Part of 1

824 25 15
                                        

Seorang gadis kecil cantik sedang berlari dengan santainya menuju pelukan ayahnya yang ia rindukan. Sudah 2 bulan ia tidak bertemu dengan ayah nya itu. Di belakang gadis kecil itu terdapat seseorang Nanny kepercayaan keluarga Ningrum Maestro sedang membawa tas dan mendorong stroller milik Nonanya.

"Ayah. Aku sangat rindu ayah!!" Ucap gadis itu dengan riang ketika berada di pelukan sanr ayah.

"Ayah juga sangat merindukan mu Christenie. Kau sudah makan ?" Tanya sang ayah.

"Aku dan Nanny Lily belum makan. Tapi paman Arnold sudah menyiapkan makan siang yang lezat." Ucap sang gadis.

"Wah.... benarkah ? Sebaiknya kita harus bergegas pulang. Aku tidak ingin melewatkan makan siang yang lezat itu." Ucap sang Ayah.

"Ayo ayah... Nanny Lily ayo." Ucap sang gadis membuat ayahnya mengelengkan kepala.

Nanny Lily yang melihat itu hanya bisa tersenyum demi menjaga sikap tata krama nya yang di ajarkan ketua pelayan di rumah besar.

Nanny Lily duduk di bagian paling depan disamping supir yang membawa mobil menuju rumah besar milik keluarga Ningrum Maestro. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Selama perjalanan hanya celotehan yang terdengar dan suara tertawa yang sangat mengapresiasikan cerita milik gadis kecil itu.

Dan mereka sekarang sudah berada di rumah besar, sesampainya disana gadis kecil itu memanggil manggil nama Paman Arnold untuk menyiapkan makan siang mereka berdua. Arnold yang melihat tuan nya sudah kembali dari Tour pekerjaannya langsung memberi hormat dengan lembutnya. Dan mengiyakan permintaan Nonanya itu.

Sang ayah yang melihat anak gadisnya sangat sayang dan sopan kepada semua orang membuatnya tersenyum. Taklama kemudian makan sudah tertata rapi atas meja makan yang sangat kuno namun mewah itu. Gadis itu menyuruh semua pelayan maupun pembantunya untuk makan bersama. Senyuman sang ayah pun bertambah tak kala melihat anak gadisnya yang tidak pandang bulu tersebut.

Ketika semua sudah duduk Christenie memimpin doa makan. Setelah itu semuanya makan dalam diam. Sudah terdapat peraturan tak kasat mata yang menyatakan bahwa di atas meja makan hanya boleh terdengar suara alat makan yang berdenting.

Seelah selesai beberapa pelayan berditi dan mengambil makanan penutupa. Dan waktu di sore hari dihabiskan dengan saling melukis satu sama lain dengan kanvas dan cat warna warni yang telah di torehkan di kanvas itu. Segelas teh dan biscuit asin menemani mereka.

Dan pada akhirnya mereka akan menertawakan satu sama lainnya. Mereka saling tertawa lepas dan para pelayan maupun para Pengawal yang tidak sengaja melintas akan tersenyum tulus. Meraka sangat menyangi Nona muda dan Tuan mereka. Mereka baik tidak pandang bulu dan bergaul.

"Ayah. Ayo kita memainkan permainan TakTikBumWer." Ajak Christenie.

"TakTikBumWer permainan macam apa itu ?" Tanya sang ayah.

"Ahhh.... ayah masa tidak mengetahuinya. Itu permaian sudah lama. Bahkan Paman Victor yang memperkenalkannya pada ku." Ucap gadis itu lalu menunjukan wajah kesalnya.

"Sungguh ayah tak tau. Ayah belum setua Paman Victor sayang ingat itu." Ucap Ayahnya.

"Itu permainan yang aku singkat ayah. Tak berarti menjitak, Tik berarti mengelitik, Bum artinya memukul, dan Wer artinya Menjewer." Jelas sang gadis.

"Itu permainan kasar sanyang." Ucap sang ayah.

"Memang iya yah? Aku tak tau." Tanya gadis itu binggung.

"Iya sayang. Jangan dilanjutkan permainan itu ya sayang." Perintah halus sang ayah.

"Siap Kapten." Ucap gadis lalu memberi hormat seperti anak buah kapal kepada sang Kapten.

"Dan karena hari sudah ingin malam. Ayo membersihkan diri dan kita akan saling bertukar cerita tentang Putri putri di Disney." Ucap sang ayah yang di angguki oleh anak gadisnya.

"Lily, tolong bantu dia membersihkan diri. Harus sampai bersih, cek kuku kukunya. Dan lihat juga pada kulitnya." Ucap sang Ayah pada Nanny Anaknya

"Dadah ayah... nanti ayah kekamar ku ya." Ucap anak gadis itu.

"Ya. Anak ayah harus wangi ya." Ucap sang ayah. Sang anak hanya tersenyum dan beranjak mengambil tangan Nannynya lalu pergi dari hadapannya.

Setelah dia yakin bahwa anaknya itu sudah pergi dari hadapannya. Dia menghembuskan nafasnya pelan. Lelah yang ia rasa tadi entah pergi begitu saja setelah melihat senyum Anak gadisnya.

Lalu dia mengambil 2 lukisan kanvas dan menyuruh pelayan dengan baik untuk membereskannya. Pelayan itu segera membereskannya dengan senang. Lalu sang ayah masuk kedalam rumah menuju kamarnya. Lalu dia memajang kedua kanvasnya itu di dalam kamar tidurnya.

Jika kalian melihat kamar tidur sang Ayah pasti kalian akan terkejut. Bukan hanya ada 10-15 lukisan abstrak tetapi ada ratusan jumlahnya. Tetapi itu tidak membuat sang ayah ada niatan untuk membuang Lukisan itu.

Lalu setelah mengamati lukisan tersebut, sang ayah membersihkan diri dan tidur menuju ranjang nya yang sangat ia rindukan kedua setelah anak gadisnya. Ia memejamkan matanya. Entah sudah berapa lama ia tertidur namun ia merasakan pelukan dan hembusan nafas kecil. Ia pun memeluk erat anak gadisnya itu.

"Ayah lelah ?" Bisik Christenie.

"Tidak terlalu." Balas sang ayah.

"Ayah, ayah pasti lelah." Ucap Christenie.

"Apa mau ?" Tanya sang ayah, karena tau gelagat sang anak.

"Jika ayah pergi pergi aku ingin ikut ya."

"Mengapa ?" Tanya sang ayah.

"Aku dilarang ayah untuk sekolah, guru privat hanya datang 4 kali dalam seminggu. Selebihnya aku hanya bermain, aku kesepian ayah. Guru juga bagaikan robot. Menerangkan tanpa memperdulikan ku." Ucap sedih Christenie.

"Nanti kau kelelah, kau baru 5 tahun. Kau tidak kesepian kok. Ada Nanny Lily, Paman Arnold, Paman Victor, Paman Veron dan banyak lagi." Ucap ayah menenangkan.

"Aku sayang ayah." Ucap Christenie dengan mimik wajah mengantuk.

"Ayah lebih menyangimu lebih dari kau kira." Ucap ayah nya.

Terdengar suara dengkuran halus, sang ayah juga langsung melonggarkan pelukkannya. Besok ia baru teringat bahwa ada rapat penting yang harus ia hadiri pagi pagi sekali. Lalu diapun menepuk tepuk paha sang gadis agar makin terlelap dalam tidurnya. Setelah selesai berpikir,ia pun ikut masuk kedalam selimut dan ikut bergabung dalam mimpi yang sedang dialami oleh anaknya. Sang anak tersenyum. Dia pun mengecup kening sang anak.

●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●

"Selamat pagi ayah." Ucap sang anak ketika melihat sang ayah membuka mata.

Lalu sang anak mengecup pipi ayahnya membuat sang ayah tersenyum. Ia bangun lalu duduk. Sang anak menyodorkan air putih. Mengawali hari dengan air putih adalah hal yang baik. Itu menurut sang anak ketika ia bertanya mengapa.

"Maaf hari ini ayah ada rapat yang tidak bisa diganggu gugat." Ucap ayah dengan raut wajah yang sedih.

"Aku bisa ikut dengan ayah, aku akan membawa mainan dan Nanny Lily." Ucap dengan riang.

"Baiklah jika itu mau mu, tapi kau harus delalu berada di ruangan ayah." Perintah sang ayah dengan halus.

"Yeay... baiklah ayah, aku akan meminta tolong Nanny Lily untuk menyiapkan semua kebutuhan yang harus di bawa dan meminta Nanny Lily untuk bersiap." Ucap sang anak dengan riangnya.

Lalu sang anak berlalu menuju kamarnya dan mendengar suara teriak anaknya yang riang.

"Nanny Lily siapkan semua kebutuhan aku, kita akan menuju kantor ayah."

"Nanny Lily. Cepat, hurry up." Ucap sang anak.

Lalu sang ayah masuk kekamar mandi dan ketika mereka ingin berangkat terjadi lah.......

############

5:20pm

Monday 12 June 2017.

Gladis Bylthe

The Perfect DaddyOnde histórias criam vida. Descubra agora