Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

we dont talk anyomore

145 4 0
                                        

Hari ini di Perpustakaan, jarum pendek pada jam itu menunjukan pukul satu siang. Ini pertanda sudah saatnya.

Tik Tok~

Tap Tap Tap

Pintu Perpustakaan terbuka dan menampilkan gadis cantik berkacamata, dia berjalan santai ke barisan rak buku.

"Yosh. Ini hari terakhir jadi aku harus semangat!"
Seru gadis itu seraya mengepalkan tangan kanannya, memberi semangat.

Dia berjalan ke jajaran rak tinggi. Jari telunjuk itu menempel pada punggung buku dan perlahan bergeser menapaki tiap-tiap buku sampai ia berhenti dan mengambil sebuah buku bertuliskan Literatur Klasik.

"Hm.. ini dia yang aku cari!"

"Tapi, sebelum itu aku harus memastikan dulu, apa ini buku yang benar atau bukan"

Gadis itu berjalan ke sisi lain dari Perpustakaan, menuju barisan tempat duduk. Dia membuka buku yang ditemukannya dan mulai membacanya dengan khidmat.

Tik Tok~

Seoul, 02.15 KST

"Hahh aku lelah!" serunya lantas menyandarkan punggung pada sandaran kursi, "Ini sudah buku yang ke-5 tapi aku masih belum menemukan buku Antologi Club Literatur Klasik yang tepat"

"Ya, ampun, aku lapar~" serunya seraya mengusap-usap perutnya.

Dia cemberut dengan ekspresi yang lucu.

"Ini salah lelaki ice itu! Dia pikir dia siapa? Sampai berani-beraninya menyuruhku melakukan ini semua. Ah, mamaaaaaa. Anakmu ini teraniaya~"

"Ssstt"

Seorang penjaga perpustakaan menatap tajam dirinya sambil meletakan telunjuk kanan di bibir.

"I'm Sorry, Ssaem" bisiknya, namun dalam hati dia merutuk-rutuk.

"Duh, sial! Udah bukunya ga ketemu-ketemu, dimarahin Ssaem pula. Ini gara-gara si Jung itu yang membuatku harus ke Perpustakaan"

Dia menenggelamkan kepalanya diantara lipatan lengannya dan mulai memejamkan mata, hari ini rasanya ia lelah sekali.

Tik Tok~

Tuk Tuk Tuk ─suara jari liat seseorang yang beradu dengan kepala seseorang.

Si blonde hair merasa terusik dan itu membuatnya terbangun, tangannya mengucek-ngucek mata beriris brown miliknya dengan gerakan lucu dan membuat sepasang mata manatapnya lekat disertai senyuman kecil.

Dia tak lagi mengucek matanya, kesadarannya sudah terambil penuh.

"Ini! Kupikir kau membutuhkan buku ini"

Sebuah tangan terulur di depannya, buku itu bertuliskan Hyouka beserta tahunnya.

"God! Itu buku yang aku cari!$

Gadis itu mengambil buku yang disodorkan padnya mendekapnya erat tanpa melihat siapa orang yang menyodorkannya, dia senang sekali karena seseorang dengan baik hari dan tanpa dimita mau membantunya mencari buku untuk Antologi Club Literatur Klasik tahun ini.
"Thank you─kau sudah mau membantu mencarikan buku ini. Sekali lagi terima kas─" ucapannya terputus begitu saja.

Tunggu dulu!

Dia baru sadar ketika mendongakkan kepalanya dan menemukan seorang lelaki tinggi berkulit putih ─cenderung pucat─, dan dia juga sedang tersenyum begitu pula matanya yang juga ikut tersenyum.

'Tampan'

'Eh? Ini bukan saatnya mengagumi ketampanan seseorang"

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Terima kasih untuk bukunya, tapi... kau siapa, ya?" tanyanya karena ini pertama kalinya mereka bertemu ─untuk si gadis itu.
Lelaki itu tersenyum (lagi) namun kali ini hanya senyuman tipis. Dia menarik kursi yang ada disisi lain dan mendudukan dirinya, dari sini mereka beda bisa melihat lawan bicaranya dengan jelas.
Si lelaki Chestnut hair memandang tersenyum si blonde short hair yang malah terlihat salah tingkah.
"Aku? Mungkin kau tidak mengenalku tapi aku mengenalmu, dan mungkin ini juga pertemuan pertama kita ─bagimu... Shinta Taeyeon"
"Eh? K-kau tau namaku?"
Lelaki itu mengangguk.
"Tentu saja! Siapa yang tidak mengenal Shinta Taeyeon si Diva manis nan cantik dari Alfhaim high School, hanya orang bodoh saja yang tidak tahu tentangnya"
Taeyeon bersemu mendengar penuturan lelaki yang dia tidak tahu─atau mungkin akan tahu─namanya.
"Kau terlalu berlebihan! Aku tidak sebagus itu untuk bisa disebut Diva"
Lelaki itu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak berlebihan! Itu adalah apa yang dikatakan seluruh siswa di sekolah, Taeyeon, dan itu memang benar bahwa kau itu cantik dan manis.
Thanks atas pujiannya.
Taeyeon tersenyum malu-malu mendengar penuturan lelaki yang duduk di hadapannya itu, Duh, aku ga nyangka dapat sebutan kaya gitu.. oh ya, aku hamper lupa menanyakan namanya
Nee?

Kau?

Ah, manisnya~ gumam lelaki yang tengah memandang Taeyeon terang-terangan itu.
Hey?
Taeyeon menjentikkan jarinya di depan wajah si Chestnut hair yang menatap terpana dirinya.
Y-ya?
Siapa namamu? Aku harus tau namamu agar bisa berterima kasih secara semestinya
Lelaki itu terkekeh pelan.
tidak perlu se-formal itu padaku, tapi.. bailkah! Kalau kau memaksa. Perkenalkan mamaku Steve Hwang, aku akan kelas II-3, tepat setelah ruang kelasmu
Ekspresi Taeyeon berubah. Dia mengernyit, Huh? Siapa coba yang memaksa dirinya
Steve Hwang, nama yang bagus! ─sekali lagi terma kasih karena telah membantuku menemukan buku ini Steve, jika bukan karea dirimu mungkin aku pasti akan disembut oleh badai ice"

Taeyeon meringis ketika bayangan seorang Jesse Jung yang bicara tanpa henti dan memarahinya melintas dibenaknya. Steve tersenyum mendengar ucapa terima kasih Taeyeon untuknya.

"Hn, sama-sama! Aku senang bisa membantu apalagi membantu orang yang kusukai"

Senyuman Steve semakin lebar begitu pula matanya pun ikut tersenyum dan binar merah tak luput dari kedua pipinya.

Hah? Apa? Dia bilang suka?

Suka.

Suka.

Suka.

Taeyeon memandang bingung pada Steve, namun tak dapat dipungkiri rasanya kedua pipinya memanas.
Steve berdiri, dia mengeluarkan secarik note dari saku bajunya dan meletakkannya di atas meja sebelum melangkah pergi dari Perpustakaan.

"Apa maksudnya barusan? Tanya Taeyeon

Dia mengambil secarik note yang berisi kumpulan kata yang membentuk rangkaian kalimat.

We dont talk anymore! And after this, I hope we will talk more, more, and more again.

[HIDDEN TRACK]Stories to obsess over. Discover now