01

1.9K 131 69
                                        

*Ryan Fernandez's POV*

Kami baru mengobrol selama lima belas menit ketika Jason tersedak frappuccino. Padahal, Jason termasuk salah satu orang paling hati-hati dan paling kalem yang aku kenal. Kalau dia sampai tersedak dan batuk-batuk hebat begitu, pasti ada sesuatu yang benar-benar mengusiknya.

Aku memesankan segelas air untuknya. Batuk Jason memang mereda setelah minum sedikit air, tapi kemudian dia memberiku tatapan tajam yang menusuk.

"Jadi, biar kuperjelas," kata Jason sambil menaruh gelas frappuccino-nya. "Kau berniat menolak tawaran beasiswa dari pemerintah demi proposal bego itu?"

Aku mengangkat alisku. "Itu bukan proposal bego, Bung. Aku bahkan sudah menyiapkan modelnya untuk presentasi."

"Demi Tuhan, Ryan!" Jason mengepalkan kedua telapak tangannya di atas meja. "Kau membuang kesempatan meraih gelar master cuma demi sebuah proyek yang belum tentu akan dibeli NEO Corp! Kau ini bodoh atau apa?!"

"Aku Lulusan Terbaik dari Universitas Ringmere Jurusan Informasi dan Teknologi tahun 2053, terima kasih."

"Terserah." Jason meneguk frappuccino-nya yang masih setengah gelas, lalu meletakkannya kembali. "Coba pikirkan begini saja, Ryan... Kau kan bisa kuliah dulu, meraih gelar master, lalu setelah lulus kau bisa melanjutkan proyekmu itu! Peluang keberhasilanmu juga bakal lebih besar, karena kau sudah punya gelar yang lebih tinggi. Sayang kalau kau membuang kesempatan kuliah gratis ini. Apalagi mereka akan memberimu uang saku!"

"Aku cuma memberitahumu, bukannya minta izin maupun saran!" bentakku. "Aku tahu kau memang sepupuku dan satu-satunya temanku dari TK sampai kuliah dan sebagainya–"

"Oke, oke," Jason memotong cepat-cepat. "Terserah kalau memang itu maumu. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang kupikirkan. Aku tidak akan menghalangi keputusanmu, apapun itu."

Aku menghempaskan punggungku ke kursi. "Oke. Begitu lebih baik."

"Jadi kapan kau mau presentasi?"

"Hari ini aku akan memasukkan berkas-berkasnya, jadi mestinya..." aku menghitung. "Paling lambat tujuh hari lagi mereka akan menghubungi aku."

"Kalau begitu..." Jason merentangkan tangannya sambil nyengir. "Bagaimana dengan pelukan untuk keberuntungan?"

Aku mendengus, lalu meraih gelas espresso take-away-ku dan bangkit berdiri. "Kau mulai terdengar seperti Bibi Anna. Tak usah pakai cium segala, ya. Ini di tempat umum dan aku buru-buru."

"Wajar kan, kalau aku mirip ibuku?" kata Jason saat menepuk punggungku – ini yang dia maksud pelukan tadi karena Jason tahu aku tak begitu suka disentuh. "Yah, semoga beruntung."

"Makasih," jawabku sambil meringis. "Kau juga," tambahku seraya meraih ranselku dan membalikkan badan untuk keluar dari kafe, "semoga beruntung dengan studi lanjutmu!"

Samar-samar aku mendengar Jason mengatakan sesuatu, tapi aku sudah terlalu jauh untuk mendengarnya. Lagipula, aku juga tidak terlalu peduli. Yang kupedulikan saat ini hanya proposalku – proposal bego-ku, kata Jason – dan NEO Corp.

Bekerja di divisi Pengembangan Produk NEO Corp merupakan impianku sejak kecil. Bukan cita-cita yang langka, memang, karena siapa yang tidak mau bekerja di perusahaan telekomunikasi paling besar di negara ini? Dengan gelar seperti itu, NEO Corp praktis menjadi cita-cita pertama semua anak. Setidaknya, sebelum mereka menyadari bahwa mereka, uh, lebih berbakat di bidang lain.

Tapi aku tidak seperti mereka. Kalaupun misalnya aku tak punya bakat bawaan lahir yang cukup baik untuk NEO Corp, tidak apa-apa. Yang harus kulakukan adalah membuat diriku jadi layak untuk masuk NEO Corp. Jauh di atas kata layak, kalau bisa. Untungnya kedua orangtuaku menyetujui keputusanku ini dan memberiku dukungan penuh. Mereka jelas mengerti keinginanku untuk berkarir di bidang teknologi, apalagi ayahku adalah seorang programmer handal dan ibuku bekerja dalam sebuah tim desain software.

Ternyata selama aku dan Jason mengobrol di kafe tadi sudah mulai turun gerimis, dan sekarang jadi makin deras. Aku mengeluarkan payungku dari saku untuk diaktifkan – sebuah silinder logam ringan seukuran pulpen yang akan memancarkan semacam medan energi kecil yang cukup kuat untuk menguapkan air hujan dalam radius satu setengah meter. Aku pernah membaca tentang payung yang digunakan di era orangtuaku dan kakek-nenekku dulu, jauh lebih kuno dan merepotkan daripada yang kami pakai sekarang. Untung aku tidak hidup di zaman mereka.

Sebenarnya belum ada satu abad berlalu sejak masa itu, tapi peradaban manusia sudah berkembang sangat pesat. Sistem komputer, internet, dan kepandaian artifisial sudah mengambil alih hampir semua bidang. Ilmu pengetahuan berkuasa. Di tahun 2053 ini, kau hanya punya tiga pilihan: mempelajari, menciptakan, atau tertinggal di belakang sambil menangis meraung-raung karena tidak bisa mendapat uang untuk hidup. Selamat datang di dunia nyata, Bung.

Aku sendiri memilih untuk menciptakan. Buat apa belajar terus menerus kalau tidak digunakan untuk melakukan apapun? Maksudku, para peneliti itu memang kadang-kadang menemukan suatu teori baru, tapi tetap saja para inventorlah yang punya peran paling besar di masa ini. Hal inilah yang membuat aku selalu ingin bekerja dalam divisi Pengembangan Produk.

Prinsip ini juga yang membuatku menolak beasiswa master itu. Buat apa belajar lama-lama kalau sekarang saja sudah bisa masuk NEO Corp? Buang-buang waktu saja. Lagipula, kalau NEO Corp menganggap aku cukup punya potensi, mereka juga akan menyuruhku sekolah lagi dan menanggung semua biayanya. Sama saja, kan?

Sebagai batu loncatan untuk mengawali karir di NEO Corp, aku memutuskan untuk menjual hak cipta prototype perangkat komunikasi rancanganku sendiri. Perangkat yang sudah kukembangkan sejak kuliah itu berbasis realita virtual, dan akan memungkinkan semua orang untuk memasuki ruang-ruang virtual dan bersosialisasi. Singkatnya, dengan perangkat buatanku ini orang-orang bisa bertemu dan melakukan interaksi fisik secara langsung tanpa harus pergi dari rumah. Garisbawahi interaksi fisik – aku yakin ini merupakan yang pertama di dunia teknologi komunikasi. Semua dosenku bilang bahwa konsep ini brilian, dan aku positif bahwa NEO Corp sebagai perusahaan telekomunikasi besar akan mau membelinya.

Maka di sinilah aku, berjalan kaki kurang lebih 2 kilometer dari kafe sampai NEO Corp. Aku tidak naik bus, karena 1) lebih hemat, 2) pengaturan waktuku jadi lebih fleksibel, dan 3) pertemuanku dengan Jason yang tidak disengaja tadi memang membuatku ketinggalan bus.

Yah, paling tidak sekarang hujannya sudah berubah jadi gerimis dan angin tidak bertiup lagi, jadi suhu udara sedikit menghangat. Aku jadi tidak terlalu menyesal melewatkan bus itu.

Aku berhenti sebentar untuk mengencangkan ransel dan mengecek arlojiku. Pukul sebelas lebih lima. Kalau aku ingin selesai mengurus pendaftaran berkas sebelum makan siang, aku harus tiba di NEO Corp maksimal lima belas menit lagi. Aku pun kembali berjalan, sedikit lebih cepat kali ini.

Begitu terlihat gedung raksasa yang memantulkan cahaya matahari lewat kacanya, kakiku mulai gemetaran. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat hanya dengan menyaksikan megahnya bangunan ternama itu.

Ini dia, batinku.

Jantung dari segala teknologi telekomunikasi.

NEO Corp Center Building. []

DimensionsWhere stories live. Discover now