Gadis itu menghampiri salah seorang gadis kecil ditengah taman. Dengan langkah pelan yang terlihat indah dibawa sinar bulam dan bintang yang seakan akan saling memamerkan keindahannya.
"Shafnia?" Tegurnya memegang bahu gadis kecil itu "kenapa belum tidur? Inin sudah malah" tambahnya mengingatkan gadis kecil yang termenung dibawah taburan bintang.
"Aku tak bisa ridur kak, entah mengapa malam ini aku merasa sangat hampa" gadis kecil berusia 13 tahun dengan pola pikir diatas rata rata anak seumurannya.
"kakak punya sebuah cerita yang menarik untukmu. Ingin mendengarnya?" Tawar gadis itu pada Shafnia. "Tapi setelah mendengarnya kakak mau kamu tidur" pintanya.
"Ya, aku akan tidur kak, jika cerita itu bisa menyentuh hatiku" kata Shafnia dengan pandangan yang tak lepas dari langit malam yang indah itu.
"Kakak yakin kamu akan sangat menyukainya, percayalah" ucap gadis itu dengan senyum mengembang menghiasi bibirnya.
Gadis itu mengambil duduk disamping Shafnia yang duduk disalah satu bangku taman dan mulai menceritakan Sebuah kisah.
Dulu... lama sekali, ada seorang anak kecil berumur lima tahun yang sangat menyukai game. Dia seorang gadis kecil dengan otak cerdasnya dapat memasuki taman kanak kanak dengan umur terlalu kecil. Setiap hari dijam istirahatnya gadis kecil itu tidak pernah memakan bekal yang dibawanya. Ia lebih memilih duduk diperpustakaan yang merangkap jadi ruang komputer di taman kanak-kanak itu. Menghabiskan waktunya dengan berbagai game dan setumpuk buku lebih membuatnya bahagia.
Hingga suatu saat ada seorang murid yang mengganggu ketenangannya, selalu memaksanya untuk keluar dari zona amannya. Ia hanya kesal pada murid lelaki itu namun tidak membencinya. Ia keluar, keluar dari zona aman yang telah ia jalani selama ini. Mulai bermain di taman, tidak lagi di dalam ruamgan yang penuh dengan buku. Ia menikmati kegiatan itu namun tidak dengan tubuhnya.
Ia selalu mengingat anak lelaki yang membuatnya keluar dari zonanya. Namun bagai air hujan yang jatuh, anak itu menghilang tanpa jejak. Gadis kecil itu kehilangan kawannya.
Hari terus berlalu, gadis kecil itu mulai berkembang menjadi gadis remaja yang cantik. tujuh tahun berlalu. Tapi tak banyak yang tau lima tahun dari tujuh tahun itu ia habiskan untuk berobat.
Suatu hari mereka dipertemukan kembali, namun bagai petir disiang bolong gadis kecil itu tidak mengenali anak lelaki itu. Dibenak anak lelaki itu ia berfikir "mungkin ia tidak mengenaliku karena perubahan fisikku" nyatanya tidak. Gadis itu melupakannya seperti tak pernah mengenalnya sebelumnya.
Mereka mulai berkenalan lagi dari awal memulai kisah baru bersama disaat umur mereka menginjak 12 tahun dan 14 tahun. Mereka mulai bersahabat karena waktu bertemu mereka cukup banyak. Mereka berdua bertetangga jauh dan memiliki tempat bimbel yang sama.
Setahun setelah itu mereka mengalami lost contact lelaki itu pindah dari perumahan itu dan juga kota itu bahkan negara itupun ia tinggalkan dan tanpa sepengetahuan siapapun gadis itu menyimpan rasa yang tak biasa untuk sang pria yang baru dikenalinya.
"Apakah ceritanya telah usai kak?" Tanya shafnia.
"Ya, ceritanya selesai namun tidak kisah mereka" jawab gadis itu.
"Lalu mengapa kakak berhenti menceritakannya?" Dahi Shafnia berkerut bingung.
"Karena akupun tidak tau kelanjutan cerita dari kisah mereka" gadis itu tersenyum manis kepada shafnia "karena kau sudah mendengarnya dan kurasa ceritaku menyentuh hatimu dilihat dari caramu menanggapinya.
Shafnia tersenyum lalu mengangguk "Ya, ceritanya bahkan sangat menyentuh hatiku. Membuatku penasaran tentang takdir apa yang sedang mereka lalui"
Gadis itu berdiri lalu menyulurkan tangannya untuk Shafnia, ia menerima uluran tangan itu, uluran tangan sang kakak yang menuntunnya kembali kedalam lalu tidur.
New story😊 author blom mahir
Saran dan komentar itu bisa bantu banget loh...
YOU ARE READING
NEVER ENOUGH
RomanceBukan kisah indah Bagai Rama dan Sinta namun tidak setragis Romeo dan Juliet. Ini kisah Mereka yang entah apa namanya hingga sayapun tidak mengerti mereka itu apa. Alasan klasik untuk jatuh padanya. namun tidak untuk kedua kalinya, itu menurut...
