prolog

23 3 0
                                        

Suhu malam yang dingin menusuk keseluruhan tubuhnya, ditambah hujan deras yang turun mengguyur basah tubuh mungilnya. Tangisnya yang tak henti jua melengkapi kesedihan malamnya. Duduk sendiri di bangku taman kota malam, memeluk tubuh kecilnya sendiri menggunakan tangan yang juga basah. Gadis itu merutuki kesalahannya sendiri di temani dengan isak tangisnya.

"Kenapa aku bisa sebodoh ini? Melukai pria yang dengan tulus menyayangiku. Aku menyesal. Aku menyesal. Maafkan aku" ucap gadis itu yang tak juga henti menangis.

Hatinya hancur, hatinya pun terluka. Luka yang tak dapat di lihat dengan mata namun pedih jika dirasa. Jika dulu ia selalu tersenyum bahagia, menikmati setiap detiknya bersama. Kini semua sudah menghilang. Tak ada lagi yang namanya kebahagiaan. Tak ada lagi canda tawa bareng. Yang ada hanya penyesalan. Penyesalan yang kini menghampirinya.

"Fiannn! Maafkan aku. Aku menyesal!" Teriak gadis itu kuat. Menguras habis tenaganya, membuatnya hilang akan kesadarannya. Gadis itu jatuh ambruk ke sisi samping bangku yang ia duduki saat ini. Membiarkan hujan menampar keras tubuhnya barang membangunkannya dari ketidak sadaran gadis itu. Namun, hasil nihil lah yang di dapat. Gadis itu tak kunjung sadarkan diri.

Di tempat yang tak jauh dari bangku tersebut, terlihat jelas wajah khawatir seorang pria yang sedang mengamati setiap detik kejadian yang ada di depannya. Membiarkan orang yang berada di depannya meluapkan emosinya. Tak berani melangkah walau hanya satu jejak kedepan. Berdiam diri mematunglah yang bisa ia perbuat. Hingga orang yang berada di depannya meneriakkan kalimat yang membuatnya merasa bersalah.

"Fiannn! Maafkan aku. Aku menyesal!"

Teriakan tersebut membuat sesuatu yang seharusnya tak lepas malah terlepas dari pertahanannya. Air matanya jatuh. Pria itu menangis kala mendengar sang pujaan hatinya meneriakkan kata penyesalannya.

"Maafkan aku naomi" ucap pria itu tanpa suara. Lebih dominan ke dalam kata bisikan.

Selang beberapa detik dari teriakan yang ia dengar, tubuh pria itu refleks berlari menuju ke bangku tersebut setelah ia menyadari bahwa orang yang duduk di bangku itu tertidur asal di sisi lain bangku.

Setelah sampai di tempat yang dituju, pria itu langsung mengangkat tubuh seorang gadis. Suhu tubuh gadis itu sangat panas.

"Astaga naomi. Kau demam tinggi, bertahanlah. Aku akan membawa mu pulang"

Segera setelah mengangkat tubuh gadis itu, pria tersebut membawa gadis itu pulang ke rumahnya--rumah naomi--ke khawatiran terlihat lebih jelas dari sebelumnya.

"Bertahanlah naomi"

Pria itu tak henti-hentinya mengumpat dirinya sendiri karena membiarkan sang pujaan hati berbasah-basahan dengan air hujan. Padahal dia tahu kalau gadisnya itu sangat anti dengan air hujan.

Setelah sampai di rumah gadis itu, fian langsung membuka pintu rumah dan masuk dengan tergesa-gesa ke dalam rumah. Tak di hiraukannya jika tubuh mereka yang sudah basah kuyup, fian langsung menidurkan tubuh gadis itu ke kasur tempatnya mengistirahatkan diri.

"Tidak mungkin dia tidur dengan keadaannya saat ini. Itu akan membuat demamnya semakin meninggi. Tapi siapa lagi yang akan melakukannya?" Fian sibuk dengan fikirannya sendiri hingga dia teringat untuk menelfon adik perempuannya.

Fian mengambil ponselnya dan langsung menghubungi adiknya.

"Halo dewi" ucap fian saat telponnya telah tersambung.

"Iya kak, ada apa?" Sahutnya dari sebrang sana.

"Datanglah ke rumah naomi. Aku disini, tolong bantu aku" perintah fian ke lawan bicaranya.

"Tunggu sebentar. Aku segera kesana"

"Cepatlah kemari"

"Iya kak"

"Baiklah" fian menyudahi percakapannya.

Sambungan pun terputus. Fian meletakkan kembali ponselnya ke nakas yang ada di sebelah kasur naomi.

Fian tak tahu harus berbuat apa. Biasanya kalau gadis itu sakit, maka fian akan menyuruh adiknya dewi untuk mengurusnya. Sepuluh menit berlalu tapi dewi belum juga sampai. Padahal jarak rumah gadis itu--naomi--kerumah fian tidaklah terlalu jauh. Itu membuat fian semakin gelisah.

"Dewi, kamu dimana?" Gumam fian sambil terus berjalan mondar mandir dengan hati yang gusar. Tak seberapa lama dewi pun datang.

"Kak fian, maaf. Hujannya lebat sekali. Jalanan--"

"Sudah sudah. Sekarang urus naomi dulu. Dia demam tinggi"

"Baiklah kak"

Dewi pun mulai membenahi keadaan gadis itu. Benar, suhu tubuhnya sangat panas.

"Bisakah kakak menunggu di luar. Aku akan menggantikan pakaiannya terlebih dahulu"

"Cepat lakukan wi"

"Iya kak"

Fian pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar naomi. Rumah ini sepi. Orang tua naomi sedang pergi ke rumah saudara mereka. Naomi sendirian di rumah. Dan itu semakin membuat fian cemas.

"Aku akan menginap disini" ucap fian setelah ia memikirkan sesuatu yang harus ia lakukan.

"Baiklah. Aku akan menyuruh kang udin untuk mengambil seragam sekolahku"

Fian pun mengambil ponselnya di sakunya dan ternyata ponselnya berada di dalam kamar gadis itu.

"Ahhh sial" umpat fian menyadari kecerobohannya.

"Tenang fian tenang" ucap fian menenangkan dirinya sendiri.

***

Segini dulu prolognya.
Cerita tenn fiction pertama.
Semoga suka.

Salam

Rin

THAT'S WHAT I LIKEStories to obsess over. Discover now