Gadis bermata bulan sabit meringkuk di bangku pojok kelas. Tidak ada orang lain di sana. Tangannya gemetar. Wajahnya pucat. Ia berkali-kali mengeratkan dekapan tubuh dengan kedua tangannya. Dingin. Sendirian.
Handphone dalam ransel gadis itu berdering. Susah payah ia mengambilnya. Dengan tangan masih gemetar akhirnya ia bisa menjangkau handphone miliknya, kemudian menempelkan ke telinga. Otomatis gadis itu langsung tersambung dengan seseorang yang menghubunginya.
"Posisi Mala ada di mana sekarang?" suara di seberang terdengar khawatir.
Tidak ada respon dari Mala, gadis yang memiliki mata seperti bulan sabit itu. Ia menggigil ketakutan, tidak mampu berkata-kata.
"Dengarkan Tante, sayang. Tidak akan terjadi apa-apa. Hujan akan segera reda. Tenanglah! Ok! Tante tidak akan mematikan handphone."
Mala memejamkan mata. Ia mengembuskan nafas pelan-pelan, mencoba untuk tenang. Mala tidak perlu khawatir selama ada Tante di dekatnya. Sudah cukup menenangkan bagi Mala dengan hanya mendengar suara tantenya.
***
Berbanding jauh dengan keadaan gadis bermata bulan sabit itu, pemuda berdagu terbelah justru sedang riang membentangkan tangan di hamparan rumput taman kampus, telentang. Padahal tetesan air langit begitu deras menyapu permukaan tanah.
"Jika ditanyakan padaku, hal romantis apa yang ingin aku lakukan bersama pasangan nanti..." pemuda itu menggantung kata, memejamkan matanya. "Aku tidak akan ragu menjawab, aku ingin bisa menikmati hujan bersamanya." Ia tersenyum melanjutkan kalimatnya.
"Bersama siapa?" temannya yang juga telentang disamping pemuda itu bertanya.
Pemuda itu kembali tersenyum. "Bersama pasangan halalku."
"Lebay ah..." temannya terkekeh.
"Diamini dong, Bro. Mumpung lagi hujan nih."
Keduanya tertawa bersama.
Andi –pemuda yang memiliki dagu terbelah, berharap mimpinya bisa menjadi nyata. Hujan adalah salah satu momen yang sangat disyukuri Andi dalam hidupnya.
***
Mala merasakan tatapan tidak bersahabat Andi, satu-satunya teman kelompok Mala dalam menyelesaikan tugas wawancara di panti asuhan. Lihatlah Andi, dia tidak memperhatikan penjelasan Mala, malah bermain-main dengan pulpen di tangannya.
Mala merasa tidak nyaman dengan sikap Andi. Tapi dia bisa apa? bukan maunya pula dia satu kelompok dengan Andi. Mala menyadari betapa Andi berusaha bertukar tempat dengan teman yang lain, hanya karena dia tidak mau satu kelompok dengan Mala. Percuma, meski wajah Andi memohon, tidak ada satu pun yang bersedia bertukar dengannya.
"Kalian memang hanya berdua, tapi bukan berarti kalian akan berkhalwat. Ayolah Andi, ini tugas wawancara sekaligus observasi di tempat sosial, bukan di pantai sepi," tegas pak dosen ketika Andi mengeluhkan permasalahannya.
"Tapi, Pak..."
"Jika kamu tetap bersikeras, cari teman yang mau bertukar kelompok denganmu," pak Dosen memotong, tidak mau berdebat.
Maka sekarang duduklah Andi dan Mala di ruang perpustakaan, membicarakan rencana dan persiapan tugas mereka selama di lapangan nanti.
"Aku tahu, bukan karena aku perempuan dan kamu laki-laki, bukan itu alasan sebenarnya." Mala menundukkan kepala. Cukup baginya bicara panjang lebar namun tidak ada tanggapan berarti dari Andi. Apakah Andi tidak tahu? Mala juga tidak suka jika harus satu kelompok dengannya, apalagi hanya berdua.
"Jika kamu keberatan kita satu kelompok, kita bisa jalan sendiri-sendiri, tinggal tentukan aku dibagian mana dan kamu dibagian apa." Mala berharap usulannya dapat mencairkan suasana terlanjur canggung diantara mereka.
YOU ARE READING
Embrace Me
Short StoryKenangan itu membekas. Rasanya gadis itu sulit sekali bersahabat dengan hujan. Bersama butiran-butiran air hujan goresan luka itu kembali terkuak, menganga lebar menghantuinya.
