sedang berlari kencang menghampiri lelaki yang dipanggilnya Ciko. Sontak Ciko menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan dan melihat Selly yang terengah-engah.
"Lo! Huu dari huuu aku huuu panggil huuu tidak hah hah menoleh hah hah" kata Selly terbata-bata karena pernafasannya yang tidak teratur karena terlalu lelah berlari. Setelah menyelesaikan perkataannya, Selly terduduk lemas di atas trotoar yang panas. Banyak orang yang melihat Selly aneh. Ia tidak peduli itu.
"Ada apa?" tanya Ciko singkat. Wajahnya masih saja tidak berekspresi. Itu membuat emosi Selly meledak-ledak. Sohibnya ini memang tidak memiliki stok ekspresi. Yang katanya cewek alay COOL. Bwuuekk. Dengan sisa kekuatannya, Selly bangkit berdiri. Ia menarik nafas dalam-dalam dan...
"Ihh lo itu ya!! Sebel deh!! Muka lo itu senyum dikit napa?? Mahal amat senyumnya omm??!!" teriak Selly kesetanan. Ia sudah muak dengan Ciko yang pelit senyum meskipun dengannya sendiri yang notebene sohib dari kecil.
"Udah? Langsung ke intinya aja. Ada apa?" Ciko mengulangi pertanyaanya.
"Lo udah tau belum?" tanya Selly dengan mata berbinar-binar. Rasa marahnya tadi seakan hilang tak bersisa. Ciko menggelengkan kepalanya. "Sepupunya si kampret dateng!!!" teriak Selly heboh. Mereka berdua memang mempunyai muka tembok. Tidak tahu yang namanya MALU.
"Oh" kata Ciko singkat. Ia membalikkan badannya dan kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda tadi. Selly yang menyadari bahwa Ciko akan pergi meninggalkannya, langsung menahan lengan Ciko.
"Mau kemana?? Rumah si kampret kan nggak kesitu arahnya??" tanya Selly. Kepalanya mulai bermain tebak-tebakan. Akan pergi kemanakah Ciko yang berjalan kaki??. Karena Selly sudah mengenal Ciko dari mereka masih minum ASI. Ia tahu kemana Ciko akan pergi.
Ciko membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Selly, namun Selly sudah memotongnya.
"Jangan bilang lo ke toko buku" tebak Selly sekenanya. Ciko hanya menghendikan bahunya acuh. Ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju toko buku terdekat. Ia ingin membeli ensiklopedia dan jangan lupa pesanan bundanya tadi buku resep jajanan hajatan.
*****
"Tatayyyy!!" teriak para penghuni rumah bernuansa putih itu. Semuanya tampak gembira menyambut datangnya seseorang yang sangat dirindukan.
"Tante Tina!! Om Adlan!! Benny!! Selly!! Aku pulang!!!" teriak seorang gadis yang dipanggil Tatay itu. Sambil menyeret kedua kopernya, ia berlari menuju lingkaran keluarganya. Memeluk satu per satu penghuni rumah itu. Tak ada yang terlewat samapi bi Tutik pun dipeluknya dengan erat.
"Tante!! Aku kangen banget sama tante!!" hanya ditanggapi senyuman menenangkan dari tante Tina.
"Om!! Kangen kumisnya om!!" om Adlan memainkan kumis tebalnya itu.
"Benny si kutu kupret lo tambah ganteng dehh!!" Beni menanggapinya dengan gerutuan tidak jelas.
"Selly!! Kangen ngegosip!!" Selly menanggapinya dengan anggukan penuh semangat dan senyum lebar yang tak luput dari wajahnya.
"Bi Tutik tambah seksi deh!! Cihuy!!" bi Tutik tersenyum malu sambil memainkan pucuk rambutnya.
"Kamu udah makan sayang?" tanya tante Tina menginterupsi acara kangen-kangenan ini.
"Sebenernya udah sih tan. Tapi, gara-gara tante ngingetin makan, jadi laper lagi deh" ucap Tatay lesu sambil mengelus perutnya yang keroncongan.
Tante Tina terkekeh geli "Kamu ini ya tiada hari tanpa makan. Yaudah ayo! Tante udah masak rendang!!" ucap tante penuh semangat. Tangannya menggapai lengan Tatay dan menariknya menuju ruang makan. Saat tiba di ruang makan, Tatay melongo melihat hidangan yang tersaji di atas meja.
"Ada hajatan ya tante?" tanya Tatay sekenanya.
"Bukan" kata tante singkat.
"Terus?" tanya Tatay bingung. Kepalanya sedang dilanda kebingungan tingkat akut.
"Terus nabrak! Ini semua buat lo mak lampir!" Benny menjawab pertanyaan Tatay dengan tidak santainya. Tatay ingin membalas Benny dengan ledekan mautnya tapi, suara bel menginterupsi perkataan yang siap disemburnya.
"Kalian semua makan dulu aja!" kata tante sambil lalu.
Karena dilanda kelaparan yang luar biasa akhirnya Tatay memutuskan untuk memaafkan tindakan Benny sekarang. Ia duduk dengan tenang sambil makan dengan lahapnya. Suasana di ruang makan itu tampak sepi, tidak ada pembicaraan sekali pun yang terdengar. Kecuali suara dentingan sendok dan piring.
"Ayo Ciko duduk sini! Tante masak rendang enak banget loh Ciko!" suara tante Tina membuat semua kepala yang sedang menunduk, terangkat sempurna. Semua mata memandang Ciko. Kecuali Tatay yang sedang fokus nambah porsi.
Tanpa disadari Tatay, Ciko duduk tepat disebelah kanannya. Jujur saja, Ciko terpaksa makan dirumah om Adlan. Tadi ia hanya disuruh mengantar kue buatan bundanya ke tante Tina. Eh, tangannya malah diseret paksa tante Tina. Memang, tidak ada yang bisa membantah tante Tina karena hobinya menyeret orang.
Tante Tina mengambil nasi beserta lauknya dan diserahkannya untuk Ciko. Ciko menerimanya dan tersenyum tipis. Ia tak mau dianggap kurang ajar. Ciko memakan makanannya dengan tenang. Tante Tina juga sudah kembali ke tempat duduknya dan makan dengan tenang. Keadaan kembali hening.
"Ekheek" terdengar suara sendawa yang sangat menggelegar. Sang pelaku yang ditatap hanya menatap satu-persatu orang yang ada di meja makan sambil cengengesan. Siapa lagi kalau bukan Tatay. Tapi, ia tidak menoleh pada Ciko. Jadi, ia masih belum menyadari ada Ciko disebelahnya. Ciko yang ada di sebelahnya langsung menghentikan acara makannya. Ia memandang Tatay tajam.
"Jorok" cetus Ciko pedas. Tatay yang mulai menyadari ada seseorang disampingnya dan mengatainya jorok mulai tersulut emosi. Ia menatap seseorang disampingnya dan siap menyemburkan rentetan kalimat yang telah disusunnya di dalam kepala.
Tapi, tidak sesuai dugaan. Tatay malah membulatkan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar. Ia terkejut ada Ciko disampingnya. Ciko yang memang sudah hafal betul dengan kelakuan Tatay hanya menghembuskan nafasnya kesal. Tangan kanannya terulur menutup mulut Tatay yang terlalu lebar. Sedang tangan kirinya menutup kedua mata Tatay agar tidak melotot seperti itu.
Tatay segera menepis kedua tangan Ciko yang seenaknya nemplok di mukanya. "Ciko!!" teriak Tatay toa. Ciko menutup kedua telinganya. Ia selalu tidak tahan ada di dekat Tatay. Suaranya itu loh kayak toa. Tanpa mereka sadari, semua penghuni rumah yang tengah asik makan tadi, sudah bubar entah kemana. Tinggal mereka berdua yang ada di ruang makan ini.
"Ka-kapan??" tanya Tatay terbata-bata.
"Tadi" jawab Ciko singkat.
"Oh" Tatay hanya bisa mengatakan itu. Ia terlalu terkejut dengan kedatangan Ciko yang tiba-tiba. Sebenarnya, ia tadi sudah putus asa karena tidak melihat Ciko saat ia tiba di rumah.
"Welcome back" cetus Ciko singkat. Ia menyodorkan sebatang cokelat di hadapan Tatay. Maklum karena Tatay sedang menundukkan kepalanya. Ia masih bergelut dengan pikirannya. Karena tidak menyadari tindakan Ciko, Tatay terlonjak kaget. Ia hampir terhuyung ke belakang. Tapi, dengan sigap ciko menarik tangannya. Akhirnya, bukannya terhuyung ke belakang tapi, justru tubuh Tatay menabrak dada Ciko.
"Ck. Ceroboh" cetus Ciko singkat. Tangannya terangkat menjentikkan jarinya pada dahi Tatay. Ciko bangkit berdiri.
"Pulang. Ijinin ke tante" kata Ciko sambil lalu.
Sedang Tatay berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Tapi, tak urung senyum lebar terpancar dari wajahnya. Ia tak sabar ingin menceritakan kejadian ini pada Selly. Ia tak sabar ingin menceritakan perlakuan manis pacarnya itu.
ESTÁS LEYENDO
TayCo
Novela JuvenilRoller Coaster. Permainan yang membuat jantung kita berdetak tak karuan. Permainan yang kadang naik kadang turun. Kita tidak bisa mengendalikan permainan itu semau kita. Begitupun dengan hidup. Pepatah kehidupan selalu disangkut- pautkan dengan perm...
