Prolog

8 1 0
                                        

Ketika kita dihadapkan oleh dua pilihan dan kita dipaksa harus memilih satu diantara kedua pilihan itu. Mencintai atau dicintai, melukai atau dilukai, hidup atau mati. Kedua pilihan yang berat, bukan ? Ya hidup penuh dengan pilihan dan skenario hidup pun  muncul dari pilihan-pilihan yang kita ambil. Jalan kehidupan akan tampak berliku ketika kita menginginkan sesuatu yang besar terjadi dalam hidup kita. Ketika kita berkata Tuhan sudah menentukan jalan kehidupan skenario seseorang dan kita hanya pasrah menjalankan skenario yang telah di buat oleh Tuhan. Tapi menurutku tidak, hidup bukanlah seperti air yang mengalir begitu saja, mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah kemudian tergenang dalam sebuah dataran dimana air itu berkumpul bersama genangan air lainnya hingga akhirnya membentuk sebuah genangan air yang besar bahkan membentuk sebuah danau ataupun sungai. Hidup itu bukanlah seperti air yang mengalir, hidup itu seperti mendaki gunung yang tinggi melewati jalan yang terjal dan berliku berjuang melewati rintangan agar bisa mencapai puncak dari gunung dan menikmati keindahan yang akan membayar kelelahan kita.

Ketika hati ini sudah memilih untuk mencintai dengan sebuah keyakinan yang mantap tercipta dari hati. Pria itu telah membuat Aku memilih untuk mencintainya dengan untaian kekaguman  pada sosok yang baru saja Aku temui ketika memijakkan kaki ke Universitas Sriwijaya. Bola matanya hitam sehitam langit malam tanpa bintang yang menciptakan rasa kedamaian ketika memandangnya dengan kilauan terpancar dari bola matanya itu bahkan hanya memandang matanya saja sudah cukup membuat Aku ingin menyerahkan hati kepadanya. Yah, Aku sudah menyerahkan seluruh kekaguman dan hati ini padamu tanpa Aku harus mengetahui siapa namanya dan dimana rumahnya cinta itu muncul tanpa Aku meminta. Jika pepatah mengatakan cinta tumbuh pada pandangan pertama dan pepatah lain dari cinta berasal dari mata lalu turun ke hati. Ya itulah yang sedang aku rasakan saat ini. Tapi bodohnya Aku, bagaimana bisa aku mengatakan Aku jatuh cinta padanya bahkan definisi cinta sendiri aku tidak mengerti dan Apakah ini benar-benar cinta atau sekedar perasaan kagum terhadap kesempurnaan yang dia miliki. Apalah itu namanya aku tidak perduli yang aku tahu bayangan wajahnya memenuhi pikiranku bahkan hingga aku terlelap di saat malam.

Aku hanya bertemu sekali dengannya bahkan setelah seminggu aku resmi menjadi seorang mahasiswi di Universitas Sriwijaya Aku masih tidak menjumpai kembali sosok pria yang sudah membuatku jatuh hati. Aku tidak akan melupakan sosok itu, pria dengan bola mata yang indah dengan rambut yang sedikit ikal dan wajah yang tampan. Aku melangkahkan kaki sepanjang koridor B hendak menuju ruang kelas kali pagi ini. Teman-teman baru terlihat sangat bersahabat bertaburan senyum walau aku belum mampu mengingat nama mereka satu per satu tapi aku tahu mereka adalah teman-teman yang memilih jurusan yang sama denganku. Aku mengingat wajah mereka tapi aku tidak mengingat nama mereka karena bukan nama yang membuat orang menjadi terkenal tetapi tindakan yang mereka lakukan. Beberapa dari mereka pernah mengajakku mengobrol pada saat hari perkenalan kampus mereka mampu mengingat namaku tapi memang aku saja yang payah dalam mengingat nama. Bahkan aku pernah salah dalam menulis namaku yang hanya berisikan dua kata.

Kelas pertama dimulai dengan mata kuliah sistem politik, pelajaran yang menyenangkan bagiku. Ini pilihanku, sebuah impian kecil yang sudah ku impikan bisa memilih dan mendapatkan jurusan yang aku impika  suatu kebahagian tersendiri bagiku semua terasa ringan walau itu tidak ringan tapi ini pilihanku, pilihan untuk berjuang masuk dan memilih jurusan Hubungan Internasional dan kini aku mendapatkannya. Kalau dulu sejak kecil aku bermimpi ingin menjadi seorang dokter karena umumnya anak kecil akan kagum dengan dokter yang mampu mengobati orang sakit dan hingga membuat anak-anak kecil merasa ingin melakukan hal yang sama dan aku sama halnya seperti anak kecil lainnya ingin menjadi dokter agar mampu mengobati orang sakit bahkan sampai tamat SMP pun aku masih bertekad untuk menjadi seorang dokter. Karena kondisi orang tuaku yang sakit-sakitan hingga membuat aku terpacu untuk menjadi seorang dokter. Tapi semenjak aku mengenal bangku SMA semua impian itu putus hilang tanpa jejak tanpa ada sisa sedikitpun rasa menjadi seorang dokter. Karena ketika aku duduk di bangku SMA aku tahu betapa sulitnya perjuangan untuk dapat lolos menjadi anak IPA dan aku hanya bisa menerima dengan kelas IPS ku tapi aku menikmati kelas itu. IPS tidak seburuk yang ku kira tidak seburuk seperti yang mereka pikirkan.

Aku dengan santainya berjalan ke arah kelas walau jam sudah menunjukkan pukul 08.05 WIB karena seharusnya kelas pertama sudah dimulai sejak pukul 08.00 tapi terlihat pintu kelas masih terbuka menandakan dosen mata kuliah kali ini belum masuk untuk mengajar. Kelas sudah terisi penuh oleh teman-teman ku yang lainnya hanya tersisa beberapa bangku kosong di barisan paling depan. Jika dulu di SMA kita sudah mendapatkan tempat duduk yang di atur oleh wali kelas kini di perkuliahan kita bebas memilih tempat mana yang akan kita duduki. Mencari posisi aman untuk tidur atau sekedar ngobrol bersama teman atau memilih mencari tempat duduk untuk fokus mendengarkan materi biasanya mereka yang hanya ingin mencari tempat tidur berusaha mendapatkan bangku yang paling belakang karena posisi itu dosen jarang memberikan perhatian dan lebih terfokus terhadap mereka yang duduk di depan. Dan mereka yang memilih untuk fokus dengan materi umumnya mereka memilih tempat duduk di depan untuk mendapatkan perhatian dosen tapi tidak semua mahasiswa begitu. Biasanya mereka yang telat juga akan menerima dengan secara terpaksa untuk duduk di depan karena hanya itulah kursi yang tersisa. Dan beginilah nasib ku hari ini untuk duduk di barisan paling depan karena hanya di barisan terdepan terdapat kursi yang masih kosong. Aku hanya mampu mengelah nafas panjang sambil mengechek pesan yang masuk bertubi-tubi dari whatsapp.

Seorang pria muda masuk dan duduk mengisi kursi dosen yang masih kosong.  Sepertinya dia adalah dosen yang akan mengisi mata kuliah kali ini. Dosen muda dengan kulit sawo matang memulai mata kuliah dengan gaya bicaranya yang santai tapi tetap fokus dengan materi. Kelas berjalan dengan santai tanpa adanya kebosanan ataupun rasa kantuk dalam mendengarkannya. Kelas kali ini berjalan dengan sempurna tanpa adanya hambatan dan tidak terasa dua jam telah habis dan kelas pertama selesai dengan sendirinya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 07, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MonochromeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang