Dia

156 4 4
                                        

Entah kenapa,  ada rasa tertarik saat aku pertama kali aku melihatmu.

"Siapa sih dia?" Ucap genta pada sahabatnya yang sedang memakan baso.

" yang mana?"

"Tuh yang duduk sendirian,yang di meja ujung sana"

"Oh si murid baru yang manis itu" ucap raka sambil mengangguk-nganggukan kepalanya. "Namanya Gita Putri Dewi, dia resmi jadi murid disini seminggu yang lalu, waktu lo sakit" lanjut raka sambil terus memakan basonya.

"Dia kelas mana?"

"XI IPA 1"

"Tetanggan dong sama kelas kita" pasalnya genta dan raka berada dalam kelas XI IPA2 yang berarti kelasnya bersebelahan dengan kelas si murid baru itu.

"iya" balas raka sambil memandang genta

"Kenapa?" Tanya genta karena risih dengan pandangan yang diberikan raka

"Lo dari tadi nanyain si murid baru itu terus, lo suka ya" genta terbatuk batuk mendengar tuduhan dari sahabatnya ini

"Gue aja baru liat dia barusan. Jadi ga mungkin kalo gue langsung suka. Aneh aneh aja lo"ujar genta pada raka,walaupun pada saat mengatakannya da rasa ragu yang singgap di hatinya.

"Terus kenapa lo tanya tanya dia mulu?"

"Gue cuma penasaran aja"

"Penasaran itu awal dari cinta loh sob" ucap raka sambil menepuk nepuk bahu genta, lalu dia pergi untuk menyimpan mangkuknya di bak cuci  mangkuk kotor.

Sebenarnya genta juga merasa aneh saat pertama kali melihat gadis yang bernama Gita tersebut. Pasalnya dia akan biasa saja bila melihat murid baru tapi saat melihat gita,genta berubah menjadi orang yang sangat kepo.

...

Bel pulang berbunyi, membuat murid murid SMA Bakti Kusuma bersorak gembira, sama halnya yang dirasakan oleh genta dan Raka.

"Akhirnya kita bebas dari guru kumis itu" ucap raka saat pa jono, guru fisika mereka keluar dari kelas

"Untung bel pulang bunyi, jadi kita ga jadi di hukum sama si kumis itu" kekeh genta menimbali perkataan sahabatnya. Pasalnya tadi Raka dan Genta tidur pada saat pelajaran Pak Jono, membuat pak jono kesal setengah mati. Tapi karena bel berbunyi raka dan genta terlepas dari amukan dan hukuman pak jono.

"Gen gue duluan ya. Si mami udah nelepon nih minta nganter ke mall"

"Ya udah sana, keburu ngamuk tuh si mami" jawab genta pada raka yang hendak pergi.
Setelah raka hilang dari pandangannya, sekarang giliran genta yang meninggalkan kelasnya. Saat ia keluar dari kelasnya, ia melihat Gita keluar dari kelasnya. Entah kenapa ada sisi darinya yang ingin mengikuti  gita. sampai akhirnya ia mengikuti kata hatinya untuk mengikuti Gita.

Genta terus mengikuti gita, sampai gadis itu berhenti melangkah dan membalikkan badannya ke belakang

"Kenapa lo ngikutin gue" ucap Gita pada Genta yang sedari tadi mengikutinya

"Geer banget lo jadi cewe. Orang gue cuma mau keparkiran" sanggah Genta

"Bukannya keparkiran lewat kanan" ucap Gita dengan nada yang mengejek. Sedangkan genta ia rasanya mati kutu karena ucapan Gita barusan "tapi kan keparkiran juga bisa lewat sini"ucap genta dengan ragu-ragu.

Gita memandang genta dengan tatapan yang curiga. Ia memang tidak mempercayai ucapan cowok yang ada dihadapannya ini. Karena mana mungkin cowok ini mengambil jalan yang lebih jauh untuk menuju parkiran.

"Terserah lo deh" ucap Gita sambil pergi meninggalkan genta yang masih terbengong bengong.

"Songong banget tuh cewek. Tapi gue suka" ucap Genta dengan senyuman miringnya. Rasanya ada kebahagiaan yang lama ia tidak rasakan saat adu mulut dengan si murid baru itu.

...

"Assalammualaikum" ucap Gita saat dia sudah sampai dirumahnya. Tapi hanya keheninganlah yang membalas salam dari Gita.

Gita menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia bosan suasana ini, suasana dimana keheninganlah yang selalu membalas salamnya pada saat ia memasuki rumah yang megah ini. Jujur, ia ingin orang tuanya yang membalas salam nya ketika ia memasuki rumahnya, tapi itu sepertinya kemustahilan yang diharapkan oleh Gita.

Pasalnya orang tua Gita adalah orang yang selalu bekerja,bahkan pada saat libur pun orang tuanya selalu bekerja. Mungkin orang tuanya lebih menyayangi pekerjaannya dari pada dirinya. Padahal dulu orang tuanya akan lebih mementingkan Gita, tapi dua tahun belakangan ini orang tuanya jadi tergila-gila dengan pekerjaan mereka.

Gita menuju dapur berniat untuk menghilangkan kekeringan yang melanda tenggorokannya. Setelah selesai meminum minumannya, gita pergi ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya dan pikirannya.

...

"Ma anakmu yang ganteng ini datang" ucap genta saat ia memasuki rumahnya

"Kamu ini kalo datang salam dulu bukan teriak teriak ga jelas seperti itu" ucap Kirana -mama Genta- yang sekarang ada di hadapannya. Sebenarnya mamanya sudah berkali kali menasihati Genta agar mengucap salam dulu saat memasuki rumah.

Tapi genta tetaplah genta, nasihat ibunya seperti masuk ditelinga kanan dan keluar di telinga kiri.

"Oh iya ma lupa" ucap genta dengan cengengesan, lagi-lagi alasan itulah yang dipakai oleh genta saat situasi seperti ini.
"Bosen mamah denger alasan kamu itu gen"

"Itu bukan alasan mah, tapi sebuah fakta."

"Terserah kamu aja deh."

"Oh iya Gen, nanti kalo kamu udah ganti baju tolong beliin stok cemilan ya. Soalnya stok cemilan di rumah kita abis." Lanjut mamanya

"Kok bisa abis sih mah"  ucap genta dengan tampang watadosnya

"Kan kamu yang abisin, pura pura polos lagi" ucap Kirana sambil menggeleng gelengkan kepalanya
Sedangkan genta hanya cengengesan saat mendengar jawaban mamanya.

"Ya udah Genta ganti baju dulu ya ma" ucap Genta sambil pergi ke kamarnya yang ada di atas.
Ya, Genta memang mempunyai keluarga yang harmonis. Ada ibunya yang selalu ada di sisi Genta, ayahnya yang menafkahi keluarganya, dan ada kakaknya yang sekarang sedang kuliah di luar negeri.

Genta sangat merasa  bersyukur karena tuhan telah memberikan keluarga yang utuh seperti ini.

...

Kruk
Bunyi suara perut Gita terdengar, yang menandakan bahwa ia sangat lapar sekarang. Membuatnya sekarang pergi ke dapur untuk mencari cemilan sebagai penahan laparnya.
"Ck" decaknya saat melihat persediaan makanan di kulkasnya habis.

Harusnya kemarin ia membeli persediaan makanan supaya hari ini ia tidak usah jauh jauh ke supermarket hanya untuk membeli makanan.

Tapi karena kondisi perutnya yang lapar membuat dia terpaksa pergi ke super market dengan berjalan kaki. Karena jarak rumahnya dengan supermarket bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Sepanjang perjalanan ia berpikir kalau saja ibunya tidak sibuk dengan pekerjaannya pasti ia tidak usah repot repot berbelanja ke supermarket hanya untuk membeli makanan, karena ibunya memasak untuk dirinya. Tapi sepertinya ibunya itu tidak memikirkan anaknya yang kelaparan ini. Lagi lagi Gita tersenyum, bukan senyum senang ataupun bahagia tapi senyuman sendu yang menunjukan betapa kesepiannya gadis ini.

Ia jadi kangen Bi Suri, pembantunya yang ada di Bandung. Biasanya bi suri suka memasak bila jam jam segini. Tapi karena bi suri tidak ikut pindah ke jakarta, gita menjadi sangat kesepian dirumahnya.
 

G&GTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang